Sang Bunga Layu Sebelum Mekar

(Ini hanya sekadar “ngrumpi” dan fiktif belaka. Kalau ada kesamaan nama, itu hanya kebetulan semata).

Dada Pak Warsam serasa terbakar. Panas, nyeri, dan perih. Pandangan matanya berkunang-kunang. Napasnya sesak dan berat. Tengkorak kepalanya terasa pening. Nyut-nyutan. Sudah hampir satu jam lelaki tambun itu termangu di sudut tempat tidur. Bu Warsam ketar-ketir. Dengan perasaan ragu yang menyelinap di rongga dada, perempuan bertubuh sintal itu berusaha menghibur dan ngereh-ereh guru laki-nya itu.

“Sudahlah, Pak, jangan terlalu dipikirkan! Tidak baik buat kesehatan Bapak. Mungkin itu sudah menjadi garis nasib anak kita.”

Pak Warsam tetap membisu. Benaknya menerawang. Tampaknya, pegawai pemda yang cukup disegani itu belum bisa menerima kenyataan pahit yang menimpa anak gadisnya yang bunting sebelum menikah. Ibarat bunga, anak gadisnya telah layu sebelum mekar. Berkali-kali, ia menangkupkan jari-jari tangan ke raut wajahnya yang mendung. Bu Warsam bergeser dari tempat tidur, mendekati suaminya.

“Zaman sudah berubah, Pak! Toh, mungkin bukan hanya anak kita saja yang mengalami. Banyak juga gadis lain yang bernasib sama!” Tiba-tiba saja, telinga Pak Warsam seperti disengat kalajengking mendengar kata-kata istrinya. Jidatnya yang licin berkiat-kilat ditimpa sinar lampu 25 watt. Bola matanya membelalak. Dia bangkit dari duduknya, lantas memberondong istrinya dengan pepatah-petitih panjang lebar.

“Iblis mana yang telah menuntun pandangan Ibu seperti itu. Zaman boleh berubah, tapi yang namanya moral, etika, sopan santun, budi pekerti, harus tetap dijunjung tinggi. Kita ini orang Timur, Bu! Hanya orang gila yang memaklumi kehamilan anak gadisnya tanpa suami!”

“Emmm …. maksudku, kenyataan itu sudah telanjur menimpa anak kita, Pak! Tidak ada gunanya terus-terusan disesali. Yang penting sekarang, segera kita carikan jalan keluarnya!”

Gimana kalau kandungan itu digugurkan saja?” Kali ini gantian gendang telinga Bu Warsam yang mendesing-desing. Tersentak.

Sampeyan jangan keblinger, Pak! Jangan menambah dosa! Janin dalam kandungan Tarti itu suci-bersih. Jangan sampai kita jadi pembunuh hanya demi membungkus aib! Dosa, Pak, dosa!” Usai berkata demikian, Bu Warsam berjingkat keluar kamar sambil membanting pintu. Pak Warsam tergeragap. Tampaknya, istrinya benar-benar marah. Pak Warsam termangu. Wajahnya berkabut. Detak jatungnya melebihi kecepatan dengus napasnya yang sesak. Pikirannya benar-benar buntu. Di layar benaknya tiba-tiba berkelebat bayangan teman-teman sekantornya yang sinis memandangnya. Pada saat lain, muncul bayangan Trajang, pacar anaknya, yang diduga telah berbuat tak senonoh. Pemuda sundal yang belum tamat kuliah itu seperti tengah menari-nari, menginjak-injak kepalanya. Kehormatan dan martabatnya sebagai orang terhormat dan disegani seolah-olah telah hancur. Ingin rasanya dia menghajar pemuda brengsek itu. Kalau mau, bukanlah hal yang sulit bagi dia untuk melakukannya. Pada zaman yang serba sulit seperti sekarang, amat mudah menemukan para preman yang tega membunuh demi uang puluhan ribu.

***

Jam kantor. Pada saat-saat seperti ini, biasanya Pak Warsam duduk di belakang meja, menandatangani setumpuk berkas yang disodorkan para stafnya. Tapi, kali ini kursi itu kosong. Di atas meja, tumpukan stofmap menggunung tak tersentuh. Para pegawai yang berpakaian dinas lengkap dengan atribut resminya hanya bisa geleng-geleng kepala. Entah dari mana sumbernya, tiba-tiba saja aib yang menimpa keluarga Pak Warsam tercium juga oleh mereka.

“Kasihan Pak Warsam, orang terhormat tapi gagal mendidik anak!” seloroh seorang staf berkaca mata minus. Pegawai yang lain saling berpandangan.

“Pergaulan anak sekarang memang sudah kebablasan. Sesuatu yang sakral, kini telah dianggap barang remeh! Perkawinan hanya dipahami sebatas surat nikah, telah kehilangan makna yang sesungguhnya,” sahut seorang pegawai perempuan disambung komentar miring dari mulut para abdi negara yang lain. Sesekali mereka juga mengobral pergunjingan tentang tabiat Pak Warsam yang kabarnya suka berselingkuh dengan perempuan lain.

Mereka baru kelimpungan ketika tiba-tiba dari balik pintu muncul lelaki separo baya bertubuh tambun yang baru saja dipergunjingkan. Buru-buru, mereka menunduk hormat sambil tersenyum. Pak Warsam bersikap cuek dan dingin, lantas menerobos ruang kerjanya sambil menutup pintu rapat-rapat. Para pegawai saling bertatapan.

Di ruang kerjanya yang dingin ber-AC, Pak Warsam merasa gerah. Berkali-kali, jemarinya mengusap-usap keringat dingin yang mencair di jidatnya. Pikirannya benar-benar kalut. Baru saja ia bertemu Pak Robani, sejawatnya sejak SMA. Kepada lelaki kurus-jangkumg itulah dia sering meminta nasihat.

“Pendapat istrimu benar, Sam. Terlepas bagaimana prosesnya, yang jelas anakmu Tarti telah diberi karunia Tuhan, seorang khalifah di bumi. Sungguh berdosa bagi mereka yang menyia-nyiakannya!” tutur Pak Robani. Pak Warsam belum bisa memahami sepenuhnya makna kata “karunia” di balik aib yang menghajar keluarganya.

“Coba bicaralah baik-baik sama calon besan dan menantumu. Ajaklah mereka rembugan. Dan ingat, Sam, jangan sekali-kali menggunakan cara kekerasan,” lanjut Pak Robani dengan pancaran wajah penuh kearifan.

Pak Warsam tergeragap ketika gendang telinganya menangkap suara ketukan pintu. Ketika dia mempersilakan masuk, dilihatnya empat orang staf dengan santun menyodorkan setumpuk stofmap yang berhari-hari tak disentuh. Buru-buru Pak Warsam membenarkan posisi duduk layaknya seorang kepala bagian; tenang dan wibawa. Dengan cepat, alat tulisnya menari-nari di atas kertas yang terketik rapi.

***

Setiba di rumah, Pak Warsam terkejut menyaksikan pelataran rumahnya penuh dengan mobil yang berjajar rapi. Dengan dada dipenuhi tanda tanya, kakinya melangkah berat saat memasuki rumah. Lelaki tambun itu tersentak ketika bola matanya menatap belasan tamu tak dikenal, lantas mengajaknya berjabat tangan. Dengan sikap kaku dan senyum hambar, Pak Warsam membalas sikap hormat para tamunya.

Bola mata Pak Warsam berkaca-kaca menyaksikan Tarti dan Trajang dengan bersikap takzim melakukan sungkem. Dia baru mengerti ketika istrinya mengatakan bahwa orang tua Trajang telah melakukan lamaran secara resmi. Tanpa disadari rasa haru pelan-pelan menyelusup ke dalam lorong dadanya. Kabut yang berhari-hari menyelimuti wajahnya pun sirna. Namun, Pak Warsam akan lebih merasa bahagia seandainya lamaran itu dilakukan jauh-jauh hari sebelum rahim anak gadisnya ditaburi benih kejantanan Trajang. Tapi, apa boleh buat! ***

ooo

Keterangan: Gambar diambil dari sini.

Tulisan lain yang berkaitan:

Mudik, Kekerabatan Sosial, dan Citra Diri (Tuesday, 23 August 2011, 1,151 pembaca, 59 respon) Mudik telah menjadi semacam “ritual”. Lebaran (nyaris) kurang meriah jika “ritual” mudik hilang dari ruang-ruang sosial di negeri ini....
Ketika Kang Putu Mengkritisi Fenomena Zaman Edan (Monday, 9 May 2011, 850 pembaca, 16 respon) Beberapa waktu yang lalu, usai seminar “Pengajaran Sastra, Kurikulum, dan Kompetensi Guru Bahasa” di Unnes (Minggu, 10 April 2011), saya...
Resolusi 2011: Jadikan Korupsi sebagai Musuh Bersama (Saturday, 1 January 2011, 1,245 pembaca, 79 respon) Ibarat naik menara, dua kaki kita saat ini sudah berada di anak tangga yang baru. Namun, jejak-jejak kaki kita di tangga sebelumnya masih begitu...
Menuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 4,347 pembaca, 75 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan...
Prostitusi Pelajar dan Beban Sosial Bangsa (Saturday, 28 February 2009, 4,564 pembaca, 116 respon) Berita “Metropolitan” Kompas (27/2/2009, halaman 27) sungguh menyentakkan nurani kita. Sebuah jaringan prostitusi yang ”menjual” pelajar SMP...
tentang blog iniTulisan berjudul "Sang Bunga Layu Sebelum Mekar" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (16 February 2008 @ 23:21) pada kategori Refleksi dan telah dikunjungi oleh 1,108 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini: