14Aug 2007 21 Comments3,898 pembaca
Dirgahayu Indonesia atau Dirgahayu Kemerdekaan?
Masa-masa “heroik” menuju puncak peringatan HUT ke-62 RI sudah membahana di seluruh penjuru tanah air. Kampung-kampung bertaburan bendera Merah Putih dan umbul-umbul warna-warni. Spanduk dengan berbagai slogan dan semboyan bertengger meriah di gapura masuk kampung. Nasionalisme kita yang selama ini terbang, terapung-apung, dan tenggelam akibat berbagai kesibukan tiba-tiba tersentil oleh “atmosfer” dan aroma perayaan yang begitu ramai dan meriah. Dengan tiba-tiba kita ingat Soekarno-Hatta, Jenderal Soedirman, Diponegoro, Antasari, atau sederet nama-nama pahlawan yang lain.
***
Terlepas dari munculnya sikap nasionalisme yang datang secara “tiba-tiba” itu, ada kelatahan sikap dalam penulisan spanduk yang bisa menimbulkan salah tafsir akibat penalaran yang salah. Lihatlah contoh berikut ini!
Dirgahayu Kemerdekaan RI Ke-62
Jika dicermati, ada logika yang rancu dalam slogan tersebut. Pertama, penggunaan kata “dirgahayu” yang diikuti dengan kata “kemerdekaan”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dirgahayu mengandung arti berumur panjang (biasanya ditujukan kepada negara atau organisasi yang sedang memeringati hari jadinya). Beranjak dari arti leksikal ini, maka penggunaan kata “dirgahayu” yang diikuti dengan kata “kemerdekaan” jelas tidak tepat. Bukankah yang diberi ucapan “panjang umur” itu Indonesia, bukan pada “kemerdekaan”-nya? Yang benar mestinya “Dirgahayu Indonesia” atau “Dirgahayu Republik Indonesia” yang berarti “Panjang Umur Indonesia” atau “Panjang Umur Republik Indonesia”.
Kekeliruan kedua adalah penggunaan “RI” yang diikuti dengan kata bilangan (numeralia) tingkat “ke-62″. Logikanya: Indonesia atau RI itu hanya satu. Jadi, tidak ada RI ke-2, ke-3, atau ke-62. Jika ingin menggunakan kata bilangan tingkat untuk menunjukkan usia kemerdekaan RI, ucapan yang benar adalah “Selamat HUT ke-62 RI”. Jadi, yang ke-62 itu adalah hari ulang tahunnya, bukan “Indonesia” atau “RI”-nya.
Yang sering luput dari perhatian kita juga adalah masalah penulisan kata bilangan. Dalam kaidah Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dijelaskan bahwa penulisan kata bilangan tingkat yang menggunakan angka Arab harus diawali dengan awalan ke- diikuti tanda hubung, sedangkan jika menggunakan angka romawi tidak perlu menggunakan awalan ke-. Jadi, penulisan yang benar: “Selamat HUT ke-62 RI” atau “Selamat HUT LXII RI”. Persoalannya sekarang, kita mau pilih yang mana? ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Dirgahayu Indonesia atau Dirgahayu Kemerdekaan?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (14 August 2007 @ 16:48) pada kategori Bahasa, Budaya, Diksi, Opini, Refleksi dan telah dikunjungi oleh 3,898 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Aug 04, 2011 @ 05:39:02
Dirgahayu Kemerdekaan RI ke 62.
Sepintas kalimat ini benar. Coba kita cermati. Benarkah istilah KEMERDEKAAN RI? Kapankah RI merdeka? REPUBLIK INDONESIA TIDAK PERNAH DIJAJAH BELANDA ATAU JEPANG. Yang dijajah adalah Rakyat dan Bangsa Indonesia, BUKAN Republik. Jadi, kalau mau diluruskan, katakan KEMERDEKAAN INDONESIA, KEMERDEKAAN BANGSA INDONESIA, ATAU KEMERDEKAAN RAKYAT INDONESIA. Dasar hukumnya adalah NASKAH PROKLAMASI dan PEMBUKAAN UUD 1945 ALINEA 3 DAN 4:
“Proklamasi: “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan KEMERDEKAAN INDONESIA……dst”.
PEMBUKAAN UUD 1945 Alinea 3: “Atas berkat rahmat Allah ….. maka RAKYAT INDONESIA menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.
PEMBUKAAN UUD 1945 Alinea 4: “Kemudian dari pada itu …….. maka disusunlah KEMERDEKAAN KEBANGSAAN INDONESIA……dst”.
Mari kita luruskan istilah yang kurang tepat ini. Bukan saja dari segi penggunaan Bahasa Indonesia, melainkan juga dari segi hakikat maknanya. kata Republik lahir setelah Indonesia Merdeka, sebagai bentuk negara yang dipilih oleh founding fathers bangsa Indonesia setelah terlepas dari penjajahan.
Kemerdekaan Indonesia juga perlu dipertahankan dan disyukuri. Maka penggunaan kata Kemerdekaan Indonesia bermakna agar kemerdekaan negara dan bangsa kita berumur panjang, selamanya.
Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.
Dirgahayu Republik Indonesia
Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia
Dirgahayu Rakyat Indonesia
Dirgahayu Bangsa Indonesia
Dirgahayu Negara Indonesia
Selamat HUT ke 66 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
———–gatot budi utomo, kepala puslitbang TVRI.
Jun 15, 2011 @ 13:38:46
Meskipun telat komentar, aku senang dengan tulisan ini. Aku pernah protes hal yang sama kepada temanku yang membuat spanduk untuk memperingati Kemerdekaan RI. Sayang, spanduk sudah jadi. Semoga tahun depan tidak terjadi lagi.
Aku jadi berpikir, masalah kecil seperti ini saja banyak orang gak mau tahu, apalagi anak SMP saat menghadapi ujian Bahasa Indonesia, hahaha.
Sep 18, 2010 @ 21:10:09
Tidak masalah kita mau pilih yang mana, yang penting adalah arti dari Kemerdekaan itu sendiri. Ditunggu kunjungan dan komentarnya juga di postingan blogku http://kwangkxz2010.blogdetik.com/2010/09/11/bersyukur/
Terimakasih.
Sep 19, 2010 @ 02:08:01
kalau dari sudut pandang bahasa, tetep diperlukan pilihan kata yang benar, mas, hehe …
Jul 20, 2010 @ 11:19:02
Secara thema dan arti harfiah slogan (yg dikumandangkan tiap tahun) Dirgahayu Indonesia memang yang benar dan seharusnya.
Namun dimasa sekarang dimana kemerdekaan masih merupakaan angan-angan (merdeka dari miskin, merdeka dari korupsi, merdeka dari buruknya birokrasi, merdeka berasasi tanpa intimidasi kelompok etnik dan sekular tertentu) maka DIRGAHAYU KEMERDEKAAN masih sangat relevan…Panjang Umur Kemerdekaan..
Jul 20, 2010 @ 17:01:59
setuju banget, mas ukee. meski kemerdekaan secara utuh belum bener2 bisa terwujud, gema dirgahayu memang perlu terus dikumadangkan buat bangsa kita.
May 03, 2010 @ 14:45:07
Di sore hari iseng – iseng buka – buka blog bapak … baik dari Bahasa sampe ke Sitemap …
tetapi saya tertarik dengan topik ini pak … wah Bapak sudah lama sekali ngeblognya … saya baru kurang lebih 4 bulan aja pak …
Bapak menjadi panutan bagi saya … mohon bimbingannya selalu pak ..
May 08, 2010 @ 00:18:55
hehe … sampai sedetil itu mas bayu mencari-cari tulisan di blog ini, hehe … baru 4 bulan saja mas bayu dah mampu mengelola blog berdomain sendiri. mantab.
Aug 14, 2009 @ 09:48:06
Q,sdh baca s”mua,Q,Salut& terharu:):)
Mar 02, 2009 @ 18:42:49
Puisi juga dunk, biar seru!
Baca juga tulisan terbaru Rabetsa Kariono berjudul Cinta
Mar 04, 2009 @ 00:27:44
@Rabetsa Kariono,
walah, puisi? sungguh, saya ndak bisa bikin puisi, mas kariono, hehehe …..
Aug 18, 2007 @ 02:47:22
dah lama ga nulis puisi
———————
Sekali-kali memang perlu bikin postingan puisi, Bung. Biar ada variasinya, gitu loh, he3x.
Aug 17, 2007 @ 06:53:17
Kalau kesalahan sudah meluas, sepertinya kamus bahasa Indonesianya yang harus ‘disesuaikan’ deh…. hehehehe….
Saya juga punya contoh2 dalam bahasa asing di mana, kesalahan2 karena sudah meluas akhirnya dapat ‘diterima’.
Contohnya:
Dalam bahasa Perancis le smoking diambil dari bahasa Inggris smoking jacket atau tuxedo, yang artinya dalam bahasa Indonesia mungkin adalah jas/jaket yang biasanya dipakai untuk pesta makan malam, biasanya habis makan malam banyak di antara prianya yang menghisap pipa, makanya disebut smoking jacket. Kalau dalam bahasa Inggris, smoking adalah berasap atau merokok, yang tentu salah kaprah. Namun karena orang Perancis sudah banyak yang terlanjur menyebutnya le smoking, maka akhirnya dibenarkan dan diresmikan sebagai kata dalam bahasa Perancis yang artinya smoking jacket dalam bahasa Inggris.
Begitu pula dalam American English di mana, banyak huruf dihilangkan seperti contoh color, maneuver, esthetics, dsb. Di mana seharusnya adalah colour, manoeuvre, aesthetics, mula2nya adalah kesalahan eja, namun karena sudah menjadi kebiasaan orang Amerika, maka akhirnya kesalahan2 tersebut diterima sebagai bagian dari American English.
Dan banyak contoh lainnya…..
——————-
Setuju banget Bung Yari. Bahasa Indonesia memang harus bersikap luwes dalam menghadapi perubahan. Harus ada dinamika agar Bhs. Indonesia tidak berada di puncak menara gading yang justru asing bagi penuturnya. Mengapa harus repot-repot mencari padanan istilah asing kalau padanannya sendiri justru tidak komunikatif dan susah dimengerti. Tentang hal ini juga bisa dibaca DI SINI.
Aug 16, 2007 @ 06:16:35
Merdeka!!!
Hmmmh, saya baru tahu …, pantesan saya suka lihat banyak perbedaan-perbedaan penggunaan kata "dirgahayu".
Sekarang saya jadi tahu….
Terimakasih pak, bikin saya tambah semangat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Merdeka!!!
————
Merdekaaaaa, Pak! Teriaknya lebih kenceng nih, Pak!
Aug 16, 2007 @ 01:26:27
wah…analisis kata nya luar biasa, kebetulan saya juga suka nulis nih, bisa jadi masih banyak kata atau kalimat yang luput dari perhatian, seperti kalimat salah satu, banyak perdebatan tentangnya…benderanya bagus..merdeka
—————
Jadi ge-er nih! Ntar blognya saya kunjungi. Makasih silaturahminya. Merdeka!
Aug 15, 2007 @ 21:38:14
He3, sudah saya baca semua.Salut sama bapak.
Trim's
———-
Wah, jadi ge-er nih. Trims ya?
Aug 15, 2007 @ 20:58:57
kalau dicermati ini mirip dengan " SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI", yang notabene ID adalah hari raya
Bangkitlah Indonesia ku
——————-
Ho-oh merdeka!
Aug 15, 2007 @ 20:00:03
Merdeka !
Wah,wah… Kalau tidak membaca tulisan ini bisa-bisa saya ikut salah juga.Bapak guru bahasa Indonesia ya ? Jadi ingin belajar lebih banyak tentang bahasa Indosesia nih.
trim's.
————
Tentang aku kan bisa dibaca di sini, he3x. Merdeka!
Aug 15, 2007 @ 07:37:41
minta izin di-trackback, ya?
—————-
Trim's Bung Alex. Postingan mengenai penggunaan istilah "dirgahayu" bisa dilacak juga di sini!
Aug 15, 2007 @ 07:24:50
MERDEKA…!!!!
Agustusan Sekarang Kira2 saya Lomba Karung dapat Juara Tidak Ya…???
————————-
Pasti juara!!! Daftar aja untuk Kelompok TK, ha..ha… Merdeka!!!
irresponsible alex anthem
Aug 15, 2007 @ 00:46:49
62 Usianya 69 Angkanya
*klik untuk memperbesar*
Angka 69 itu memang angka yang aneh…
Di Wikipedia yang konon selalu benar angka 69 itu bisa berarti banyak hal. Bisa judul sebuah novel karya Ryu Murakami – yang juga menjadi judul film dari novel yang sama – atau hanya…