Menikmati Aktivitas Ngeblog

Pada tulisan kali ini, saya ingin mencoba flash-back sejenak tentang aktivitas saya di dunia virtual yang berlangsung sejak medio 2007 yang silam. Ini artinya, sudah dua tahun saya mulai intens –kalau boleh dibilang demikian– ngeblog hingga akhirnya saya memiliki banyak sahabat. Sebagian sudah pernah bertemu langsung lewat kopi darat atau pada pertemuan-pertemuan yang serba tak terduga dan sebagian besar lagi baru sebatas bersilaturahmi lewat jagad maya.

Pertanyaannya sekarang, adakah manfaat praktis yang bisa saya dapatkan hingga saya rela berpayah-payah menyisihkan waktu untuk ngeblog, membayar rekening listrik yang membengkak, atau koneksi internet yang mesti rutin saya bayar setiap bulannya?

Hmmm …. Deretan pertanyaan semacam itu sejatinya bisa dijawab dengan mudah oleh para bloger. Hampir tak ada aktivitas ngeblog yang nihil dari peran elektronik dan internet. Pemanfaatan kedua piranti teknologi ini jelas sangat erat kaitannya dengan tagihan rekening, hehe …. Meski demikian, saya tak ingin terjebak pada perhitungan-perhitungan pragmatis semacam itu. Kalau toh terpaksa harus saya jawab, pasti saya langsung akan menghentikan aktivitas ngeblog seandainya membuat anggaran rumah tangga jadi timpang. Saya pasti juga akan langsung tiarap dan menyatakan “alergi-blog” seandainya isteri marah-marah lantaran uang belanja dan keperluan hidup anak-anak saya potong untuk keperluan membayar rekening listrik dan internet. Dengan kata lain, aktivitas ngeblog sesungguhnya tak sampai membuat isi kantong kita terkuras sekadar untuk bisa memuaskan adrenalin dan sekaligus memanjakan naluri bersentuhan dengan dunia maya.

Yang justru menarik bagi saya adalah manfaat-manfaat non-praktis dan “blessing in disguise” yang hampir selalu muncul di balik jerih payah saya itu. Selain memiliki banyak sahabat, aktivitas menulis juga jadi makin terpacu. Proses aktualisasi diri juga makin eksis lantaran ada media yang dengan gampang bisa saya jadikan sebagai wadah untuk menampung pemikiran dan emosi-emosi naif saya soal hidup dan kehidupan. Sungguh berbeda dengan aktivitas menulis di media cetak yang mesti tunduk pada otoritas dan selera sang redaksi. Kapan saja saya punya ide dan keinginan untuk menulis, saat itu juga saya bisa menumpahkan sampah-sampah pemikiran naif saya di kompleks blogosphere. Karena tuntutan aktualisasi diri, dengan sendirinya saya perlu terus mendapatkan asupan dan nutrisi batin dengan banyak membaca dan mengikuti berbagai informasi apa saja, entah persoalan pendidikan, sastra, bahasa, budaya, sosial, bahkan hingga hiruk-pikuk politik.

Melalui asupan dan nutrisi batin yang cukup, setidaknya saya punya sedikit modal untuk memberikan inspirasi buat murid-murid saya tentang kesejatian makna hidup. Aktivitas ngeblog telah menyentuh naluri saya sebagai seorang pendidik untuk membebaskan mitos murid sebagai robot yang hanya bisa menjalankan perintah dan taat pada komando. Mereka bukan binatang sirkus yang harus selalu patuh dan taat aba-aba sang pawang. Murid adalah potret generasi masa depan yang harus bisa menentukan jalan hidupnya secara cerdas dan kreatif, hingga kelak mereka bukan menjadi beban bangsa, melainkan justru menjadi “katalisator” yang mampu memadukan kekuatan, baik di dalam dirinya maupun di luar dirinya, hingga sanggup melahirkan potensi dahsyat untuk melakukan sebuah perubahan.

Bombastiskah saya? Bisa jadi! Namun, setidaknya saya telah mencoba untuk membebaskan mitos itu, meski atmosfer pendidikan belum optimal mendukungnya.

Ngeblog juga telah membuat saya memiliki jaringan –offline dan online—yang lebih luas dan terbuka. Wilayah kerja saya sebagai pendidik tak lagi sebatas empat dinding ruang kelas, melainkan bisa merambah hingga ke ranah di luar tugas, pokok, dan fungsi (Tupoksi) sebagai guru. Dengan cara demikian, mudah-mudahan saya tak terjebak menjadi “guru kurikulum”, melainkan berupaya untuk menjadi “guru inspiratif” yang bisa memberikan nilai tambah buat murid-murid saya dalam upaya menemukan kesejatian makna hidup mereka. Bagi saya, pengalaman-pengalaman sosial dan kultural semacam inilah yang tak bisa diukur semata-mata dengan menggunakan dimensi materi dan keuntungan finansial.

Berkaitan dengan dua tahun melakukan aktivitas ngeblog, saya ingin mengucapkan terima kasih dan apresiasi tak terhingga kepada semua sahabat bloger dan para pengunjung yang telah berkenan menyambangi gubug saya ini. Semoga silaturahmi semacam ini, meski baru sebatas di dunia maya, bisa terus berlanjut. Juga kepada Mas Itempoeti dan Mbak Sinta, sekali lagi terima kasih atas pemberian awardnya.

Hmmm … tiba-tiba saja saya jadi teringat blog yang pertama kali saya buat ketika berkenalan dengan dunia virtual. Blog bertitel “Jalan Mendaki” ini sudah lama tak pernah saya update, bahkan mangkrak dan terurus. Meski menjadi blog sulung, ia lebih banyak mengalah. Ia merelakan adik-adiknya terus dielus-elus dan dirawat serta membiarkan dirinya ditelantarkan hingga hampir satu setengah tahun lamanya, hehe ….

Karena ingin sedikit berbuat adil dan menyambung alur kesejarahan sejak mengenal dunia virtual, saya ingin mencoba menghidupkan blog ini kembali. “Jalan Mendaki” sebagai titel blog lebih saya maksudkan untuk mewadahi pemikiran-pemikiran naif saya soal hidup dan kehidupan. Dinamika hidup, dalam pandangan awam saya, tak lebih dari sebuah jalan terjal dan berliku yang perlu terus didaki untuk menggapai makna kearifan hidup. Ia tak bisa didaki secara instan, tapi butuh keringat, perjuangan, dan kerja keras, hingga menghasilkan sesuatu yang bermakna dan bermanfaat. Jangan lupa disambangi juga, ya, hehe …..

Nah, salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Aktivitas Blogwalking dan Hadiah Buku (Sunday, 18 December 2011, 827 pembaca, 68 respon) Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke blog rumahkayu yang tengah menyongsong ulang tahun ke-3 rumah virtualnya. Sungguh tak terduga, hanya...
Menjaga Spirit dan Konsistensi Ngeblog (Thursday, 1 December 2011, 1,157 pembaca, 29 respon) Di tengah menjamurnya jejaring sosial dengan berbagai variannya, blog –dalam pandangan awam saya—belum bisa tergantikan peran dan fungsinya...
Catatan Pasca-Tiga Tahun Ngeblog: Sebuah Refleksi (Thursday, 30 December 2010, 1,408 pembaca, 79 respon) Tanpa terasa, sudah lebih tiga tahun, waktu yang relatif pendek untuk ukuran aktivitas ngeblog, saya menyusuri pasang-surut ngeblog di kompleks...
Aktivitas Ngeblog Selama Ramadhan (Saturday, 14 August 2010, 1,608 pembaca, 74 respon) Ngeblog –untuk menggantikan kata kompleks “mengeblog” dalam Bahasa Indonesia Baku– merupakan aktivitas seorang bloger dalam ranah...
Blogwalking: Jalan Menuju Sehat (Monday, 1 February 2010, 1,874 pembaca, 234 respon) Blogwalking? Hmm … istilah yang satu ini pasti sudah tak asing lagi di kalangan bloger. Konon, kosakata ini hadir ketika blogger butuh...
tentang blog iniTulisan berjudul "Menikmati Aktivitas Ngeblog" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (6 July 2009 @ 03:49) pada kategori Blog, Edukasi, Opini, Refleksi dan telah dikunjungi oleh 1,276 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini: