Kritik Model “Wayang Slengekan”

Ketika saya memosting pernak-pernik seputar dunia “Wayang Slengekan” –kalau boleh saya menyebutnya demikian untuk menampilkan kesan nakal, mbeling, atau konyol– di blog ini, banyak respon menarik dari teman-teman bloger dan para pengunjung. Hal itu bisa dilihat dari beberapa komentar yang muncul. Sebagian besar mengikuti style postingannya yang kenes, mbeling, nakal, dan slengekan. Hal ini menandakan bahwa dunia pakeliran wayang belum mati. Apalagi, setelah jagad pakeliran wayang purwa sering digelar di beberapa stasiun TV. Makin banyak saja orang yang mulai melirik dunia wayang purwa. Sebagai hiburan sekaligus juga memenuhi rongga nurani dengan berbagai asupan dan “gizi batin” yang mencerahkan.

Nah, dalam “Wayangan Slengekan”, saya sengaja mengangkat isu-isu mutakhir yang dalam pakem pewayangan mustahil ditemukan. Di sini, saya bebas mengangkat beragam tema. Ada cinta, moral, ekonomi, demokrasi, hukum, nasib rakyat, arogani penguasa, bahkan juga persoalan-persoalan politik kontekstual. Dalam konteks demikian, saya bisa memiliki kesempatan secara imajinatif untuk memosisikan setiap tokoh dalam dunia pewayangan menjadi tokoh-tokoh riil yang ada dalam kehidupan kontemporer masa kini dengan menampilkan karakter tokoh mulai di tingkat grass-root hingga mereka yang berada dalam lingkaran elite kekuasaan. Dengan kata lain, raganya saya meminjam epos Mahabharata atau Ramayana, tetapi rohnya adalah karakter orang-orang yang ada di sekeliling kita.

Lantas, sebenarnya di manakah letak keunikan “wayang slengekan” ini? Sekadar latah, unjuk kekenesan, tumpahan rasa tidak puas terhadap situasi dan kondisi zaman, atau sikap frustrasi lantaran tidak ada media yang tepat untuk menumpahkan berbagai kritik? Wew… pertanyaan ini sebenarnya lebih layak dijawab oleh pembaca. Pembacalah yang pantas menilai kehadiran “wayang slengekan” di blog ini.

Meski demikian, secara pribadi, saya bermimpi untuk bisa menggapai dua fungsi substansial melalui “wayang slengekan” ini. Pertama, fungsi introduksi seni wayang kepada para pembaca. Kedua, fungsi kritik untuk menciptakan suasana keterbukaan di tengah mampatnya saluran kritik resmi, sehingga memicu munculnya media kritik alternatif. Ini artinya, “wayang slengekan” bisa saya jadikan sebagai “corong” untuk melontarkan kritik konstruktif secara tidak langsung dengan mengambil latar dunia pewayangan.

Jujur saja, saya sering mengalami kesulitan ketika meracik “wayang slengekan” ini kepada pembaca. Saya tidak cukup hanya membaca dan memahami lakon alias cerita dalam pakem pewayangan pada setiap momen dan peristiwa, tetapi juga harus banyak belajar bagaimana melontarkan seni kritik. “Kena iwake naging aja nganti buthek banyune” (Kena ikannya, tetapi tidak sampai membuat air jadi keruh). Dengan cara yang demikian itu, saya berharap “wayang slengekan” tidak akan terjebak pada situasi yang hanya sekadar mengumbar kritik, kenes, atau sekadar tumpahan rasa frustrasi terhadap kondisi zaman. Esensi “wayang slengekan”, dalam pandangan awam saya, memang sekadar “guyon pari kena”; mengkritik tanpa menyakiti, sehingga bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi pembaca. Nah, ternyata memang bukan persoalan yang gampang.

Menyimak beberapa lakon “wayang slengekan” yang tergelar di blog ini memang sangat berbeda dengan rubrik pewayangan yang sudah ada di beberapa media, apalagi jika harus dibandingkan dengan pakeliran wayang yang sesungguhnya. Di berbagai media, rubrik-rubrik dunia pewayangan dikemas dengan lebih menonjolkan penampilan nilai filosofis yang terkandung di balik setiap lakon. Alur cerita, gaya bahasa, atau substansi isi ceritanya masih “pakem minded“.

Nah, “wayang slengekan” memang saya harapkan *halah* tampil beda. Bahasanya dikemas santai, gado-gado, dan tidak baku dengan konteks kekinian. Pakem wayang menjadi urusan nomor dua. Saya lebih terfokus untuk memilih isu-isu hangat dan aktual yang tengah berkembang di tengah masyarakat, baru kemudian masuk ke dalam bingkai pakem. Sangat masuk akal jika di pentas “wayang slengekan” ini muncul tokoh presiden, jenderal, menteri, profesor, peneliti, selebritis, atau tokoh-tokoh muda yang dalam pentas kehidupan masyarakat memang memiliki peran dalam ikut berkiprah mengendalikan dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengan desain “pakeliran” semacam itu, saya berharap “wayang slengekan” bisa membuka kemungkinan untuk menyuarakan kebebasan berpendapat atau melontarkan kritik dan opini, tanpa berpretensi untuk “menelanjangi” seseorang atau kelompok tertentu.

Selain itu, “wayang slengekan” juga ingin menaburkan “gosip” bahwa karakter orang semacam Sengkuni yang julig dan culas telah menjelma ke dalam sosok “Sengkuni-sengkuni” baru. Atau, bisa jadi sosok cendekiawan semacam Begawan Dorna yang rela “menjual” kebenaran demi kepentingan penguasa sudah bertaburan di sekeliling kita. Nah, bagaimana? ***

oOo

Keterangan:

Gambar diambil dari sini.

Tulisan lain yang berkaitan:

Di Balik Kematian Muammar Khadafi (Friday, 21 October 2011, 1,938 pembaca, 32 respon) Apa respon dunia begitu mendengar kematian Muammar Khadafi? Ya, ya, selalu saja muncul dua sikap yang kontras; empati atau antipati, di balik...
Mudik, Kekerabatan Sosial, dan Citra Diri (Tuesday, 23 August 2011, 1,157 pembaca, 59 respon) Mudik telah menjadi semacam “ritual”. Lebaran (nyaris) kurang meriah jika “ritual” mudik hilang dari ruang-ruang sosial di negeri ini....
FLS2N 2011 dan Wajah “Indonesia Mini” di Makassar (Sunday, 26 June 2011, 3,085 pembaca, 39 respon) Selama sepekan (19-25 Juni 2011), kota Makassar mendadak bagaikan “magnet” yang mampu menyedot animo ribuan insan pendidikan untuk beramai-ramai...
Alam Takambang Jadi Guru dan Kecerdasan “Paripurna” (Monday, 23 May 2011, 2,142 pembaca, 41 respon) Alam Takambang Jadi Guru! Pepatah Minang itu telah menginspirasi dunia. Kita kembali diingatkan akan nilai kearifan lokal yang sudah lama dilupakan...
Seni Ketoprak di Kendal “Mati Suri”? (Tuesday, 17 May 2011, 1,454 pembaca, 51 respon) Sabtu, 14 Mei 2011 (pukul 19.00 s.d. selesai), saya berkesempatan mengikuti dua event kesenian dan kebudayaan sekaligus, yakni Musikalisasi Puisi...
tentang blog iniTulisan berjudul "Kritik Model “Wayang Slengekan”" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (17 April 2008 @ 12:03) pada kategori Budaya, Refleksi dan telah dikunjungi oleh 1,409 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini: