12Feb 2009 171 Comments7,164 pembaca
Politik, Demokrasi, dan Anarki
Dinamika politik dan demokrasi di negeri ini, dengan nada sedih harus dikatakan, (hampir) tak dapat dipisahkan dari anarkisme. Sebagai sebuah aliran, anarkisme merupakan teori politik yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa hirarkis (baik dalam politik, ekonomi, maupun sosial). Para Anarkis berusaha mempertahankan bahwa anarki, ketiadaan aturan-aturan, adalah sebuah format yang dapat diterapkan dalam sistem sosial dan dapat menciptakan kebebasan individu dan kebersamaan sosial. Anarkis melihat bahwa tujuan akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya. Atau, dalam pandangan Bakunin dikenal melalui adagium: “kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidakadilan, dan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan”.
Dalam sejarahnya, kaum anarkis dengan berbagai gerakannya kerapkali menggunakan kekerasan sebagai metode yang cukup ampuh dalam memperjuangkan ide-idenya, seperti para anarkis yang terlibat dalam kelompok Nihilis di Rusia era Tzar, Leon Czolgosz, grup N17 di Yunani. Bahkan, dalam menjalankan aksinya, para anarkis di Spanyol selalu meneriakkan slogan: “Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan”. (Wikipedia).
Disadari atau tidak, praktik anarkisme itu pun sudah mulai menggerus nilai-nilai kesejatian diri kita yang telah lama dikenal sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat. Dalam menggapai ambisi dan tujuan, tak jarang cara-cara anarki menjadi siasat jitu untuk memaksakan kehendak kepada pihak lain melalui cara-cara purba yang jauh dari nilai-nilai kesantunan. Kelompok dan perserikatan sudah dikendalikan oleh aksi-aksi kerumunan yang lebih mengedepankan okol ketimbang akal-budi. Maka, hancurlah fatsun kehidupan bangsa kita yang sudah lama dikagumi dunia dan berabad-abad lamanya menyandang predikat sebagai bangsa Timur yang santun. Bangsa kita tak lagi ramah. Yang tampak dalam berbagai kerumunan adalah pedang, pentungan, parang, atau peti mati. Slogan-slogan yang diteriakkan tak jauh berbeda dengan idiom-idiom kekerasan yang acapkali dikumandangkan oleh para pengikut anarkisme di Spanyol.
Persoalannya sekarang, mengapa negeri kita yang sudah lama dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi bisa demikian mudah tereduksi oleh unsur-unsur anarkisme dalam ranah politik dan demokrasi? Mengapa banyak orang yang bisa demikian mudah mengatasnamakan demokrasi dengan menggunakan cara-cara anarkis dalam menggapai tujuan dan ambisi?
Secara teoretis, anarki bisa dibilang sebagai reaksi terhadap merebaknya nilai-nilai kapitalisme yang berupaya menihilkan entitas sosial sebagai prinsip kebersamaan dalam hidup dan kehidupan. Dalam prinsip kapitalisme, nilai-nilai individualisme menjadi demikian kuat dan dominan sehingga dikhawatirkan akan membunuh “roh” sosial sebagai salah satu ciri paguyuban masyarakat secara komunal. Dalam upaya membendung gerakan kapitalisme, para pengikut anarkisme berupaya menggunakan aksi kerumunan dengan mengedepankan nilai-nilai solidaritas dan kebersamaan. Namun, dalam perkembangannya, ajaran anarkisme dianggap telah jauh berubah menjadi ajaran “sesat” yang menghalalkan darah sesamanya. Melalui aksi kerumunan, mereka berupaya menciptakan situasi “anomali” dan chaos sehingga tujuan yang mereka harapkan bisa terwujud.
Anarkisme yang menggunakan jalan kekerasan pun tak jarang menyusup ke dalam pori-pori politik dan demokrasi di negeri ini. Lihat saja berbagai aksi kerumunan yang mengatasnamakan demokrasi yang tergelar di atas panggung sosial kita. Ibarat sebuah adegan teater, mereka bisa demikian mulus menjalankan peran sebagai algojo-algojo demokrasi yang tak henti-hentinya berteriak, menghujat, dan meneriakkan yel-yel pemaksaan kehendak yang tampil melalui ekspresi wajah yang beringas dan liar. Sifat-sifat individualistik mereka telah melebur ke dalam karakter kerumunan yang bengal dan tak terkendali. Demikian juga dalam berbagai aksi politik yang dengan sengaja membangkitkan sentimen-sentimen kelompok untuk mendapatkan simpati publik. Massa dan kerumunan telah berubah menjadi “penguasa” dadakan yang bisa demikian mudah melakukan tekanan dan aksi-aksi vandalistis.
Sungguh disayangkan kalau ranah politik sebagai seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan harus ternoda oleh aksi-aksi anarki dengan mengatasnamakan demokrasi yang dikendalikan melalui massa dan kerumunan. Berserikat dan berkumpul memang menjadi hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi. Namun, sungguh naif kalau lantas dimanfaatkan oleh segelintir orang atau kelompok guna menggapai ambisi kekuasaan tertentu dengan menjadikan darah dan nyawa sebagi tumbalnya. Dengan dalih dan motif apa pun penggunaan aksi massa dan kerumunan yang mengandung aroma fasisme dan anarkisme, sungguh, tak bisa ditolerir. ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Politik, Demokrasi, dan Anarki" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (12 February 2009 @ 02:20) pada kategori Politik, Refleksi dan telah dikunjungi oleh 7,164 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Aug 10, 2011 @ 12:13:52
Memang orang2 sekarang tidak bisa menyelesaikan masalahnya
dengan kepala dingin,,,…
Padahal kalau saja mereka itu bisa mengendalikan emosinya ,,,
pasti sekarang juga tidak akan ada kejadian seperti pengeboman lach,
penyiksaan dalam RT ,DLL..
Jul 15, 2011 @ 11:23:45
Tips dan Info yang menambah wawasan dalam dunia.saya jadi ingin mencoba.salam sukses
Jul 20, 2010 @ 14:50:55
cukup heran juga dengan orang-orang yang berpikiran mau nya selalu anarkis.
padahal setiap persoalan bisa di selesaikan dengan baik-baik jika dikomunikasikan dengan baik
Nice posting bang
Jul 20, 2010 @ 17:04:03
itu dia, bos, yang jadi masalah. kalau ada cara yang lebih damai, kenapa juga pakai jalan kekerasan, yak?
Dec 15, 2009 @ 15:25:03
coba baca lebih tentang metode anarkisme bung. lebih luas dan g subjektif.. trus buat bung yang menilai orde baru lebih bagus dari sekarang,, masa iya sih bung? kita dibungkam bung, bahkan menulis atau berbicara tentang kemiskinan dan pertentangan kelas saja kita uda dianggap pembangkang. masalahny pada saat orba, pemerintah bergerak sangat lihai, menutup mulut setiap warga yang kira-kira dianggap membangkang. media pada saat itu juga di intervensi oleh pemerintah, dijadikan alat propaganda dan mesin-mesin pendukung pemerintah dalam segala hal. media menyiarkan berita yang dimaui pemerintah saja, bahkan media mebuat berita bohong demi menegakkan kekuasaan yang ada. ada protes juga pada saat itu tapi dilenyapkan, ada aksi massa juga sampai pada tindakan brutal (bukan anarki, tolong jgn pakai kata ini) tapi dibungkam oleh tindakan militer, mahasiswa pun di normalisasikan melalui Unit kegiatan Mahasiswa. sekali lagi anarkisme bukan sifat brutal atau aksi merusak. dia adalah paham anti hirarki. salam
Dec 19, 2009 @ 00:53:08
terima kasih masukannya, mas. saya tdk mengatakan bahwa orba lebih bagus dari sekarang. saya hanya ingin memberikan sebuah ilustrasi bahwa maraknya kekerasan yang terjadi pascareformasi bisa menjadi sebuah preseden dan memberikan pencitraan yang kurang bagus buat rakyat seolah2 hidup di era reformasi justru jauh lebih buruk ketimbang ketika orba berkuasa kalau kekerasan itu terus terjadi.
Dec 23, 2009 @ 15:55:02
@Sawali Tuhusetya, ok kawan sawali, benar juga, tapi mari kita lihat akar masalahnya juga, kekerasan marak terjadi karena apa? ada ketidakpuasan dari masyarakat (kalo kekerasan itu dari masyarakat) apa pemerintah uda slesein tanggungjawabnya sebagai pelayan? sedangkan kekerasan yang marak akhir2 ni juga lebih banyak dan lebih kejam dilakukan oleh aparat (polisi, satpol pp, brimob) lebih kejam dan tak tersentuh hukum, kalo iya pun, mereka tetap dilegalkan dengan istilah “itu bukan dari instansi, itu oknum aparat”.. bah. masyarakat sekarang bebas menilai, pascareformasi ini kejahatan sistem tidak lagi terselubung, dia terbuka dan merajalela dan dibantu oleh hukum. otoritas negara dalam bentuk apapun tetap sama, membagi-bagi kelas masyarakat dan membuat jurang dalam, salam bung,, blogx tetap bagus
.-= Baca juga tulisan terbaru anarcho berjudul "Nyanyian-nyanyian Binatang di Negeri Manusia" =-.
Dec 25, 2009 @ 15:36:46
salam juga, bung, terima kasih masukan dan wacananya yang menarik ini!
Dec 15, 2009 @ 14:49:34
anarki bukanlah tindakan brutal atau tindakan pengrusakan dijalan. anarki adalah paham yang berarti tanpa negara. anarki pada saat ini diartikan sebagai paham yang menentang otoritas. anarki lebih dari sekedar anti negara. anarkisme terutama adalah gerakan yang melawan hierarki. Mengapa? Karena hierarki adalah struktur organisasional yang mewujudkan kekuasaan. Karena negara adalah bentuk “tertinggi” dari hierarki, kaum anarkis, sesuai definisi, adalah anti negara; namun definisi ini tidak cukup untuk menjelaskan anarkisme. Artinya kaum anarkis yang sesungguhnya melawan semua bentuk organisasi hierarkis , tidak hanya negara. Kaum anarkis adalah orang-orang yang menolak semua bentuk pemerintahan atau kekuasaan koersif, semua bentuk hierarki dan dominasi. Namun kaum anarkis juga berusaha menegakkan atau memunculkan, dengan berbagai macam cara, suatu kondisi anarki, yaitu masyarakat yang terdesentralisasi tanpa institusi koersif, suatu masyarakat yang diatur melalui federasi asosiasi-asosiasi sukarela. selama ini media membahasakan anarki sebagai tindakan brutal massa dijalan. sedangkan term yang lahir dari yunani ini pahamx sangat luas, lebih dari sekedar pengertian menghancurkan seperti kata kawan. kaum anarko adalah kaum yang anti otoritas, kapitalisme, feudal, neliberal dan menjunjung tinggi nilai kesetaraan.
.-= Baca juga tulisan terbaru anarcho berjudul "Nyanyian-nyanyian Binatang di Negeri Manusia" =-.
Dec 19, 2009 @ 00:44:53
terima kasih infonya tentang hakikat anarki. sebelumnya saya hanya bisa memaknai anarki secara leksikal seperti yang tercantum dalam kamus, yakni:
Dec 23, 2009 @ 15:28:20
@Sawali Tuhusetya, nah itu dia mas, itu kamus indonesia. istilah ini disalahgunakan atau dijelekkan lewat media. ini dimulai daridunia barat yang anti terhadap aksi perlawanan kaum anarko mereka kemudian mempropaganda atau menggiring paham massa sebagai aksi brutal melalui media, indonesia kemudian mengadopsinya dan memakainya sebgai gambaran aksi butal massa.. ok salam anarchy
Dec 25, 2009 @ 15:35:59
sekali lagi, terima kasih informasinya, mas.
Sep 13, 2009 @ 02:51:00
Kenyataannya pada saat ini demokrasi hanya menimbulkan sifat anarkisme saja, mendingan pas waktu dulu jaman orde-baru kagak pernah ada istilahnya kelakuan anarkis dari mahasiswa maupun masyarakat !! [-([-(
.-= Baca juga tulisan terbaru Dudayz berjudul Brainetics can make you smarter and fun =-.
Sep 14, 2009 @ 01:26:18
memang benar, mas, bisa jadi ini sebuah risiko bagi sebuah negeri yang sedang belajar berdemokrasi. anarkhi agaknya telah menjadi sebuah kelatahan sikap dalam menyampaikan sebuah aspirasi dan opini.
Jun 08, 2009 @ 22:21:28
Politik, Demokrasi, dan Anarki memang seperti lingkaran yang selalu berhubungan dan mudah disalahgunakan.
Jun 09, 2009 @ 18:48:22
iya, nih, mas. melihat berbagai kenyataan yang selama ini terjadi, ketiga ranah ini agaknya rentan terhadap proses anomali sosial.
May 24, 2009 @ 16:09:50
Assalamu`alaykum
mw tnya2 ya,
1. bagaimana pelaksanaan sistem politik di Indonesia saat ini?
2. sistem politik antar negara kan berbeda-beda, bagaimana negara2 tersebut mengadakan hubungan dagang dengan perbedaab sistem politik tersebut?
ditunggu segera jawabannya ya maz…
Feb 19, 2009 @ 09:54:49
Tuhan berkarya dalam diri manusia, manusialah tangan dan kakiNya
senada dengan geguritan terbaru saya Pak *halah promosi* seumpama sangkar burung yang kosong ditinggal penghuninya demikian pula kesejatian manusia telah kehilangan jatidirinya koncatan rasa kamanungsannya
Setiap pribadi telah dianugrahi talenta bukan untuk digenggam erat namun untuk saling berbagi
Tiada yang paling hebat namun kebersamaan membuat kuat
Dengan tulus menerima dan merayakan talenta yang ada pada orang-orang disekitar kita & dengan rendah hati mempersembahkan (melepas) talenta kita hidup semakin dipenuhi dan digenapi
Karena kita seumpama untaian bunga, untaian batang-batang lilin yang menyala
Malampun benderang berpendar cahaya
Atmosfer dipenuhi harum wangi bunga
Baca juga tulisan terbaru tomy berjudul PADUPAN KENCANA, titip pesan buat para pemuda dan calon pemimpin bangsa
Feb 20, 2009 @ 01:11:09
@tomy,
wow… postingan yang keren, pak tomy, meski seringkali saya mesti membacanya berulang2 ketika membaca geguritan anggitan pak tomy, hehehe …
Feb 18, 2009 @ 13:13:19
memang politik jaman sekarang ini sudah nggak sehat lagi
Baca juga tulisan terbaru meylya berjudul Balasan Alam Yang Terluka
Feb 19, 2009 @ 22:23:00
@meylya,
nah, itu dia yang menumbuhkan pertanyaan buat kita, mbak lyla, kapan ya negeri kita memiliki politik yang sehat?
Feb 17, 2009 @ 22:47:25
PRASBHARA PONOROGO — saatnya benahi moral bangsa ini….!!!!
Baca juga tulisan terbaru PRASBHARA PONOROGO berjudul PERATURAN BARIS BARIS (P.B.B)
Feb 18, 2009 @ 04:06:06
@PRASBHARA PONOROGO,
iya, saya sepakat mas prasbhara. perlu ada reformasi morak dan budaya di negeri ini.
Feb 17, 2009 @ 21:34:57
ah, tulisan ini mengingatkan saya akan tragedi hitam politik sumatera utara baru-baru ini, pak. secara seloroh saya pernah bilang kepada teman-teman kalau efek pemanasan global ternyata tak hanya menyerang bumi, namun turut pula memanaskan kancah politik.
Feb 18, 2009 @ 04:05:13
@marshmallow,
walah, ternyata global warming sudah menyerang ke manusia juga, ya, mbak yulfi, hehehe … semoga saja segera dapat dicari dan ditemukan solusinya.
Feb 17, 2009 @ 20:32:13
demo dan anarki dimedan itu………biasa aja lagi !!! jangan terlalu di dramatisir.sebab sesuatu itu terjadi pasti ada sebabnya, jangan menilai sesuatu secara subyektif la………. mati ma ajal.
Feb 18, 2009 @ 04:04:18
@ucok,
wah, saya ndak membahas kasus di medan, mas ucok, hehehe …. saya hanya melakukan refleksi aja terhadap berbagai fenomena anarki yang terjadi di negeri ini. saya juga dah membaca postingan khusus ttg protap itu dari tulisan bung susuhunan situmorang.
Feb 17, 2009 @ 16:15:06
harus di soewoengkan dong keinginan penguasa biar jadi tentram negeri ini
Feb 18, 2009 @ 04:01:46
@suwung,
walah, kalau disuwungkan, terus disuruh nunggu siapa, mas? hehehe ….
Feb 16, 2009 @ 17:18:49
i love punk. berontak akan apa yang menurut kita ga benar. bergeser dari apa yang kita anggap salah
Baca juga tulisan terbaru casual cutie berjudul Doble Agent
Feb 18, 2009 @ 02:04:37
@casual cutie,
wah, kata2 mbak cutie singkat banget, tapi sunggh dalam maknanya. cocok dijadikan sebagai bahan refleksi.
Feb 16, 2009 @ 16:26:48
Tak jelas benar akar politik yang dijadikanseagai penyangga perilaku politik petinggi kita. yang sangat jelas terdengar adalah bunti jargon yang selalu mengatakan bahwa mereka berpolitik adalah panggilan jiwa.
jika memang karena alasan panggilan jiwa. maka kesimpulan yang sy ambil ini semoga tdk terdengar naif: ” bahwa jiwa para petinggi politik kita memang berakar pada perilaku (1) rojo selak lan semoyo, (2) waton iso kuoso lan ngudoparipekso, ”
nuwun
salam hormat saking semarang
Baca juga tulisan terbaru gus berjudul Mohon Dukungan atas dimulainya usaha printing and Advertising Sekolah darurat kami
Feb 18, 2009 @ 02:03:04
@gus,
wah, makasih tambahan infonya, gus. saya mulai prihatin dg sikap latah yang mulai merasuki para caleg, gus. mereka ingin jadi caleg bukan lantaran ingin membangun daerah atau negara, tapi seringkali lebih difokuskan sekadar utk mencari nama, jabatan dan kekuasaan.
Feb 16, 2009 @ 13:13:43
Politik memang lebih banyak menguntungkan sebagian kecil elit rakyat, sedangkan kebanyakan wong cilik yo tetep ae susah….
Baca juga tulisan terbaru Ndoro Seten berjudul Lusi Lindri
Feb 18, 2009 @ 01:55:48
@Ndoro Seten,
iay, seperti pepatah, gajah berjuag sama gajah, pelanduk mati di tengah2, mas nanang, hehehe … ujung2nya rakyat yang harus menanggung risikonya.
Feb 16, 2009 @ 12:54:52
Anarki lebih buruk dari tirani…
Anarki dilahirkan oleh Chaos…
Sedang Tirani mengajarkan keteraturan walau dalam ketakutan…
Oh negeriku negeri cintaku…
Baca juga tulisan terbaru TENGKU PUTEH berjudul MARI BICARA TENTANG KONSEP WAKTU
Feb 18, 2009 @ 01:55:01
@TENGKU PUTEH,
duh, semuanya sama2 merepotkan mas abu, eh, mas tengku. sayangnya, demokrasi da politik di negeri ini gampang sekali disusupi nilai2 anarki itu.
Feb 16, 2009 @ 11:51:10
emmmmmm… syerem…bahkan dalam barisan anarki, akan mengintimidasi sesamanya…jadi..mana itu kebersamaan dalam anarki? toh pada akhirnya individualis
Baca juga tulisan terbaru cebong ipiet berjudul Something Error on My Eyes
Feb 18, 2009 @ 01:53:59
@cebong ipiet,
wah, biasanya kalau sudah masuk ke dalam kerumunan dan massa, sifat indiviualistisnya jadi hilang, mbak ipiet. makanya, di manapun terdapat massa dan kerumunan, nyali mereka jadi tumbuh berlipat-lipat, hiks
Feb 16, 2009 @ 11:21:47
Politik memang begitu, Pak. Kadang-kadang ada yang tidak puas kalau tidak dibarengi dengan kekuatan fisik. Namun demikian saya secara pribadi menginginkan politik yang damai.
Baca juga tulisan terbaru Edi Psw berjudul Air Zam-Zam di Bukit Panjalu
Feb 18, 2009 @ 01:52:34
@Edi Psw,
iya, pak, seperti itulah realitas yang terjadi di negeri ini, pak edi. saya juga sepakat dg pak edi. yah, politik yang penuh sentuhan kedamaian.
Feb 16, 2009 @ 10:31:15
Sudah sejak jaman kerajaan sih, makanya kita harus menciptakan budaya baru tak cukup dengan reformasi, gimana kalo revolusi aja ? ah jangan sampe ya, terlalu beresiko.
Baca juga tulisan terbaru ubadbmarko berjudul Ungkapan Tagore
Feb 18, 2009 @ 01:50:40
@ubadbmarko,
hehehe … kalau revolusi malah bisa merepotkan banyak orang, pak marko. bisa jadi tujuan malah ndak tercapai, hehehe … terlalu besar risiko yang mesti ditanggung.
Feb 16, 2009 @ 10:13:46
Kita harus melihat sejarah ini, Pak. Sejarah bangsa yang selalu tak pernah lepas dari kungkungan politik jajahan. Orde Baru juga telah ikut banyak berperan dalam merepresi kebebasan anak-anak bangsa. Setelah bubar, kita semua seperti baru keluar dari bawah tanah, menghirup udara segar yang sayangnya tak diikuti oleh kesejahteraan yang ikut meningkat. Rakyat marah dan jengkel. Kemarahan itu sayangnya banyak diwujudkan dalam wajah anarkisme. Kita sedang belajar, Pak….dan semoga menjadi lebih baik di depan sana..
Baca juga tulisan terbaru icha berjudul madeinINDONESIA (02)
Feb 18, 2009 @ 01:49:45
@icha,
terima kasih tambahan infonya, mbak icha. memeng benar, mbak, sejarah negeri ini nyaris tak bisa dipisahkan dari kekeraan ke kekerasan. semoga kita bisa belajar dari sejarah yang kelam dan pahit itu.
Feb 16, 2009 @ 10:07:24
semalat hari valentine ya Pak Sawali…
Baca juga tulisan terbaru casual cutie berjudul Doble Agent
Feb 18, 2009 @ 01:48:34
@casual cutie,
makasih, mbak cutie. selamat val day juga, hehehe … maaf terlambat nih.
Feb 16, 2009 @ 08:53:45
Lama nggak komentar,
Tak komentar ah….
Patut disayangkan bahwa anarki seolah menjadi bagian tidak terpisahkan dari reformasi. Sepertinya tidak ada reformasi tanpa anarki.
Baca juga tulisan terbaru Rochman berjudul BANJIR
Feb 18, 2009 @ 01:46:40
@Rochman,
walah, gpp, pak jaitoe, hehhe …. nah, mestinya reformasi bisa meluruskannya, pak. sayangnya justru sebaliknya.
Feb 16, 2009 @ 05:57:47
Wow. It’s very nice blog. Salam kenal ya mas…
Feb 18, 2009 @ 01:44:34
@mbak maya,
salam kenal juga, mbak maya. terima kasih kunjungan dan komentarnya.
Feb 16, 2009 @ 02:18:53
ngelink nggih Pak..
Baca juga tulisan terbaru any farikhah berjudul Suara Hati Nurani Cupang Pra Pemilu
Feb 18, 2009 @ 01:44:07
@any farikhah,
silakan, mbak any, makasih banget ya, dah mau ngelink.
Feb 15, 2009 @ 21:51:29
Sekarang sudah susah membedakan yang benar dan yang salah… penegak hukum ikut-ikutan melanggar hukum…
Feb 15, 2009 @ 15:32:55
Hmmm.. bicara soal politik jadi teringat perjuangan bangsa Indonesia dulu untuk merdeka..
Tapi sepertinya udah ga merdeka lagi.. politik sekarang yang menjajah Indonesia..
Bukannya parpol untuk rakyat, malah rakyat untuk parpol..
Huff
Baca juga tulisan terbaru Danta berjudul Ikutan Internet Sehat Yuk..
Feb 15, 2009 @ 21:23:38
@Danta,
wah, iya, mas danta. kok bisa begitu, yak? hehehe … fenomena itu makin menunjukkan bahwa logika terbalik-balik itu bener2 ada, hiks.
Feb 15, 2009 @ 15:23:37
kata itulah yang saya dapatkan dari orang-orang ketika saya ingin memperdalam pengetahuan tentang politik. namun bagi saya itu kembali kepada diri pribadi masing-masing. apakah dalam dunia yang penuh dengan tipu muslihat mereka bisa mengendalikan ego mereka atau tidak.
saya akan berpositif tinking bahwa dunia perpolitikan Indonesia sedang belajar untuk menjadi lebih baik.
bagaimanapun berfikir positif tidak membuat kita menjadi orang yang skeptis
Baca juga tulisan terbaru dafhy berjudul Valentine days
Feb 15, 2009 @ 21:22:43
@dafhy,
hmmmm … politik itu kejam, ya, ya, mas dafhy, fenomena yang tampak memang membenarkan tesis itu. meski demikian, saya juga masih punya keyakinan dan optimisme kalau di negeri ini masih ada politisi yang memiliki kearifan dan kesantunan dalam beraksi.
Feb 15, 2009 @ 09:13:44
Just say hello aja…Lama ga kesini makin mantap aja Pak sawali.
Baca juga tulisan terbaru Leah berjudul Sehat itu Segalanya
Feb 15, 2009 @ 21:21:09
@Leah,
walah, biasa saja kok, mbak leah, hehehe … gimana kabarnya, mbak? sibuk bisnis online dan ofline, ya, mbak? semoga sukses!
Feb 14, 2009 @ 23:17:25
cuman mau laporan… kok sekarang agak berat buka blog ini
Baca juga tulisan terbaru hmcahyo berjudul ibsn: 3 orang temen saya ter-PHK
Feb 15, 2009 @ 21:20:20
@hmcahyo,
wah, kalau soal loading berat, hiks, sungguh mas heri, di luar jangkauan kemampuan saya, hehehe … makasih infonya.
Feb 14, 2009 @ 23:16:23
anarki memang selalu lebih banyak dampak negatif yang ditimbulkan, apakah pelaku anarkis memikirkan terlebih dahulu apa yang akan terjadi? mungkin iya, tapi hanya memikirkan akibat yang baik bagi mereka sendiri.
Baca juga tulisan terbaru arton berjudul E-Book Membangun Bisnis Melalui Blog
Feb 15, 2009 @ 21:19:41
@arton,
hmmm …. politik memang identik dg kepentingan, mas arton, repotnya, para politisi dg mengatasnamakan demokrasi seringkali memanfaatkan cara2 anarki utk memenuhi ambisi dan kepentingannya.
Feb 14, 2009 @ 22:37:15
lebih bersedih lagi karena banyak org yg merasa telah berpindidikan dan well inform yg bisa dikelabui oleh pelaku politik…..
Feb 15, 2009 @ 21:18:33
@gus,
iya, gus, repot juga. jadi inget julian benda yang mensinyalir adanya “pengkhianatan intelektual” yang berselingkuh dg salah politik, hiks.
Feb 14, 2009 @ 19:02:56
sedihnya malah banyak orang yg berpendidikan ngelakuinnya
Feb 15, 2009 @ 21:17:45
@Ananto,
wew… nah itu dia, mas ananto, jubah intelektual ternyata tak sanggup membuat nilai2 demokrasi menjadi lebih elegan, hiks.
Feb 14, 2009 @ 16:58:12
anarkinya nyamber ke anak-anak di bawah umur yang sembarangan diajak ngikut kampanye… ndak punya otak…
Baca juga tulisan terbaru moerz berjudul Dan Berakhir
Feb 15, 2009 @ 21:17:07
@moerz,
wah, tambah runyam, mas moerz, kalau anak2 dilibatkan juga ke dalam ranah politik, haks, haks.
Feb 14, 2009 @ 14:39:26
Demokrasi kita telah dibajak oleh musuh-musuh demokrasi itu sendiri, yaitu orang-orang atau kelompok berwatak machiavelian, otoritarian, sektarian, koruptor dan preman. Mari Bung rebut kembali !
Baca juga tulisan terbaru Robert Manurung berjudul Kecaman Atas Kasus Protap Itu Tak Lagi “Fair”
Feb 15, 2009 @ 21:16:33
@Robert Manurung,
yaps, sepakat, bung robert. ulah mereka bener2 sdh kelewatan, mengatasnamakan demokrasi, tapi aksinya justru bertentangan secara diametral dg nilai2 demokrasi itu sendiri.
Feb 14, 2009 @ 12:06:38
skrg emang lg laris ungkapan “terkadang cinta kudu diungkapkan dengan senapan”
dan parahnya lagi yg nglakuin itu sebuah negara yg ngaku2 sbg negara paling demokratis
Baca juga tulisan terbaru toim berjudul Death and All His Friends
Feb 15, 2009 @ 21:10:04
@toim,
nah, itu dia yang jadi persoalan, mas toim. makin repot kalau setiap masalah selalu diselesaikan dg cara2 anarki dan kekerasan.
Feb 14, 2009 @ 11:22:58
Saya mencoba menganalogikan postingan ini dari sisi “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” ……….gmn mas?
Baca juga tulisan terbaru Nyante Aza Lae berjudul Ikhlas
Feb 15, 2009 @ 21:09:13
@Nyante Aza Lae,
wew… loh kok bisa begitu, mas kurnia? kalau yang dimaksud guru itu identik dg tokoh2 masyarakat atau elite politik di negeri ini bis jadi bener, mas, hehe … tapi kalau yang dimaksud guru di sekolah, wah, apa memang ada sih guru yang mengajarkan paham anarki pada muridnya?
Feb 14, 2009 @ 10:00:14
Hidup Golput!!! Merdeka!!!
Baca juga tulisan terbaru Bawor berjudul Mau Utang Gubuk
Feb 15, 2009 @ 21:07:11
@Bawor,
walah, malah Golput? hehehe ….
Feb 14, 2009 @ 07:43:17
met val day yah kang moga tambah segala -galanya deh amin amin amin ya robal alamin
Feb 14, 2009 @ 10:00:37
@Sawali Tuhu setya fans holick asli ga boong beneran,
maturu nuwun, mas awie, meski saya sendiri jarang merayakan valentine day, hiks.
Feb 14, 2009 @ 04:35:44
Sejarah Indonesia sebagai bangsa beradab ternyata masih jadi pro-kontra. (Penggunaan kata beradab bener tidak, Pak, kesimpulan tsb.?)
Baca juga tulisan terbaru dhoni berjudul Friday The 13th 2009 (movie)
Feb 14, 2009 @ 10:01:54
@dhoni,
hehehe … kalau kita buka referensi klasik, predikat sbg bangsa yang beradab *menurut saya memang benar sekali penggunaan isitlah ini* itu bener ada, mas dhoni, sehinga ndak perlu ada pro dan kontra, hehehehe ….
Feb 14, 2009 @ 04:12:34
Saya mau tanya lagi, Pak Sawali.
Benarkah “negeri kita sudah lama dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi”? Bukannya itu hanya propaganda yang ditanamkan oleh guru-guru kita semasa kanak-kanak?
Baca juga tulisan terbaru M Shodiq Mustika berjudul Kiat Imam Ghazali agar Tidak Sombong
Feb 14, 2009 @ 10:03:57
@M Shodiq Mustika,
walah, saya kira bukan propaganda, pak shodiq. kalau kita buka referensi klasik, predikat seperti itu sesungguhnya memang pernah ada. sayangnya, seiring perkembangan peradaban, predikat mulai seperti itu mulai luntur. Guru, saya kira, ndak pernah mempropagandakan nilai2 yang sesungguhnya semu kepada para siswa didik.
Feb 14, 2009 @ 00:34:22
ya sudah selayaknya anrkis dihilangkan dari negeri ini yang nota bene sebagai negara yang mempunyai adat ketimuran. memang kita semua mungkin sudah dijajah oleh paham kebarat-baratn dengan pelan-pelan menhipnotis kita, sehingga kita lupa akan adat budaya kita sendiri.
banayak masyrakat yang hanya dijadikan korban oleh segelintir orang hanya untuk berdemo yang katanya itu adalah demokrasi. tapi apakah harus berdemo turun kejalan-jalan berteriak-terian dibawah teriknya matahari?. masih banyak cara penerepan demokrasi sehari-hari, contohnya ngeblog. betulkan pak? he..he..
stop anarkisme!
Baca juga tulisan terbaru arifudin berjudul Adakah blogger instan?
Feb 14, 2009 @ 10:04:55
@arifudin,
sepakat, mas arif. perlu ada upaya serius utk menghentikan anarki ketika terjadi aksi massa dan kerumunan. perlu ada upaya utk memulainya dari diri sendiri dulu dan saat ini juga.
Feb 13, 2009 @ 22:15:50
Sepertinya kita perlu mawas diri, sudah sejauh mana kita tertinggal yang di akibatkan oleh perbuatan kita sendiri.
Feb 14, 2009 @ 10:05:58
@a,
iya, bener banget, pak amin, gara2 aksi kekerasan dan cakar2an sendiri, bangsa kita hanya berkutat di semak2, sementara bangsa lain sdh melaju mulus di jalur tol peradaban dunia.
Feb 13, 2009 @ 21:43:32
Sepertinya tak lain karena kurangnya kepedulian akan struktur budaya (suprastruktur), yang bisa diibaratkan roh peradaban. Sebagai roh peradaban, struktur budaya biasanya melahirkan nilai-nilai. Nilai-nilai membentuk kebiasaan (usage). Dan kebiasaan inilah, yang kemudian membangun berbagai prosedur, segenap mekanisme dan sederet aturan formal. Struktur budaya itulah yang pada akhirnya membentuk prosedur, mekanisme, dan pelembagaan formal. Suprastruktur yang demokratis jelas akan melahirkan kelembagaan formal yang demokratis, BUKAN sebaliknya—seperti negara tercinta bernama Indonesia ini.
.
Kita hendak maju dan beradab. Kita mau demokrasi. Tapi yang dibangun terlebih dahulu bukan struktur budayanya, bukan rohnya, melainkan raganya dulu: prosedurnya, mekanismenya, dan aturan mainnya. Sementara struktur budayanya,
rohnya, tak disentuh sama sekali, dibiarkan tetap saja seperti dulu:
feodal dan patrimonial. Makanya, demokrasi kita kedodoran
.
Yah, setidaknya itulah yang pernah saya dapatkan dari salah satu bacaan. Memprihatinkan…
Baca juga tulisan terbaru ariss_ berjudul Usulan 17 Fatwa “Calon-Haram” Kepada MUI
Feb 14, 2009 @ 10:07:27
@ariss_,
iya, saya sepakat dg mas ariss. ketika reformasi dibangun, substansi reformasi itu sendiri tidak mengakar hingga ke dalam. ruformasi kultural nyaris tak tersentuh. padahal sesungguhnya, di situlah makna reformasi yang sesungguhnya. demokrasi saya kira juga mesti demikian. makasih info tambahannya, mas.
Feb 13, 2009 @ 20:58:09
masayarakat indonesia betah dan membiasakan diri jadi follower, baik soal kebudayaan, trend, sampai apapun. Kebiasaan2 dari masing2 individu begini tebawa juga ketika melakukan aksi. jadi gampang tersulut ketika ada oranglain ngamuk, makar,sampai bakar2an… maka jadilah anarkis
Baca juga tulisan terbaru novi berjudul Nikmatnya NgeFLY bersama AirAsia
Feb 14, 2009 @ 10:08:32
@novi,
iya, bener banget, mas novi. konon massa dan kerumunan bisa menghilangkan identitas personal. yang ada adalah ideologi yang meluncur ke tengah massa dan kerumunan itu.
Feb 13, 2009 @ 20:30:15
waduh demo anarki mengakibatkan demokrasi menjadi rusak
Feb 14, 2009 @ 10:08:52
@ario saja,
hehehe … itulah yang terjadi di negeri kita, mas ario.
Feb 13, 2009 @ 14:26:24
Anarkis sekarang di lakukan hampir seluruh lapisan masya di negara kita ini entah siapa yang salah, karena mahasiswa yang selama ini kita gadang-gadang menjadi agen perubahan ternyata mereka juga berbuat anarkis dalam menjalankan aksi dan keinginannya
Baca juga tulisan terbaru Achmad Sholeh berjudul Antara Fakta Dan Klaim Politik
Feb 14, 2009 @ 10:10:08
@Achmad Sholeh,
wah, perjalanan demokrasi dan politik di negeri ini memang sarat dg konflik dan kekerasan, pak sholeh. sepertinya memang dibutuhkan reformasi jilid II, khususnya utk mereformasi kultur bangsa secara menyeluruh, hehe ….
Feb 13, 2009 @ 14:24:38
pak sawali, harus dipisahkan antara anarkisme sebagai paham yang mengusung ketiadaan aturan, dengan “anarki” yang sering kita acu pada tindak kekerasan. para “anarkis” yang sejati, yang menolak keberadaan negara dan sistem pengaturan apapun, saya kira sebenarnya juga tak menyukai kekerasan. “anarki” dlm pengertian kita sehari2 kan lbh banyak mengacu ke soal kekerasan, bukan sikap politik yang diturunkan dari “anarkisme”. kayaknya sih begitu, pak:)
Baca juga tulisan terbaru haris berjudul Ponari dan Ronald Reagan
Feb 15, 2009 @ 19:35:46
@haris,
iya, bener banget tuh, mas haris. anarki yang menggunakan kekuatan massa sesungguhnya masih bisa dimaklumi ketika sekat2 formal sulit didobrak. namun, agaknya anarki telah dimanfaatkan utk kepentingan golongan tertentu. ini yang sudah jelas2 menyimpang, hiks. *duh, kok jadi sok tahu saya, hehehe *
Feb 13, 2009 @ 11:40:02
banyak sekali praktik anarki yang sebetulnya bermuara dari skema yang sudah dibuat dan dirancang oleh kepentingan kelompok tertentu. adik saya juga dulu sebagai bendahara di kampusnya untuk menggalang demo dan terbukti siapa dedengkot sebenarnya yang menyalurkan dana..sungguh nyaris tak terlacak.
Baca juga tulisan terbaru boyin berjudul Bahaya kenyamanan tempat kerja dalam pengembangan karir (1)
Feb 15, 2009 @ 19:33:55
@boyin,
duh, jadi makin repot, mas boyin, kalau anarki sudah terskenario. mereka pasti sdh memperhitungkan aksi2 mereka, sehingga sulit terlacak. di mana2, aksi anarki memang ada dalang yang menyusun skenarionya, mas, hehehe ….
Feb 13, 2009 @ 11:14:28
anarkisme itu salah ato benar ya Pak???
Feb 15, 2009 @ 19:31:55
@casual cutie,
walah, kalau ditujukan utk kemaslahatan umat dg cara yang bener, agaknya ndak ada yang salah, mbak cutie. repotnya, anarki kan sering digunakan utk memaksakan kehendak melalui tekanan massa dan kerumunan. nah, ini agaknya yang ndak bener, mbak, hehehe ….
Feb 13, 2009 @ 11:12:08
yang lebih parah kejadian mengenaskan di kampung saya mas, dprd sumut meninggal untuk pemekaran propinsi…
Baca juga tulisan terbaru okta sihotang berjudul Hari Kasih Sayang…?
Feb 15, 2009 @ 19:29:44
@okta sihotang,
oh, ternyata itu daerah, ms okta, ya? waduh, semoga saja ndak sampai terus terjadi insiden berdarah seperti itu, mas.
Feb 13, 2009 @ 11:06:37
orang bilang politik itu kejam. Tapi semua itu kan kembali ke orangnya, ya tho pak???
anarkisme itu suatu saat pasti akan menjadi pembelajaran, dan pasti akan berubah, ntah itu kapan…..
sing penting optimis ajah, bahwa bangsa ini pasti akan berjalan mnuju arah yang lebih baik..
*akan berjalan???????
Baca juga tulisan terbaru alief berjudul Monyet Itu Menampar Tepat di Muka dan Hatiku
Feb 15, 2009 @ 19:29:07
@alief,
iya, bener, mas alief, bagaimanapun juga kita mesti optimis, perlu ada kesadaran kolektif utk membenahi negeri ini bersama-sama.
Feb 13, 2009 @ 09:53:34
Seakan anrkisme tidak bisa dilepaskan dari demokrasi pak.. sejarah peradaban dunia diseluruh negara demokrasi selalu terjadi aksi anarkisme.. karena bagaikan satu paket antara emokrasi dan anarkisme.
tapi saya satuju, bagaimanapun juga anarkisme tidak dapat ditolelir….
STOP ANARKI!
*gambarnya keren pak
Baca juga tulisan terbaru azaxs berjudul Terjadi Genocide di Indonesia
Feb 15, 2009 @ 19:28:08
@azaxs,
nah itu dia yang jadi persoalan, mas azaxs. kalau demokrasi diwarnai aksi2 anarki semacam itu agaknya justru bisa menjadi bumerang buat rakyat. mereka sering tak berdaya ketika menyaksikan aksi2 massa dan kerumunan yang seringkali memaksakan kehendak.
Feb 13, 2009 @ 08:45:11
Politik yang menggunakan masa memang rawan terjadi anarki, apalagi situasi sekarang, yang harus bekerja keras untuk mencari sesuap nasi.
Baca juga tulisan terbaru edratna berjudul Chandra Wilwatikta, Wale Papetaupan, Candi Jawi dan masjid Cheng Ho
Feb 15, 2009 @ 19:19:49
@edratna,
iya, bener banget, bu enny. kalau kita lihat tayangan TV, sebagian besar demonstran tak tahu pasti apa yang menjadi tujuan mereka berdemoa. agaknya demi mencar sesuap nasi, mereka sering ikut2an larut dalam massa dan kerumunan.
Feb 12, 2009 @ 23:47:33
Selamat malam Pak Sawali hehehe.
Benar Pak, orang-orang anarkis itu berjenis HA (Homo Anarkienses) inilah yang selalu mengedepankan cara-cara anarkis untuk memuaskan ego. Mereka menganggap paling benar dan paling beradab, tapi sesungguhnya berwatak infantil. Katanya menegakkan demokrasi, kog mukulin orang. Katanya menegakkan kebenaran, kog kriminal. Katanya menciptakan ketentraman batin, kog ngajarin membunuh. Jenis-jenis spesies HA inilah dapat dengan mudah ditemui di Indonesia
Feb 15, 2009 @ 19:18:03
@laporan, selamat malam juga, pak aryo, terima kasih banget tambahan informasinya, pak. baru tahu ada istilah homo anarkienses, hehehe …. manusia jenis begini agaknya merepotkan juga bagi perjalaan demokrasi dan politik, ya, pak?
Feb 12, 2009 @ 22:52:57
salam kenal pak guru.
Baca juga tulisan terbaru lutfi berjudul Caleg Kampanye di Kuburan
Feb 15, 2009 @ 19:16:26
@lutfi,
salam kenal juga mas lutfi, terima kasih kunjungan dan komentarnya.
Feb 12, 2009 @ 21:30:47
politik? (doh)
Feb 15, 2009 @ 19:16:07
@aRai,
loh, kenapa mas arai? hehehe ….
Feb 12, 2009 @ 20:33:56
Saya melihat anarkisme sebagai tanda kegagalan proses pendidikan “memanusiakan” manusia. Mungkin akibat guru yang hanya bisa mengajar tanpa bisa mendidik.
Setiap hari hanya sibuk menjejali peserta didik dengan ilmu pengetahuan tapi lupa membekali mereka dengan nilai-nilai dan filosofi hidup agar menjadi manusia yang bermoral.
Baca juga tulisan terbaru syamsuddin.ideris berjudul Daftar Kenaikan Gaji PNS 2009
Feb 15, 2009 @ 19:15:35
@syamsuddin.ideris,
wah, bisa jadi memang benar seperti itu, pak. pembudayaan nilai2 kepada siswa seringkali diabaikan sehingga ketika mereka terjun ke masyarakat gagal menginternalisasi nilai2 luhur baku itu.
Feb 12, 2009 @ 20:25:55
Hm, ternyata anarki itu artinya ketiadaan aturan yah?
Anarki bukan kekerasan itu sendiri tapi dalam prakteknya telah menyimpang dan menggunakan cara-cara kekerasan. Gitu yah pak?
Mohon koreksi kalau pemahaman di atas keliru.
Kalau pemahaman di atas benar berarti saya dapat pemahaman baru dan pemahaman tentang anarki selama ini salah.
Hm, lagi ngomongin kasus meninggalnya Ketua DPRD Sumut yah pak?
Salah seorang atasan saya di kantor pernah bertutur, “Demokrasi kita terlalu cepat 100 tahun. Kita belum siap dengan demokrasi seperti ini.”
Mungkin itu penyebab dari masalah yang timbul dalam demokrasi kita. Kita terlalu memaksakan demokrasi tanpa memastikan edukasi tentang demokrasi sudah menyentuh setiap lapisan masyarakat.
Coba aja iseng nanya sama orang yang berdemo,”Mas, mengaspirasikan apa?”
Mungkin akan banyak jawaban, “G tau. Cuma ikut2an.” Atau “Saya dibayar 5rb trus disuruh demo mas.”
Baca juga tulisan terbaru Adi berjudul Lilly Allen – Him
Feb 15, 2009 @ 19:12:37
@Adi,
iya, mas adi, konon awlnya anarki memang dimaksudkan utk memberikan reaksi terhadap menguatnya gejala kapitalisme atau yang lain. namun, ternyata anarki telah berubah jauh menjadi ajang kekerasan. agaknya, situasi seperti itu tak luput dalam mewarnai perjalanan demokras di negeri ini. mereka sering ndak tahu ketika ditanya ttg keikutsertaannya dalam deo. mereka hanya mengikuti alur massa dan kerumunan.
Feb 12, 2009 @ 19:20:03
kayanya hal tersebut sudah membudidaya alias keturunan yah mas, segala sesuatu harus dipecahkan dengan anarkis, lah wong kalah main bola aja berantem gimana jika masuk dunia politik? yang ada sudah pasti gampang sekali dihasut
Feb 14, 2009 @ 10:13:03
@harianku,
iya, mbak, itulah yang terjadi. masaa dan kerumunan bisa berubah menjadi anarki ketika ada pihak lain yang punya kepentingan utk memanfaatkannya.
Feb 12, 2009 @ 18:45:25
Politik, Peletak, Peletok…
Feb 14, 2009 @ 04:24:05
@marsudiyanto, Polo Tok..
Baca juga tulisan terbaru dhoni berjudul Friday The 13th 2009 (movie)
Feb 14, 2009 @ 10:11:58
@marsudiyanto,
walah!
Feb 12, 2009 @ 17:14:02
Yah namanya juga buntu, agar bisa menembus kebuntuan itu harus didobrak, tak dapat dengan cara halus, cara kasar juga dimainkan. So, apanya yang salah dalam penyelenggaraan kehidupan masyarakat kita dalam bernegara ? Apakah semua perangkat dan systemnya berjalan pada fungsinya ? Kayaknya inilah yang menajadi pemicu timbulnya anarchi itu. Bagaimana rakyat ini memilih wakilnya yang tidak bersifat amanah di lembaga yang disebut DPR, baik dalam Orba maupun zaman Reformasi ini. Semua-semua terpilih bukan karena hatinurani. Tapi dengan cara dagang sapi. Yang namanya dagang ya itu, hanya sebatas dagang, tanggung jawab moral tak ada. Bagaimana pengusaha memperoleh ijin usahanya yang harus berlikaliku dengan berdasarkan suka dan tidak suka. Banyaknya manipulasi disana sini yang ujung-ujungnya merugikan masyarakat banyak. Demikian banyak permasalahan yang ada dan jalannnya buntu, akhirnya akan menimbulkan anarchi itu sendiri
Feb 14, 2009 @ 10:11:45
@amat,
iya, bisa jadi bener, mas amat. munculnya anrki bisa dianggap sbg reaksi terhadap komunikasi yang buntu. meski demikian, fenomena anarki dalam demokrasi dan politik bisa jadi preseden kalau tak ada solusi jitu utk menghentikannya.
Feb 12, 2009 @ 16:48:42
btw, gambar pada artikel ini kweren….
Baca juga tulisan terbaru denologis berjudul Plurk
Feb 14, 2009 @ 09:59:34
@denologis,
walah, hanya sekadar nyomot sekenanya, kok, mas deno, hiks.
Feb 12, 2009 @ 16:47:16
ada sebuah parodi yang agak ngeres,
seorang guru memberi PR pada muridnya untuk mendefinisikan Demokrasi.
sepulangnya di rumah, murid itu bertanya pada ibunya tentang arti demokrasi. Ibu menjawab, “Demokrasi adalah Ayahmu sebagai Pemimpin Eksekutif, Ibu sebagai Pemimpin Legislatif, Bibi Pembantu sebagai Pengusaha yang mengatur keuangan, Kamu dan Adikmu sebagai rakyatnya”.
pada malam harinya, si murid yang kedinginan karena hujan deras, terbangun oleh tangisan adiknya yang pastinya juga kedinginan. kemudian dia keluar kamar untuk memberitahu Ibunya. ketika masuk ke kamar Ayah-Ibu, ternyata ibunya sedang tidur dan bapaknya tidak ada. maka diapun mencari bapaknya, mungkin ada di toilet yang ada di dekat dapur. sebelum dia sampai ke toilet, dia melewati kamar pembantu yang tidak tertutup rapat. diapun iseng mengintip, dan ternyata sang Ayah sedang berhubungan badan dengan Bibi Pembantu.
Dia diam saja tak berani apa-apa.
akhirnya ketika keesokan harinya di sekolah dia ditanya pak guru, dengan mantap dia menjawab, “Demokrasi adalah ketika Legislatif hanya tidur, dan Eksekutif bermain-main dengan Pengusaha, sementara Rakyatnya menderita”.
Baca juga tulisan terbaru denologis berjudul Plurk
Feb 14, 2009 @ 09:59:14
@denologis,
wah, sebuah analogi yang mantab, mas deno. agaknya seperti itulah gambaran demokrasi di negeri ini. rakyat sengsara, sementara pihak eksekutif berselingkuh dg pengusaha, sementara pihak legislatif cuek.
Feb 12, 2009 @ 16:38:31
Ya sekarang orang lebih milih anarki karena pasti akan langsung jadi sorotan saat itu dimunculkan, semua dengan harapan apa yang diinginkan bisa terwujud
Baca juga tulisan terbaru Novianto berjudul Memanfaatkan waktu yang terbuang
Feb 14, 2009 @ 09:57:30
@Novianto,
tapi ya makin rumit dan merepotkan kalau menggapai tujuan dan ambisi dg cara2 anarkis seperti itu, mas novi, hehehe ….
Feb 12, 2009 @ 15:32:40
anarki itu menurut saya adalah wujud keputusasaan menggunakan cara-cara yang santun. memang susah merubah kebiasaan yang sudah membudaya ini. solusinya harus membuat perubahan dari diri sendiri dan secara bertahap merubah orang di sekeliling kita…
Baca juga tulisan terbaru budiOno berjudul $75 dari AW Surveys
Feb 14, 2009 @ 09:56:53
@budiOno,
iya, saya setuju banget, mas dion. perlu dimulai dari diri sendiri dan dimulai sekarang juga.
Feb 12, 2009 @ 14:46:20
jaman ini lagi ruwet pak, politik tidak sehat, demokrasi, kebebasan yang kebablasan dan jadi anarki ?
Feb 14, 2009 @ 09:56:13
@Lala,
iya, itulah yang sedang terjadi di negeri ini, mbak lala. tapi kita juga perlu optimis, semoga situasi chaos politik semacam itu bisa segera teratasi.
Feb 12, 2009 @ 14:38:39
Politik=kepentingan=kekuasaan=uang=bersenang-senang.
Ada nggak sebenarnya politik yang jujur dan berdasar hati nurani itu?
Feb 14, 2009 @ 09:55:30
@Deni Kurniawan As’ari,
seharusnya ada, pak deni. tapi sayangnya persentasenya terlalu kecil, hehehe ….
Nov 30, 2009 @ 11:23:19
@Deni Kurniawan As’ari,
?:-??:-??[-( YUPZ mg susah low gi ngomongin politik+demokrasi. ga a yg mo ngalah se. butuh lesPKN NECH!!!!!!!!!!!!!!!!!!)
Feb 12, 2009 @ 13:22:05
Demokrasi kita adalah demokrasi yang semu…
Banyak pejabat kalo sudah menjabat memaksakan kehendaknya demi kepentingan pribadi.
Baca juga tulisan terbaru Tuyi berjudul Namaku Tina
Feb 14, 2009 @ 09:54:55
@Tuyi,
iya, bener banget tuh, mas tuyi. kepentingan pribadi dan golongan agaknya masih dinomorsatukan di negeri ini ketimbang kepentingan umum.
Feb 12, 2009 @ 12:51:29
ketika KEPENTINGAN
selalu dianggap segalanya
praktik politik dan demokrasi
akan sll bermuara para Machiavellisme
Baca juga tulisan terbaru Mikekono berjudul ‘Lima Tangan’, Kiat Sukses Caleg
Feb 14, 2009 @ 09:53:57
@Mikekono,
hmmm … machiavelli, ya, ya, taktik menghalalkan segala cara menjadi trik jitu utk meraih ambisi dan keinginan, mas agus. makin kompleks dan merepotkan.
Feb 12, 2009 @ 12:35:03
Anarki jalan terakhir yg di tempuh sehingga akan menghasilkan suatu akibat.Karena selama ini Anarki identik dengan kekerasan ,pembunuhan (baca:negatif).Saya sendiri kalau ada demo2 sampai tindakan anarki takut amit ..mendingan menjauh daripada kena peluru nyasar
Baca juga tulisan terbaru Diah berjudul Mungkin Cek Adsense Terakhir
Feb 14, 2009 @ 09:53:11
@Diah,
bener banget, mbak diah. demo2 anarkis itu memang bener2 sudah kebablasan, sehingga bisa menimbulkan trauma massa juga.
Feb 12, 2009 @ 12:31:02
memang ranah politik di negeri ter cinta ini sudah jauh dari faedah yng sebenarnya terkadang saya malah berfikir ini indonesia tercinta apa bukan sih ko carut marut ke gini tanpa ada penanganan yng berarti,memang para penguasa dan antek -anteknya tuh dah terbius untuk memikirkan diri sendiri tampa mau menimbang efek samping nya bagi masyarakat luas
buat aku birokrat DLLnya busuk
Feb 14, 2009 @ 09:52:20
@Sawali Tuhu setya fans holick asli ga boong beneran,
walah, usernamenya jadi makin unik dan panjang, hehehe ….. nah, itulah efek yang muncul kalau sikap narsis dah merasuki politisi kita. demi gengsi dan kekuasaan, mereka rela menempuh cara2 ala machiavelli.
Feb 12, 2009 @ 12:28:27
Bagi saya, anarki mengindikasikan bahwa masyarakat kita sedang LAPAR..lapar akan kekuasaan, lapar akan pengaruh, lapar akan gengsi, hingga memang lapar sebenar lapar….jadi sebelum lapar tersebut hilang…anarkis selalu mendampingi setiap perjalanan demokrasi di negeri ini…
Baca juga tulisan terbaru imoe berjudul …hobby baru pejabat dinas pendidikan…
Feb 14, 2009 @ 09:51:08
@imoe,
duh, repot banget, mas imoe, kalau anarki itu muncul karena lapar. orang lapar tuh konon gampang sekali marah. kalau dalam tingkatan massa dan kerumunan, aksi mereka bisa benar2 di luar kendali.
Feb 12, 2009 @ 12:03:58
Sebuah analisa yang mendalam terhadap hubungan antara demokrasi dan anakhisme, mohon ijin melakukan trackback, Pak…
Baca juga tulisan terbaru sapimoto berjudul Google Akuisisi Feedburner
Feb 14, 2009 @ 09:49:56
@sapimoto,
terima kasih apresiasinya, mas sapimoto. walah, hanya tulisan biasa saja, kok, mas. silakan saja kalau ingin melakukan trackback. makasih banget sekali lagi.
Feb 12, 2009 @ 10:04:40
“… aroma fasisme dan anarkisme, sungguh, tidak dapat ditolelir”. Sebuah frase hiperbolik, patriotik, nasionalis banget. Saya cukup optimis kalau buah pemikiran Pak Sawali Tuhusetya ini bisa kita jalankan, sangat mungkin kembali kita temukan identitas kita sbg bangsa yg merdeka, berdaulat, ramah, santun, dan demokratis. Semoga Alloh meridloi bangsa kita. Amin.
Feb 14, 2009 @ 09:49:15
@Ki Dhalang Sulang,
matur nuwun ki dhalang. konon ada 2 resep yang bisa digunakan utk meredam anarkisme itu. mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini juga, hehehe ….
Feb 12, 2009 @ 10:01:48
Politik memang identik dengan kekerasan mas … makanya saya gak mau jadi caleg
Baca juga tulisan terbaru Rindu berjudul Atas Nama Rindu
Feb 14, 2009 @ 09:48:08
@Rindu,
sejatunya tdk harus begitu. mbak rindu, hehehe …. kalau para politisi memiliki cara yang jitu dalam meraih simpati publik tanpa harus melalui kekerasan.
Feb 12, 2009 @ 09:39:15
Benarkah di masa lalu kita ini adalah bangsa yang beradab dan bermartabat? Saya sendiri kadang-kadang merasa bahwa apa yang ditunjukkan dalam berbagai aksi anarkis selama ini justru mencerminkan jati diri kita yang sesungguhnya. Katakanlah saya bicara ngawur. Namun, sejarah kita tentu akan dapat memberikan penjelasan. Contohnya, lihat keruntuhan Demak. Arya Penangsang yang merasa berhak menerima tahta tetapi tidak diberi tahta memaksakan kehendaknya melalui pembunuhan-pembunuhan sehingga akhirnya pecah perang antara Pajang dan Jipang.
Lihat pula betapa Ken Arok mengambil alih kekuasaan dengan membunuh Akuwu Tumapel sehingga seterusnya terjadi pembunuhan balas-berbalas. Singasari tumbuh dari pembunuhan. Singasari runtuh melalui perang. Kertanegara diserang oleh Jayakatwang. Peristiwa yang akhirnya mengantarkan Raden Wijaya untuk mendirikan Majapahit. Pada akhir masa Majapahit hingga munculnya Demak juga ditandai dengan kekerasan.
Menurut saya, demokrasi itu bukan nafas kita sehingga kita harus mengajarkannya pelan-pelan dan dalam jangka waktu yang lama. Amerika bisa seperti saat ini karena negara itu sudah lebih dari seratus tahun umurnya walaupun Obama mengatakan bahwa Amerika masih merupakan bangsa yang muda.
Sekarang, bagaimana mengajarkan kepada masyarakat agar lebih mengedepankan dialog daripada tinju dan mengajarkan kepada pemimpin untuk mau dialog dengan rakyatlah yang harus kita pikirkan. Saya kira pemimpin tidak perlu perantara hanya untuk berdialog dengan rakyat. Para perantara justru akan membuat apa yang seharusnya sampai ke telinga pemimpin jadi tidak sampai dan apa yang tidak disampaikan oleh rakyat justru disampaikan.
Saya kira, kita semua akan setuju bahwa kita harus membenahi ini semua agar anarki yang saat ini sudah menginjak usia balita tidak berkembang menjadi dewasa.
Baca juga tulisan terbaru Moh Arif Widarto berjudul Harga Minyak Goreng Turun Karena Diturunkan Pemerintah Atau Karena Harga CPO Turun?
Feb 14, 2009 @ 09:47:11
@Moh Arif Widarto,
terima kasih tambahan infonya, mas arif. sejatinya predikat sbg bangsa yang terhormat dan bermartabat itu, terlepas dari ekses kekerasan yang muncul, pada masa dulu, bangsa kita masih memiliki nilai kearifan lokal yang mengedepankan nilai2 kesantunan. namun, seiring peradaban yang terus berkembang, nilai2 kesantunan dan fatsun kehidupan itu sdh mulai luntur.
Feb 12, 2009 @ 07:59:55
Mungkin karena sejak merdeka hingga reformasi kita tidak pernah mengalami yg namanya demokrasi yg sesungguhnya. Ketika kebebasan itu datang, yg terjadi adalah politik massa. Shg kepentingan yg lebih besar (nasional) kalah oleh kepentingan segelintir org yg mengerahkan massa yg besar. Semoga artikel ini kembali menyadarkan kita agar menjalankan demokrasi scr baik dan benar.
Baca juga tulisan terbaru waw berjudul Nyamannya Terbang Dengan Mandala
Feb 14, 2009 @ 09:43:50
@waw,
nah, itu dia yang jadi persoalan, mas dewanto. politik masaa dan kerumunan di negeri ini ternyata sudah menjadi trend. dalam situasi seperti itu memang sulit dibedakan antara tuntutan aspirasi murni dan palsu.
Feb 12, 2009 @ 06:27:51
Salam Pak Sawali..
Pemahaman | Pendidikan | Provokasi | Trend — Ego | Picik | Alasan Pembenar | Prvokatif.
Kalau dari 100 orang yang berkerumun, 60 orang memiliki pemahaman seperti Bapak, saya yakin anarkisme pelan tapi pasti teranulir dari daftar script perbabak dalam pementasan lakon politis.
Tapi saya pribadi salut dengan para anarkis, Pak. Aksi yang dilakukan adalah cermin komitmen terhadap apa yang diyakini, teraktualisasi lewat penggunaan energi pemikiran dan tindakan yang teramat besar dan berlipat-lipat. Namun, dari itu semua belum tentu memiliki konsekuensi positif bagi pelaku anarki.
Sementara saya sebagai penonton aksi anarkis begitu capeknya, bahkan bosan dan akhirnya sesekali cuma bilang,”Halah! Gituan lagi.” Ganti channel atau mungkin gak juga saya baca. Simpati dan rasa ingin tahu sering kalah dengan hal2 demikian tadi.
Baca juga tulisan terbaru any farikhah berjudul Kiprah Cupang Betina
Feb 14, 2009 @ 09:42:39
@any farikhah,
wah, makasih banget tambahan infonya, mbak any. anarki pada awalnya memang utk menggugat kemapanan, khususnya sebagai reaksi terhadap kapitalisme. namun, dalam perkembangannya, anarki ternya sangat rentan terhadap kekerasan. ini yang perlu diwaspadai agar tak jadi preseden.
Feb 12, 2009 @ 04:47:23
Anarki mengindikasikan “kesehatan” masyarakat dalam menyambut hal yang bernama politik, Pak Sawali.
Dan sayangnya, memang baru segitu kemampuan rakyat kita, tapi saya optimis bisa membaik, meski tak tahu kapan
Baca juga tulisan terbaru DV berjudul Kue Lapis
Feb 14, 2009 @ 00:57:26
@DV,
ya, kita tetap harus optimis dan punya eksektasi, mas dony, meski harus melalui perjuangan yang tdk mudah. suatu ketika, politik dan demokrasi yang sehat, mudah2an bisa terwujud.
Feb 18, 2009 @ 23:48:17
@Sawali Tuhusetya, saya juga berharap terhadap hal yang sama pak
Feb 12, 2009 @ 03:56:55
Masalah ini memang lumayan rumit. Saya sempat ngomong2 sama Polisi terkait demo2 di Jakarta. Demo anarki itu memang menyebalkan. Tetapi suara rakyat yang tidak didengar itu juga sama menyebalkannya. Lha bahayanya justru di situ. Karena suatu kelompok melihat bahwa anarki itu efektif untuk mwujudkan keinginannya, karena kalo tidak anarki terbukti tidak didengar, maka jadilah anarki. Anarki itu sendiri nggak bener tetapi kalo pake cara yang bener kok ya nggak ada yang ngurusi. Pola pikirnya kan gicu.
Baca juga tulisan terbaru lovepassword berjudul Balada Dukun Cilik
Feb 14, 2009 @ 00:56:20
@lovepassword,
bener banget, mas love. anarki muncul pasti juga ada sebab2 dan latar belakangnya. kalau suara rakyat tak didengar, emosi massa dan kerumunan memang gampang tersulut, sehingga kekerasan pun sering tak sanggup dihindari, bahkan tak sedikit yang memakan korban.
Feb 12, 2009 @ 03:23:20
banyak variabel yang harus dipertimbangkan, mengapa sedemikian mudahnya kekerasan muncul, latar belakang saat ini mungkin sudah tidak bisa dianggap logis karena fakta sudah ada korban, tinggal salah dan menyalahkan saja jadinya, dan anarkisme sebagai mimpi yang cukup indah kata saya tujuannya, sudah tidak dihiraukan dan dicap sebagai kekerasan itu sendiri… bukankah praktek anarki terbesar adalah pada pasca tragedi 65, itu sudah dilupakan…
untunglah bangsa ini sangat mudah lupa kejadian kemaren, dan dengan berjamaah mereka menganggapnya sebagai angin lalu saja…
Baca juga tulisan terbaru suryaden berjudul kita, petani dan pensiun
Feb 14, 2009 @ 00:55:06
@suryaden,
hiks, jadi bangsa pelupa dalam konteks ini ternyata ada untungnya juga, mas surya, hhehe … bisa melupakan tragedi yang pernah mengoyak bangsanya. konon awalnya anarki memang dimaksudkan utk melawan nilai2 kapitalisme. namun, dalam perkembangannya ternyata dimanfaatkan juga utk menciptakan chaos dan aroma kekerasan.
Feb 12, 2009 @ 03:04:31
Suatu tragedi yang pernah terjadi di derah saya mas, dan saya coba ungkapkan dalam tulisan di blog saya itu. Bahkan sampai saat ini kalau ingat detik-detik saat kejadian saya ga bakal kuat makan… konon peristiwa itu pun ditunggangi, tapi entah oleh siapa
.
ngomong-ngomong saya pertamaxxx ya?
Baca juga tulisan terbaru sandyagustin berjudul Ngayau-Ngayau Penda Mentaya (4)
Feb 14, 2009 @ 00:53:11
@sandyagustin,
duh, itulah yang bikain situasi peradaban kita “sakit”, mas sandy, kalau mash muncul para petualang yang suka mengumbar situasi chaos dan keruh. ujung2nya, tragedi dan anarki seringkali tak bisa dihindari.