15May 2009 87 Comments1,648 pembaca
Ambika dan Ambalika Menuai Badai
Dada Dewi Ambika dan Ambalika yang sintal bergetar setiap kali kedua bola matanya menatap wajah Bhisma. Dua perempuan dari negeri Kasi itu tak juga mengerti kenapa lelaki pujaannya itu tetap bergeming; dingin dan cuek. Jangankan menyentuh, sekadar melirik pun tak pernah mau melakukannya. Padahal, sesungguhnya dialah pewaris sah bangsa Kuru. Kalau dia mau, jangankan dua perempuan, seratus perempuan pun pasti akan saling berebut untuk mendapatkan cintanya. Namun, sumpah dan dharmanya untuk tidak menjadi pewaris tahta dan ingin menjauhkan diri dari gebyar duniawi telah membuat lelaki perkasa itu harus mengubur segala hasrat dan keinginannya. Dia tak ubahnya patung hidup yang telah kehilangan nafsu dan hasrat untuk bersentuhan dengan perempuan. Bahkan, untuk mempertahankan kesetiaan pada sumpah dan dharmanya, dia tega membunuh Dewi Amba, perempuan cantik dari negeri Kasi yang amat mencintainya.
“Bener-bener lelaki gebleg! Lelaki di luar sana saling membunuh hanya sekadar untuk memperebutkan seorang perempuan! Lha ini, sudah jelas-jelas ada santapan di depan mata, huh, melirik pun ndak mau! Lelaki gendeng!” gumam Ambalika geram. Memang, semenjak Wicitrawirya, suaminya, meninggal, Ambalika merasakan kesepian yang membadai dalam jiwanya. Tak hanya lantaran hasrat dan tuntutan libidonya yang merindukan belaian seorang lelaki, tetapi juga nasibnya di Hastina. Apalagi, Wicitrawirya tak juga meninggalkan benih ke dalam perutnya. Itu artinya, dia bisa saja terusir sewaktu-waktu dari Hastina.
Hal yang sama juga dialami Ambika. Perempuan yang selalu tampil dengan rambut tergerai hingga sebahu itu sudah amat lama mendambakan Bhisma sebagai tambatan hatinya sejak dia diboyong ke Hastina. Selain tampan, Bhisma juga seorang ksatria pilih tanding. Namun, harapan itu pupus ketika Bhisma justru menyerahkan dirinya kepada Citranggada; lelaki yang terkesan feminim, tetapi mendadak bisa berubah biadab ketika sindrom kekejaman merasuki lorong batinnya. Apa boleh buat, Ambika tak punya pilihan, selain harus menerima Citranggada sebagai suaminya.
Akan tetapi, setelah Citranggada meninggal secara tragis di alun-alun Hastina, hasrat dan keinginannya untuk bisa bersanding dengan Bhisma kembali bersemi. Ambika tahu, hal itu mustahil terwujud. Namun, entah mengapa, semakin dilupakan, bayangan Bhisma justru seperti silhuet yang terus membuntuti dirinya.
Semula, Ambika dan Ambalika masih sanggup menutupi kerahasiaan yang menelikung batinnya. Namun, semakin rahasia itu dipendam, justru hasrat untuk bisa bersanding dengan Bhisma kian menggebu, hingga akhirnya mereka sama-sama maklum kalau harus mencintai lelaki yang sama.
“Hahahaha ….” Tawa mereka renyah suatu ketika setelah sama-sama mengungkapkan hasrat dan keinginannya. Meski demikian, mereka juga sama-sama memahami kalau impian itu mustahil dapat terwujud.
“Gimana, kalau kita nekad aja, Mbak?” desak Ambalika. Ambika membelalakkan bola mata. “Kita langsung serbu saja kamarnya! Jika perlu kita jebak dan bikin dia mabuk!” Gimana?” sambung Ambalika.
“Alah, mana mempan Mas Bhisma ditaklukkan dengan cara-cara kuna seperti itu?” sahut Ambika. “Sekarang yang penting, bagaimana caranya agar kita tetap bisa bertahan di Hastina!” lanjut Ambika. Belum tuntas mereka menumpahkan topik pergunjingan, tiba-tiba muncul Bhisma dari balik pintu. Dada kedua perempuan itu kian bergetar. Salah tingkah!
“Ambika, Ambalika! Sedang apa nih?” tanya Bhisma dengan sorot mata teduh dan berwibawa.
“Emmm … biasa, Mas, cari angin. Di kamar sumpek!” sahut Ambalika terbata-bata! Ambika hanya bisa tertunduk dengan dada bergemuruh.
“Kalian tak usah khawatir. Meski Citranggada dan Wicitrawirya sudah tiada, kalian tetap menjadi keluarga besar bangsa Kuru!” kata Bhisma dingin.
Entah, tiba-tiba saja ulu hati kedua perempuan itu seperti dihantam godam. Perih dan menyayat. Bhisma seperti bisa menebak apa yang ada dalam pikiran mereka. Keringat dingin tiba-tiba saja mencair di sela-sela anak rambut yang tumbuh lembut di jidat. Mereka tidak tahu, mengapa setiap kali berhadapan dengan Bhisma, mereka seperti mati kutu. Salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa.
“Sudahlah! Saya mau menghadap Bunda Satyawati dulu, yak!” sela Bhisma ketika kedua perempuan itu sedang mencoba untuk menenangkan perasaannya. Mereka tak menjawab apa-apa sampai akhirnya bayangan Bhisma hilang di balik sebuah tikungan.
***
Kegelisahan tak hanya dirasakan Ambika dan Ambalika. Satyawati justru menghadapi persoalan yang jauh lebih rumit. Dia merasa bersalah kepada Bhisma. Karena sikapnya yang serakah dan menginginkan agar anak keturunannya menjadi penguasa Hastina, dia telah membuat Bhisma harus kehilangan haknya sebagai pewaris sah Hastina. Dan kini, setelah Citranggada dan Wicitrawirya meninggal, Hastina seperti telah kehilangan pamornya.
“Sudahlah. Bunda! Bunda jangan merasa bersalah. Ini sudah menjadi kehendak takdir yang mesti saya jalani. Yang perlu kita pikirkan sekarang adalah bagaimana agar rakyat Hastina bisa secepatnya memiliki seorang pemimpin yang baru!” kata Bhisma ketika mendengarkan keluhan Dewi Satyawati.
“Lalu, siapa yang pantas menduduki tahta itu, anakku?” tanya Satyawati sambil menahan napas.
“Abiyasa!”
Gendang telinga Satyawati seperti tersengat lebah. Dia tak menduga kalau anak kandungnya yang lahir atas perkawinannya dengan Parasara itu, dipilih Bhisma sebagai penguasa Hastina.
“Sebentar, anakku! Apa tidak salah kamu memilih Abiyasa? Dia memang anakku, tapi dia bukan keturunan langsung almarhum Sentanu! Dia bukan keturunan bangsa Kuru!”
“Bunda! Bagi saya, Abiyasa sudah saya anggap sebagai keluarga besar bangsa Kuru. Meski bukan keturunan langsung ayahanda, tetapi dia putra Bunda, seperti saya juga!” sahut Bhisma. Satyawati menelan ludah. Diam-diam, dia sangat mengagumi Bhisma. Ketika banyak orang saling berebut tahta, harta, dan wanita, justru Bhisma bertekad menjauhkan diri dari segala urusan duniawi.
“Percayalah, Bunda! Saya tak akan pernah mengusik ketenangan Abiyasa dalam memimpin Hastina. Bahkan, saya telah bertekad untuk mendukungnya agar bangsa Kuru menjadi sebuah negeri impian, agung, megah, dan jaya!” tegas Bhisma.
“Emmmm …. Tapi Abiyasa kan juga belum menikah? Apa dia sudah layak memimpin negeri yang besar ini?” tanya Satyawati.
“Bunda tak usah khawatir. Kalau sarat itu diperlukan, saya siap untuk mencarikan jodoh buat Abiyasa!”
***
Pernikahan agung pun digelar. Atas bujukan Bhisma, Ambika dan Ambalika akhirnya bersedia menjadi istri Abiyasa yang berwajah bopeng dan menyeramkan. Tak lama kemudian, Abiyasa dilantik sebagai penguasa yang agung di negeri Hastina. Meski demikian, Ambika dan Ambalika belum juga sanggup menepiskan kekecewaannya ketika harus menikah dengan Abiyasa.
Semenjak menikah dengan Abiyasa, Ambika dan Ambalika seperti tersekap dalam sebuah lorong yang panjang dan singup. Setiap kali harus melayani Abiyasa di atas ranjang, Ambika merasa jijik sehingga terpaksa memejamkan mata. Dia tak sanggup menatap wajah suaminya yang tampak seperti monster itu. Demikian juga halnya dengan Ambalika. Setiap kali berada di atas ranjang bersama suaminya, dia merasa ketakutan dan berwajah pucat sehingga terpaksa memalingkan muka. Situasi memuakkan seperti itu terus berlangsung hingga akhirnya perut mereka pun gagal menolak benih yang ditaburkan oleh Abiyasa.
Sembilan bulan kemudian, anak mereka pun lahir. Namun, sungguh malang! Anak Ambika dan Ambalika ternyata lahir tak sempurna. Anak Ambika yang kemudian diberi nama Destrarastra lahir dalam keadaan buta, sedangkan anak Ambalika yang bernama Pandu Dewanata berwajah pucat dan berkepala tengkleng dengan posisi yang selalu miring ke kanan. Satyawati tentu saja kecewa menyaksikan cucu-cucunya yang lahir dalam keadaan tidak normal. Oleh karena itu, dia meminta salah seorang menantunya untuk kembali berhubungan badan dengan Abiyasa. Namun, lantaran mereka memang merasa muak melihat tampang suaminya, mereka pun melakukan persekongkolan jahat. Dengan berbagai tipu muslihat, mereka berhasil membujuk pembantunya agar menyamar sebagai Ambika atau Ambalika.
“Siapa menabur benih, bakal menuai badai!” Begitulah harga mahal yang harus ditebus Ambika dan Ambalika. Ternyata, anak yang lahir dari hasil pesekongkolan itu juga cacat. Kakinya pincang dan diberi nama Arya Widura.
Namun, siapa menyangka kalau anak keturunan Ambika dan Ambalika yang lahir tak sempurna itu kelak akan membuat geger peradaban jagad pewayangan. Banyak peristiwa tragis berbalut kelembutan yang ditorehkan oleh generasi masa depan Hastinapura itu. *** (Tancep kayon)
————-
Keterangan: Gambal diambil dari sini.
Urut dari atas ke bawah: Dewi Satyawati, Bhisma, Abiyasa, Ambika, dan Ambalika
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Ambika dan Ambalika Menuai Badai" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (15 May 2009 @ 01:03) pada kategori Sastra, Wayang dan telah dikunjungi oleh 1,648 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Nov 04, 2010 @ 10:34:15
Waduh dunia wayang enak juga diangkat buat jalan untuk tulisan ya, numpang belajar mas ..
Nov 07, 2010 @ 13:31:02
hehe … hanya sekadar wayang slengekan, mas syilla.
Oct 14, 2010 @ 10:08:36
Wah, keren bgt mas. Oalah, jd itu alasannya Destarata dan Pandu memiliki ciri khas spt itu?hmmmm
Jadi makin kagum sama Bhisma, si Dewabrata itu
Salam takzim mas.
Oct 14, 2010 @ 21:31:13
hehe … saya juga kagum atas kebersahajaan dan konsistensi sikap sang bhisma, mas!
Aug 06, 2010 @ 23:17:51
Cerita luar biasa sekali Pak Sawali….kagum saya…
mohon bimbingannya….
Aug 11, 2010 @ 00:31:17
walah, jangan ketinggian memujinya, mas. tulisan dengan gaya slengekan doang, kok. (worship)
Feb 17, 2010 @ 15:31:56
Usually, teachers are willing to examine the definition essay writing ability of some their students, however not all students are able to write professionally just because of a job or other reasons. Thence, a custom writing service can help to accomplish the term paper titles very fast.
May 29, 2009 @ 12:12:51
bang dibikin buku dunk.
Biar nerusin buku2 kaya karya Selo Gumira yg tentang pewayangan
bagus ceritanya bang
thx
Baca juga tulisan terbaru gaban berjudul Telecommunication, The Business that will never bankrupt
May 30, 2009 @ 16:32:23
wah, makasih banget masukannya, mas gaban. memang sdh ada beberapa kisah wayang slengekan, tapi kayaknya kok ndak mudah cari penerbit, ya? hehe …
May 21, 2009 @ 00:51:40
Salam
Igh beneran nie Pakde, saya penasaran cerita selanjutnya, peristiwa tragis apakah itu secara ga tahu persis cerita pewayangan tp sepertinya seru.
Baca juga tulisan terbaru Nenyok berjudul Hofmann: Menjadi “Muslim” Sebelum Resmi Islam
May 17, 2009 @ 20:39:33
Saya sudah sudah banyak lupa cerita pewayangan. Dulu baca Mahabaratha waktu masih SD. Nggak begitu mudeng. Jadi, banyak tokoh yang kurang kukenal.
Tapi, memang cerita pewayangan memang seperti replika realitas kehidupan. Tahta, harta, dan wanita selalu berkelindan untuk menjerumuskan manusia ke jurang kehancuran. Anehnya, selalu saja banyak manusia yang terus terjerumus dalam lubang yang sama.
Baca juga tulisan terbaru racheedus berjudul Obrolan Iseng di Suatu Siang
May 18, 2009 @ 01:19:43
@racheedus,
itulah kenyataan yang terjadi, mas rache. kalau saja nilai2 keluhuran budi yang terkandung dalam filsafat ayang ini *halah* diresapi dan diapresiasi, setidaknya bisa mengurangi rangsangan utk berbuat yang kurang terpuji.
May 17, 2009 @ 19:59:34
dari sepenggal kisah mahabharata ini, ada satu pesan yang saya tangkap yakni pria sejati begitu mampu mengekang hawa nafsu duniawi, sehingga kesannya jadi “mubazir,” pak. haha…
lha gimana nggak mubazir. proporsi wanita jauh lebih banyak dibandingkan pria, namun dari jumlah yang terbatas tersebut wanita harus menghadapi pria yang menikah, terlalu tua, terlalu muda, gay, atau yang tidak berani/tidak bersedia mengukuhkan komitmen karena berbagai sebab. ya contohnya kang bisma ini. huehehe…
Baca juga tulisan terbaru marshmallow berjudul 111 in 1
May 18, 2009 @ 01:18:49
@marshmallow,
mubazir? kekeke ….. mbak yulfi bisa saja nih. mahabharata memang epos besar. banyak negara yang memiliki epos ini dg berbagai versinya masing2. yang pasti, bhisma, kalau menurut saya malah bukan lelaki sejati, mbak, hehe … karena ndak pernah bersentuhan dg lawan jenis, keke ….
May 17, 2009 @ 11:59:09
dah atu critanya
tapi membaca tulisan pak sawali kayak lain git
caranya gimana sih pak de guru? supaya bisa nulis runut gitu?
May 17, 2009 @ 19:07:34
@suwung,
ketahuan lagi deh, kalau mas suwung memang bloger rendah hati, kekeke ….
May 16, 2009 @ 23:05:30
karya-karyanya emang mantappppp
Baca juga tulisan terbaru wahyoe berjudul Cerita Sang Katak
May 16, 2009 @ 23:48:54
@wahyoe,
kisah mahabarata memang tergolong epos besar, mas wahyoe, hehe …
May 16, 2009 @ 20:58:06
Ambika memejamkan mata di atas ranjang bukan karena jijik pada Abiyasa lho pak, tapi karena sedang merasakan kenikmatan.
Baca juga tulisan terbaru rochman berjudul Blog of The Year
May 16, 2009 @ 23:48:06
@rochman,
kekeke … kok pak jai tahu, ngintip, yak?
May 16, 2009 @ 20:11:45
Wah ceritanya bagus sekali..biar di goda bagaimanapun bhisma tetap teguh pada dharma sumpahnya ..
Mimnta ijin tak print pak ya..:)
May 16, 2009 @ 23:47:39
@Diah,
hehe … begitulah, mbak diah. btw, mangga mbak kalau mau ng-print. terimakasih.
May 16, 2009 @ 16:41:32
pak sawali ini karyanya selalu makyus …
)

sayang pak, kadang terlalu panjang … (apa sayanya yg nggak sabar yak ..
dadi mumet lek moco …
dadine mocone kesimpulane wae lah
hehehehe
Baca juga tulisan terbaru afwan auliyar berjudul SBY Berbudi, Mega Pro, JK Win …..
May 16, 2009 @ 23:46:58
@afwan auliyar,
hehehe … pakai model fast reading juga gpp, kok, mas afwan.
May 16, 2009 @ 15:02:26
wayang memang cermin tingkah laku manusia
ya kan pak?
salam kenal
May 16, 2009 @ 23:46:28
@nova gunawan,
betul sekali, mas nova. salam kenal juga. terima kasih kunjungan dan komentarnya.
May 16, 2009 @ 13:52:36
Cerpen yang renyah. Senang saya menikmatinya.
Baca juga tulisan terbaru ARISS_ berjudul Amargi Kula Bêbasa, Awit Saking Punika Kula Wontên
May 16, 2009 @ 23:45:50
@ARISS_,
sesungguhnya ini bukan cerpen, mas ariss, tapi hanya sekadar kisah ayang slengekan, karena kisah ini ada sumbernya. hanya dikembangkan berdasarkan imajinasi agar lebih sesuai dg konteks kekinian.
May 16, 2009 @ 12:17:58
banyak banget pelajaran yang bisa di ambil dari kisah ini ..
May 16, 2009 @ 23:44:19
@kayubali,
wah, terima kasih apresiasinya, mas.
May 16, 2009 @ 11:35:06
hikmah dan pelajaran dari wayang membuat kita njowo dalam interaksi sosial…
Baca juga tulisan terbaru azaxs berjudul Inilah Pesta Blogger 2009
May 16, 2009 @ 23:44:04
@azaxs,
wah, tidak salah kalau mas azaxs bilang seperti itu, hehe ….
May 16, 2009 @ 10:44:00
wayang itu sejarah bukan ya pak, soale kadang substansinya terulang tapi beda sikon
Baca juga tulisan terbaru masjaliteng berjudul Ayo menabung biar (b)untung!
May 16, 2009 @ 23:43:30
@masjaliteng,
saya kira kok bukan termasuk sejarah, masjaliteng. konon epos besar ramayana dan mahabharata merupakan kisah fiksi yang telah ditulis valmiki dan viyasa sejak bertahun-tahun yang silam. bahkan, kedua ephos besar itu ada banyak versi.
May 16, 2009 @ 08:34:34
Mempelajari cerita wayang, membuat banyak hal yang sebetulnya masih sesuai dengan zaman pak. Bahwa selalu ada intrik di kerajaan, keinginan berkuasa, seperti Satyawati yang ingin agar anak keturunannya sendiri yang boleh menjadi Raja, tanpa mempertimbangkan perasaan Bisma.
Baca juga tulisan terbaru edratna berjudul Privacy masing-masing pasangan, perlukah?
May 16, 2009 @ 23:41:07
@edratna,
betul sekali, bu enny. meski epos ini sudah ada sejak bertahun-tahun yang silam, kisah2nya masih kontekstual dg peristiwa kekinian.
May 16, 2009 @ 04:22:10
mulai kejawen ya pak, saya malah gak paham wayang pak padal bapak saya ahli jawa
Baca juga tulisan terbaru Ronggo berjudul LOWONGAN fotocute.com
May 16, 2009 @ 23:40:14
@Ronggo,
hehe … apa memang wayang itu identik dengan kejawen, mas ronggo?
May 16, 2009 @ 03:18:12
gambar wayangnya bagus…..
salam kenal
Baca juga tulisan terbaru buwel berjudul SEBELLLLL
May 16, 2009 @ 23:39:48
@buwel,
salam kenal juga, mas buwel. wew… gambar wayangnya “nyuri”, mas, hehe …
May 15, 2009 @ 23:50:04
Lama tdk baca cerita dunia pewayangan, akhirnya di blog ini saya bisa baca walau cuma sepenggal. Terima kasih mas atas postingannya
May 16, 2009 @ 23:39:16
@Benaya,
sama-sama, mas. makasih juga kunjungan dan apresiasinya.
May 15, 2009 @ 21:53:55
Datang menikmati cerita pewayangan versi ki dalang sawali.
Baca juga tulisan terbaru Dana Telco berjudul HP iPAQ 912
May 16, 2009 @ 03:14:54
@Dana Telco, he..he… Pak Sawli jadi dalang
May 16, 2009 @ 23:38:52
@arifudin,
wakakaka … masi arif kok jadi ikut2an, hiks.
May 16, 2009 @ 23:38:28
@Dana Telco,
walah, masa dana bisa saja nih. hanya sekadar postingan iseng kok, mas.
May 15, 2009 @ 19:45:54
Mahabarata memang cerita yang pelik dan rumit sekali, kita hanya bisa berkaca saja pada paparan yang ada. Yang bisa dipetik salah satunya adalah penghormatan kepada wanita ibu Satyawati dan keturunannya yang dianggap oleh Bhisma sebagai keluarganya, betapa Bhisma juga sangat menghargai kesakralan perkawinan yang lebih matang…
May 16, 2009 @ 23:38:07
@suryaden,
yaps, bener sekali, mas surya. banyak konflik yang tekandung dalam ephos besar ini. ada banyak nilai yang diungkap. ada dendam, kebencian, tapi ada juga kelembutan dan kasih sayang. bhisma merupakan sosok yang “langka” dalam dunia nyata, meski wayang bisa juga dijadikan sebagai bayangan alias cermin kehidupan umat manusia.
May 15, 2009 @ 19:15:34
Ambalika wae, dalane macet, padat merayap…
Ambalika, Aterusa, silakan pilih…
Baca juga tulisan terbaru marsudiyanto berjudul Meninggalkan Dunia Hitam = Keputihan
May 16, 2009 @ 23:36:29
@marsudiyanto,
hehehe … itu kata kerja bentuk perintah, pak mar, hehe …
May 15, 2009 @ 19:13:26
Apabila diterapkan di dalam kehidupan, sifatAmbika dan Ambalika itu mewakili sifat yang seperti apa ya, Pak? Apakah munafik atau pragmatis?
Jelas bahwa baik Ambika dan Ambalika perlu mengamankan diri untuk tetap dapat hidup di dalam istana Hastina. Keduanya mengincar Bhisma untuk dijadikan korban. Sayangnya, keduanya justru diberikan oleh Bhisma kepada Abiyasa. Demi tujuan untuk bisa tetap bertahan di Hastina, apakah keduanya munafik atau pragmatis dalam menerima posisi sebagai istri Abiyasa?
Mohon pencerahannya.
Baca juga tulisan terbaru Kombor berjudul Politik Kucing Kawin
May 16, 2009 @ 23:35:46
@Kombor,
kalau dirunut sejarahnya sih, keberadaan ambika dan ambalika di negeri hastina hanya faktor kebetulan saja. mereka bersama samba (yang akhirnya menitis ke srikandi) berhasil diboyong bhisma setelah berhasil memenangkan sayembara. mereka berdua dijodohkan dg citranggada dan wicitrawirya. setelah suami mereka menininggal timbul pemikiran semacam itu. mereka tetap ingin berada di hastina, shingga akhirnya mau dinikahi abhiyasa. dari sisi ini, sesungguhnya mereka bisa dibilang bersikap pragmatis. namun, mereka bis ajuga dibilang munafik, karena setelah menjadi istri abhiyasa, ternyata mereka tidak melayani dg baik, bahkan merasa jijik.
May 15, 2009 @ 18:20:46
heee..berbeda ya dengan cerita asli di Mahabrata…
hmm..kalo bulu mata seperti itu biasanya jarang dipakai untuk sehari-hari, bagi seorang fashionista, bulu mata tsbt dijadikan koleksi barang seni. menurut casual cutie bulu mata itu sangat “menakjubkan”, terutama salah satunya yang terbuat dari rangka daun kering kemudian dilapisi emas. kreativitas mereka patut diacungi jempol. hehehehe
Baca juga tulisan terbaru casual cutie berjudul Swimsuits
May 16, 2009 @ 18:03:36
@casual cutie,
hehe … mahabharata sendiri ada banyak versi, mbak. tapi muara wayang selalu tertuju pada kebajikan vs kejahatan. wow… itu reply ttg bulu mata di blog mbak cutie-kah?
May 15, 2009 @ 18:02:21
Pak Guru lagi ngajari Ndalang, ya? Keren…
Baca juga tulisan terbaru maskuncoro berjudul Personalisasi Blog Gratis Dengan “Domain Sendiri”
May 16, 2009 @ 18:02:32
@maskuncoro,
walah, hanya sekadar postingan iseng, kok, maskun.
May 15, 2009 @ 17:46:25
Bukan Bhisma nya yang baik, tapi yang punya grand design cerita itu yang hebat. Lika liku politik dan hati manusia dipaparkan dengan cara yang menarik.
Kalo lika liku politik dan hati manusia Indonesia, siapa yang punya grand design nya yah?
Baca juga tulisan terbaru Iwan Awaludin berjudul Semoga Indonesia jaya, rakyatnya sejahte…
May 16, 2009 @ 18:02:11
@Iwan Awaludin,
pak iwan? oh, yang punya kemampuan utk bikin grand design politik di negeri ini tentu saja mereka yang punya akses dan kekuatan utk melakukannya. wah, tapi ndak jelas juga sosoknya, hehe ….
May 15, 2009 @ 16:11:24
contohlah bismha, sudah jadi rebutan para wanita, punya nasionalisme yang tinggi…
May 16, 2009 @ 17:59:07
@ciwir,
mas santri mau meniru jejak bhisma jugakah?
May 15, 2009 @ 15:39:03
Tancep Kayon kapan petruk jadi ratunya pak he he
Baca juga tulisan terbaru masnur berjudul Speker masa depan
May 16, 2009 @ 17:58:48
@masnur,
hehe … masnur bisa saja nih. kalau ngangkat lakon itu berarti harus memasukkan dulu semua anak wayang ke dalam kotak, lalu mulai adegan jejer baru, hiks.
May 15, 2009 @ 15:13:30
wah..pelajaran wayang yang pas buat suasana pemilu sekanrang
Baca juga tulisan terbaru starwrite berjudul Hasil pertandingan sudirman cup 2009 : Indonesia vs Cina
May 16, 2009 @ 17:24:11
@starwrite,
hehe … hanya sekadar postingan iseng kok, mas.
May 15, 2009 @ 14:26:47
Ternyata pak sawali juga mahir dalam dunia pewayangan, gimana kalau Bapak jadi dalang juga
Baca juga tulisan terbaru achmad sholeh berjudul Hadapi Dengan Senyuman
May 16, 2009 @ 17:23:34
@achmad sholeh,
walah, hanya tulisan iseng saja, kok, pak. duh, kalau harus jadi dalang, umur dah ndak nyampai, pak, hehe ….
May 15, 2009 @ 14:18:03
Membaca cerita wayang ini jadi bisa kita bandingkan” Bhisma ” yang pewaris tahta, ternyata tidak seperti keturunan penguasa jaman sekarang. Betapa sangat bertolak belakang dengan realita sekarang, moga saja tulisan ini dibaca juga oleh pejabat dan keluarganya.
May 16, 2009 @ 17:22:48
@SEPUR,
betul sekali, mas pur. bahkan, mungkin bisa dibilang mustahil ketika zaman sekarang sudah memasukan peradaban “zaman edan”, konon kalau ndak ikut ngedan ndak bakal keduman, hehe …
May 15, 2009 @ 11:20:04
mas tancepkayon setelah sekian lama “menidurkan” blognya ternyata muncul disini.
May 16, 2009 @ 17:21:43
@adipati kademangan,
hehehe … iya, mas adipati. ternyata utk bisa rutin memosting wayang slengekan bukan hal yang mudah, hehe … seringkali terkalahkan oleh postingan yang lain.
May 15, 2009 @ 10:17:39
kisah mahabrata ini mirip kasus Antasari dengan Caddy Golf, Pria memang kuat di berikan ujian dengan harta yang banyak, tapi tidak akan kuat menahan godaaan seorang wanita. Seperti halnya HAWA yang menyuruh ADAM untuk memetik BUAH KHULDI, sudah dari sononya memang tabiat LAKI LAKI itu seperti ituuu
Baca juga tulisan terbaru bisnis online berjudul Pekerjaan terbesar webmaster adalah meningkatkan trafik
May 16, 2009 @ 17:17:06
@bisnis online,
wah, agaknya memang seperti itu, mas. perempuan masih menjadi penggoda nomor wahid buat kaum pria, hehe …
May 15, 2009 @ 09:25:07
Jika nafsu sudah tumpang tindih dengan kekuasaan… maka orang seperti Bhisma memang mencorong bak matahari, dalam bak palung, teduh bak rembulan menjadi dambaan semua orang… membuat tabik dan segan.
Cerita yang menarik pak…
Baca juga tulisan terbaru Xitalho berjudul Kenali Dirimu
May 16, 2009 @ 17:16:00
@Xitalho,
sayangnya bukan hal yang mudah utk bisa meneladani karakter bhisma seperti itu, mas xit … hehe ….
May 15, 2009 @ 09:09:54
sebab pencapaian tidaklah egois semata
selalu ada tempat untuk berbagi
halah..padune..
salam sih katresnan Pak Sawali
salam karaharjan sagung brayat ageng
May 16, 2009 @ 17:08:15
@tomy,
salam sih katresnan kembali, pak tomy, matur sembah nuwun.
May 15, 2009 @ 09:06:15
andai aku menjadi Bhisma
jalannya cerita tak akan berakhir tragis
Baca juga tulisan terbaru tomy berjudul SASTRA BINABAR
May 16, 2009 @ 17:07:50
@tomy,
sayangnya, memang hal itu mustahil, pak tomy, hehe …
May 15, 2009 @ 07:15:52
sepenggal yang saya catat dari kisah Pak Sawali ini bahwa di dunia wayang juga berlaku rumus : lelaki buruk tetap punya banyak peluang menikah dengan wanita cantik. Sedang wanita buruk tipis kemungkinan menikah dengan Lelaki tampan.
Betapa malang wanita..
Eit, tapi saya gak tahu apakah Pak Sawali juga menjelaskan bahwa kedua wanita diatas cantik-cantik. Hanya tubuh sintal bergetar yang sudah dideskripsikan
Baca juga tulisan terbaru novi berjudul Khaibar Khaibar Ya Yahuud : Anak-Anak itu Terlahir Kembali
May 16, 2009 @ 17:07:29
@novi,
hehe … konon pesona perempuan itu tak hanya sebatas di wajah, tapi juga pada bodi alias tubuh, mas novi, hehe … yang pasti ambika dan ambalika tergolong perempuan yang punya daya pesona, wakaka ….
May 05, 2010 @ 19:10:53
@novi,
versi aslix (karangan Walmiki) tdk mendeskripsikan figur amba, ambika & ambalika mas.. pd zaman itu wanita tak lebih dr piala, hadiah yg bisa diperoleh dengan sayembara… (jd apa gunax bertubuh sintal; & berwajah cantik jiak tak punya kebebasan utk memilih jodoh)
sebaik-baik wanita adalah yg menikah dengan pria yg dicintainya.. (jelek atau cantik bukan soal) :d
.-= Baca juga tulisan terbaru anto berjudul "Tukar Guling" =-.
May 15, 2009 @ 06:47:06
Selama saya baca Mahabarata, sepertinya bagian awal dari awal cerita selalu terlupakan, dan agaknya seperti ini ceritanya ya pak… Hehehe makin salut saja sama pak sawali.
Baca juga tulisan terbaru Dexter berjudul Ken Arok
May 16, 2009 @ 17:06:06
@Dexter,
hehehe … saya lebih ndak ngeh, mas kika, hehe … matur nuwun apresiasinya.
May 15, 2009 @ 02:06:34
Suatu yg tak pernah lepas dalam pengamatan saya terhadap cerita-cerita wayang adalah kekuasaan-nafsu-wanita-dan berdarah-darah. Saya kadang sulit menalar, kekuasaan selalu saja digerogoti. Adakah ini sudah jadi tabiat sebagai manusia ya pak?
May 16, 2009 @ 17:05:39
@Zulmasri,
bisa jadi begitu, pak. sebagai wayang (bayangan) kehidupan manusia, konflik dalam jagad pewayangan memang tak lepas dari perebutan harta. tahta, dan wanita yang seringkali berbumbu kekerasan. bisa jadi ini memang ingin menggambarkan peradaban umat manusia.
May 15, 2009 @ 01:15:52
wuih, ada “di atas ranjang” segala! ekekeke
pak sawali yang baik, di mana ya mencari dua orang wanita yang ‘beringas’ seperti itu? *ditabok*
__
btw, dalam banyak cerita mahabarata, sepenggal kisah ini jarang sekali ditampilkan, dikaji dan ditelaah. padahal, bukankah ini yang mendasari keseluruhan bangun cerita?
kalau ada nambah lagi dong, pak, periode sebelum pandawa dan kurawa lahir….
maturnuwun, pareng
Baca juga tulisan terbaru goop berjudul Meniti Tangga
May 16, 2009 @ 17:04:20
@goop,
hehehe … mas goop bertekad utk memburu dua peremouan yang “beringas” itu? jangan dong, cari yang jinak saja, keke … hmmm … kisah ini kan juga termasuk lakon tua, mas. para pendawa dan kurawa belum lahir.