Mereka adalah Anak-anak yang Memiliki Dunianya Sendiri

Masih ingat lirik Kahlil Gibran yang menyentuh dan mengharukan itu? Coba simak saja deh!

Anakmu Bukan Anakmu

Anakmu bukan anakmu
Mereka putra putri yang rindu pada diri sendiri
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kauberikan rumah untuk raganya,
tapi tidak untuk jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat boleh kaukunjungi sekalipun dalam impian.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun, jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah
anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaan-Nya,
hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap. ***

Bandingkan juga “petuah” Dorothy Law Nolte berikut ini!

Dari Lingkungan Hidupnya Anak-anak Belajar…

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar menentang.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar jadi penyabar.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia akan terbiasa berpendirian. ***

Kenapa tiba-tiba berbicara soal anak? Yap, anak-anak merupakan bagian dari sebuah siklus kehidupan sebelum mereka akrab dengan peradaban yang menyentuhnya. Mereka memiliki sebuah dunia yang “mandiri” dan “otonom”. Mereka memiliki kebebasan dan kemerdekaan untuk mengekspresikan naluri dan dunianya. Ketika kemerdekaan mereka dirampas, sama saja kita telah berbuat “biadab” kepada mereka; anak-anak zaman yang kelak akan menorehkan tinta sejarah yang memfosil dalam labirin kehidupan.

(Wakakaka … ini anak saya ke-3 yang biasa bermain-main dengan benda-benda “murahan” yang selalu *halah* diakrabinya. Gambar diambil ketika sekitar rumah dikepung banjir, sehingga “malaikat kecil” itu lebih suka mengekspresikan diri dengan benda-benda bututnya).

(Gambar ini diambil 4 bulan yang silam ketika dia siap-siap mengikuti lomba drum-band bersama teman-teman sekelasnya yang duduk di TK 0 besar. )

Postingan ini juga saya persembahkan buat Mas Samsul, bloger dari Ngawi, yang sedang berbahagia menyambut kelahiran putri pertamanya yang cantik dan imut-imut pada hari Sabtu, 16 Februari 2008 pukul 09.55 WIB yang lalu. Alhamdulillah, semuanya lancar dan sehat. Jadi ikut senang dan bahagia, hehehe :lol: Semoga, kelak bidadari jelita itu menjadi putri yang salehah, taat beribadah, berbakti kepada kedua orang tua, berguna bagi nusa, bangsa, negara, dan agama, amiin. *Halah, ungkapan klasik* BTW, sudah dapat nama yang bagus buat putrinya belum, Mas Sam? Ok, selamat menjadi ayah yang baik bagi putri tersayang dan suami yang setia kepada dua istri tercinta.

Lirik Kahlil Gibran dan “petuah” Dorothy Law Nolte itu bagus juga loh untuk mendidik dan mengarahkan anak-anak kita agar menjadi anak-anak kehidupan yang sesungguhnya. ***

Tulisan lain yang berkaitan:

Mudik, Kekerabatan Sosial, dan Citra Diri (Tuesday, 23 August 2011, 1,151 pembaca, 59 respon) Mudik telah menjadi semacam “ritual”. Lebaran (nyaris) kurang meriah jika “ritual” mudik hilang dari ruang-ruang sosial di negeri ini....
Ketika Kang Putu Mengkritisi Fenomena Zaman Edan (Monday, 9 May 2011, 850 pembaca, 16 respon) Beberapa waktu yang lalu, usai seminar “Pengajaran Sastra, Kurikulum, dan Kompetensi Guru Bahasa” di Unnes (Minggu, 10 April 2011), saya...
Resolusi 2011: Jadikan Korupsi sebagai Musuh Bersama (Saturday, 1 January 2011, 1,245 pembaca, 79 respon) Ibarat naik menara, dua kaki kita saat ini sudah berada di anak tangga yang baru. Namun, jejak-jejak kaki kita di tangga sebelumnya masih begitu...
Menuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 4,346 pembaca, 75 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan...
Virtual Host Berbasis Open Source untuk Pembelajaran Interaktif dan Mencerdaskan (Monday, 19 October 2009, 2,658 pembaca, 140 respon) Selama dua hari (Sabtu dan Minggu, 17-18 Oktober 2009), saya mengikuti pelatihan “Pembelajaran Internet Berbasis Open Source Tanpa Internet” di...
tentang blog iniTulisan berjudul "Mereka adalah Anak-anak yang Memiliki Dunianya Sendiri" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (20 February 2008 @ 00:28) pada kategori Budaya, Opini, Refleksi, Sastra dan telah dikunjungi oleh 1,080 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini: