26Oct 2009 149 Comments3,295 pembaca
Ragam Bahasa Media Internet dan “Euforia” Berekspresi
Kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi, agaknya telah memberikan pengaruh besar terhadap pola dan gaya interaksi umat manusia. Jarak dan luas wilayah komunikasi telah menembus batas dimensi ruang dan waktu. Manusia masa kini tak cukup hanya berkomunikasi secara sosial di dunia nyata, tetapi juga telah jauh merambah berinteraksi secara maya melalui media internet. Tak berlebihan kalau jumlah pengguna internet belakangan ini meningkat tajam. Menurut Direktur Marketing First Media, Dicky Moechtar, pengguna internet –berdasarkan www.internetworldstats.com– tumbuh lebih 1.000 persen dalam 10 tahun terakhir. Pada tahun 2008 saja, total pengguna internet mencapai 25 juta. Jumlah itu dipastikan terus bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah jejaring sosial yang memberikan kemudahan dan memanjakan penggunanya dalam berinteraksi secara maya sebagai media ekspresi untuk beraktualisasi diri.


Meningkatnya jumlah pengguna internet, disadari atau tidak, juga berimbas terhadap meningkatnya pengguna layanan web atau blog. Para pengguna internet tak hanya puas sebagai pengguna pasif, tetapi juga telah meningkat intensitasnya sebagai pengguna aktif dengan menciptakan rumah maya, baik dalam genre web atau blog, sebagai bagian dari “kebutuhan hidup” ketika sekat-sekat geografis tak lagi mengenal jarak. Web atau blog telah berubah fungsi sebagai “hunian maya” yang dengan mudah ditemukan alamatnya melalui mesin pencari.
Meningkatnya jumlah pengelola web atau blog jelas akan berimplikasi terhadap penggunaan ragam bahasa di media internet sebagai sarana untuk berekspresi. Bahasa tak semata-mata dimanfaatkan sebatas untuk menyampaikan informasi, tetapi juga digunakan sebagai media untuk memberikan hiburan dan memengaruhi publik. Melalui web atau blog, seorang pemegang akun web atau blog bisa memanfaatkan bahasa untuk berbagai macam kepentingan sesuai dengan “mazab” yang dianutnya. Dengan kata lain, bahasa telah menciptakan sebuah conditio sine qua non di jagad maya ketika “kebutuhan” akan aktualisasi diri menjadi bagian esensial dalam dinamika kehidupan manusia masa kini.
Persoalannya sekarang, mampukah web atau blog yang secara kuantitas menunjukkan perkembangan yang cepat dan dinamis memberikan pengaruh positif terhadap penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar? Mampukah web atau blog memerankan dan memosisikan dirinya sebagai media virtual yang mampu berkiprah secara intens dalam mewujudkan bahasa Indonesia yang lebih terhormat dan bermartabat?
Ragam Bahasa Web atau Blog
Bahasa pada hakikatnya merupakan kombinasi berbagai macam simbol yang diatur secara sistematis sehingga dapat dipergunakan sebagai alat komunikasi secara arbitrer (mana suka). Simbol-simbol yang tertata secara sistematis akan melahirkan kata sebagai bagian esensial dari sebuah bahasa yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu hingga akhirnya melahirkan sebuah wacana, baik lisan maupun tulisan. Karena berupa lambang atau simbol, dengan sendirinya bahasa membutuhkan kesepakatan, sehingga antara komunikator dan komunikan bisa saling memahami maksud yang tersirat di balik simbol-simbol bahasa yang digunakan. Ini artinya, seorang pengguna bahasa –secara sosial– tak bisa bersikap ala Tarzan dengan menciptakan sistem dan pola kebahasaan sendiri tanpa memperhatikan konteks kultur dan latar sosialnya.
Ragam bahasa media internet, khususnya dalam web atau blog, pun tak bisa melepaskan diri dari konteks kultur dan latar sosial keindonesiaan ketika kesepakatan untuk menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai ranah komunikasi telah muncul lebih dari delapan dasa warsa yang silam. Dalam konteks demikian, penggunaan bahasa web atau blog perlu memperhatikan kode bahasa, kode sosial, dan kode budaya sesuai dengan kepentingan ekspresi pengelolanya sehingga pesan-pesan yang disampaikan kepada publik bisa berlangsung efektif dan tepat sasaran.
Secara umum, ada dua kecenderungan penggunaan web atau blog di media internet. Pertama, web atau blog yang digunakan untuk kepentingan ekspresi pribadi (personal). Kedua, web atau blog yang digunakan untuk kepentingan ekspresi institusi (organisasi).
Dari ranah penggunaan bahasa, antara blog pribadi dan institusi memiliki perbedaan yang cukup kontras. Web atau blog pribadi cenderung menggunakan ragam bahasa santai dan tidak resmi dengan beragam kepentingan berekspresi yang bernuansa menghibur. Hal ini tampak pada blog yang digunakan untuk curhat, mendedahkan pengalaman hidup, atau memublikasikan tema-tema tulisan yang ringan dan santai. Meski demikian, tak sedikit juga web atau blog pribadi yang digunakan untuk menyampaikan informasi, opini, refleksi, atau memengaruhi orang lain dengan menggunakan ragam bahasa resmi, tanpa mengabaikan sisi efektivitas berkomunikasi.
Web atau blog institusi, dalam pengamatan awam saya, lebih banyak digunakan untuk membangun pencitraan dan sekaligus dimanfaatkan sebagai corong institusi yang bersangkutan dalam menyampaikan informasi dan memengaruhi publik sesuai dengan kepentingan visi dan misinya. Oleh karena itu, web atau blog institusi pada umumnya cenderung menggunakan ragam bahasa baku dan sebisa mungkin menghindarkan ragam bahasa santai untuk menghapuskan kesan ketaksaan atau pengaburan pesan.
Dalam situasi seperti itu, bahasa sesungguhnya memiliki peran yang amat penting sebagai media untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan, baik melalui blog pribadi maupun institusi. Dengan kata lain, web atau blog tak akan pernah bisa lahir dan eksis tanpa dukungan media bahasa. Ini artinya, kedudukan bahasa Indonesia seharusnya makin terhormat dan bermartabat seiring dengan meningkatnya jumlah web atau blog yang terus bermunculan di internet.
“Euforia” Berekspresi
Namun, secara jujur harus diakui, menjamurnya jumlah web atau blog belum bisa menjadi jaminan kalau keberadaan dan kedaulatan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional menjadi lebih terhormat dan bermartabat. Munculnya gejala campur kode yang menggabungkan antara ragam bahasa prokem, dialek, Indon-English, dan berbagai ragam bahasa campur-aduk ke dalam sebuah teks virtual, disadari atau tidak, justru telah menghilangkan esensi bahasa sebagai media komunikasi yang seharusnya perlu mempertimbangkan penggunaan simbol-simbol dan kode-kode bahasa secara sistematis. Tidak sedikit bahasa blog yang terjebak ke dalam atmosfer “euforia” berekspresi semata sehingga tidak lagi memperhatikan batasan-batasan sosio-kultural pembacanya. Pengelola blog sibuk bermain-main dengan bahasa yang sesuai dengan selera personalnya, sehingga pesan-pesan yang hendak disampaikan kepada publik yang beragam latar belakang sosio-kulturalnya gagal terwujud secara efektif.
Salahkah kalau seorang pengelola web atau blog menggunakan gejala campur kode ke dalam sebuah postingan hingga terperangkap ke dalam “euforia” berekspresi? Saya pikir, persoalannya bukan salah atau benar, melainkan lebih kepada persoalan efektif atau tidaknya pesan-pesan yang hendak disampaikan itu kepada publik. Ibarat sebuah rumah, web atau blog menjadi hak prerogatif dan urusan pribadi sepenuhnya dari sang pemilik. Mau menggunakan desain dan corak content apa pun, tak seorang pun yang bisa mengusiknya. Meski demikian, tak ada salahnya kalau desain blog yang bagus diimbangi dengan penggunaan bahasa yang terbebas dari ketaksaan alias pengaburan makna. Dengan cara demikian, pesan-pesan yang hendak disampaikan kepada publik bisa berlangsung lebih efektif dan terbebas dari tafsir ganda.
Dinamika dan perkembangan bahasa, termasuk bahasa Indonesia, akan sangat ditentukan oleh semangat penggunanya dalam berekspresi dan berkomunikasi. Ketika interaksi dan komunikasi tidak lagi terbelenggu oleh sekat-sekat geografis dan perkembangan web atau blog menunjukkan peningkatan signifikan secara kuantitas, keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sekaligus juga sebagai bahasa resmi akan terus diuji oleh semangat zamannya. Dalam konteks demikian, kearifan para pengelola web atau blog sebagai penjaga gawang dunia virtual dalam menggunakan bahasa Indonesia sebagai piranti utama dalam berekspresi akan ikut menjadi penentu kehormatan dan kedaulatan bahasa Indonesia. ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Ragam Bahasa Media Internet dan “Euforia” Berekspresi" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (26 October 2009 @ 16:49) pada kategori Bahasa, Blog, Budaya, Opini, Pragmatik, Refleksi, Wacana dan telah dikunjungi oleh 3,295 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Dec 04, 2010 @ 09:13:43
Wah, jadi malu nih sama mbah sawali.
Blog Q tak berkarakter, bahkan jarang memakai BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR. Blognya Pak sawali Berarti BLOG EYD donk…. (rofl)
Jun 16, 2010 @ 16:49:40
Euforia blog gak akan ada matinya.
Nov 03, 2009 @ 07:55:53
dapat ilmu lagi nih. setuju gunakan bahasa Indonesia yang benar. tapi kadang-kadang perlu rileks juga sih
Nov 05, 2009 @ 00:06:56
bener sekali, mas. ragam bahasa internet memang perlu disesuaikan dengan tema yang dibahas.
Nov 02, 2009 @ 19:03:20
Setiap p Sawali berbicara tentang bahasa Indonesia, saya jadi keki sendiri ketika mau nulis komentar. Lha wong saya guru bahasa Inggris, serba ewuh. Kadang jemari saya saat mencet keypad laptop seperti otomatis dan tanpa saya sadari keluarnya bahasa Inggris. Tetapi tetap kontrol, Pak, lebih seringnya ya pakai bahasa Indonesia. Saya juga tidak mau kehilangan jati diri.
.-= Baca juga tulisan terbaru M Mursyid PW berjudul Saatnya Sekolah Berbenah Diri Mempersiapkan Guru Memanfaatkan ICT =-.
Nov 05, 2009 @ 00:05:08
hehe … bahasa indonesia tidak anti bahasa asing, kok, pak mursyid. dalam perkembangannya malah sangat lentur dan adaptif dalam menerima pengaruh bahasa asing.
Nov 02, 2009 @ 11:59:08
Betul sekali Pak, walaupun blog pribadi tapi ia sudah merambah ranah publik, sehingga bahasa seseorang akan sampai kebada banyak orang. Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang dilindungi UUD. Sumpah Pemuda 81 tahun yang lalu masih perlu diupayakan dalam pelaksanaannya, yaitu menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia ini menjadi simbol bangsa. Amerika Serikat baru mengakui bahasa Inggris sebagai bahasa nasional itu tahun 2006. Kita bangga punya bahasa nasional sejak puluhan tahun lalu.
Terima kasih Pak.
Salam hangat buat keluarga.
.-= Baca juga tulisan terbaru Abdul Aziz berjudul Populasi Muslim Dunia ( Part 3 ) : Muslim Sunni dan Syi’ah =-.
Nov 05, 2009 @ 00:01:37
salam hangat kembali, mas azis. idealnya memang demikian, mas. blog pun bisa ikut membuat bahasa indonesia jadi lebih terhormat dan bermartabat.
Nov 01, 2009 @ 23:10:04
bahasan yang cukup panjang tp menik untuk dibaca,, terima kasih pak sawali
.-= Baca juga tulisan terbaru free articles berjudul ENTRUST YOUR HOME TO HORIZON CARE SERVICE =-.
Nov 04, 2009 @ 23:57:37
terima kasih komentar dan aporesiasinya, mas.
Nov 01, 2009 @ 23:09:08
bukan hanya mengexpresikan diri, tp blog jg bs sebgai alat untuk mencari penghasilan pak :d
.-= Baca juga tulisan terbaru roomeyda berjudul CERITA CINTA DIRIKU DAN DIRINYA =-.
Nov 04, 2009 @ 23:57:06
setuju, mas roomen, makanya saya ingin juga belajar dapat duwit dari blog, nih, hehe …
Nov 01, 2009 @ 23:07:26
memang harusnya blog menggunakan bahasa resmi agar bs menjunjung martabat bangsa,,, :-w
.-= Baca juga tulisan terbaru online blog berjudul BEST DESIGN OF BUSINESS CARDS =-.
Nov 04, 2009 @ 23:56:33
hehe … ndak harus selalu bahasa resmi, mas kalau memang tema yang diangkat tentang hal2 yang ringan dan santai.
Nov 01, 2009 @ 23:05:12
.-= Baca juga tulisan terbaru berita dunia berjudul DONNA AMELIA DEKATI ANANG HERMANSYAH =-.
Nov 04, 2009 @ 23:55:56
betul sekali, mas. tapi tidak menutup kemungkinan adanya upaya utk memengaruhi publik, kan, mas.
Nov 01, 2009 @ 23:03:55
kalau blog yg saya buat rata2 bahasanya santai tapi formal pak :d artinya bukan bahasa gaul walaupun isiny tntang penglaman pribadi dan sejenisnya
.-= Baca juga tulisan terbaru kumpulan bisnis berjudul TIPS BANYAK JOB DARI BLOGSVERTISE =-.
Nov 04, 2009 @ 23:55:16
bagus juga tuh, mas rooomen, ragam bahasa yang sampeyan gunakan.
Nov 01, 2009 @ 23:01:33
bener pak,, sekarg intensitas pngguna internet semakin tinggi. penyedia layanan informasi jg semakin bayk dg membuat blog/web
>-
.-= Baca juga tulisan terbaru roomen berjudul FOUND YOUR FAVORITE HOSTING WITH WEB HOSTING RATING =-.
Nov 04, 2009 @ 23:54:31
memang seperti itulah perkembangan dunia internet di negeri ini, mas roomen.
Nov 01, 2009 @ 13:10:08
memang tulisan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar membuat si pembaca dapat memahami tulisan dengan baik. saya pun masih belajar untuk bisa menulis dengan kaidah benar.
Cara Membuat Website
.-= Baca juga tulisan terbaru Cara Membuat Blog berjudul Cara Membuat blog sebanyak-banyaknya jika bisa! =-.
Nov 04, 2009 @ 23:50:31
baguslah, mas. tapi berbahasa indonesia yang baik dan benar tidak sama dg berbahasa baku, loh, mas. artinya, perlu disesuaikan dengan konteksnya.
Oct 29, 2009 @ 18:50:28
pengayaan dan keragaman bahasa, dengan mudahnya orang2 dari berbagai latar bahasa (daerah di Indonesia) memberikan peluang semakin kaya bahasa Indonesia. Penggunaan yang baik dan benar, berdasarkan bahasa yang dipakai tentu sangat diharapkan.
Nov 04, 2009 @ 23:12:29
iya nih, bang ben. dalam perkembangannya, bahasa indonesia juga sangat luwes dan lentur dalam menerima pengaruh dari bahasa lain, kok, baik bahasa daerah maupun bahasa asing.
Oct 29, 2009 @ 17:44:50
kata bu guru :
maka dari itu gunakanlah bahasa indonesia dengan baik dan benar
xixixixi ….
Nov 04, 2009 @ 23:11:35
hehe … ajakan yang mantab tuh, mbak olip.
Oct 29, 2009 @ 13:53:13
Kadang saya malah setenagh hati kalau harus membaca artikel dengan gaya menulis prokem begitu, karena disamping harus mencerna lebih dalam maksud si penulis juga agak2 malu karena bahasa kita jadi campur aduk. Dan lebi malu lagi kalau di klik translate ke bahasa Inggris jadi lebih lucu lagi. Sangat berantakan.
Padahal saya pernah tes (berkali-kali sih) kalau saya membuat tulisan dengan bahasa Indonesia yang baik ketika di translate dengan google translate masih bisa dimaknai dan hanya sedikit editing. jadi mengapa menyusahkan diri dengan “euforia berekspresi”. Menurut saya sih, memang semuanya perlu ada batasnya.
Bahasan yang mantap Pak.
Nov 04, 2009 @ 23:11:10
saya kira benar sekali, mas nur. bahasa prokem sesungguhnya malah lebih sulit dipahami karena umumnya hanya berlaku bagi kelompok pemakai bahasa di kalangan terbatas.
Oct 29, 2009 @ 13:09:16
karena mengajar bahasa di kelas, maka saya selalu berusaha untuk menggunakan bahasa yang baku pada saat menulis di blog. tapi tetap saja tidak tepat 100%
Nov 04, 2009 @ 23:10:11
wah, utk bahas ablog kan memang ndak harus baku, mas pengendara. kan perlu disesuaikan juga dengan tema yang dibahas.
Oct 29, 2009 @ 10:50:12
lapor Pak
kami para pemuda yang menggunakan blog sebagai wahana membangun generasi bangsa sudah mendeklarasikan SUMPAH BUDAYA
http://tomyarjunanto.wordpress.com/2009/10/28/sumpah-budaya/
1. MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA
2. MENJADIKAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PIJAKAN IDE-IDE KREATIF PEMBANGUNAN
3. MENGEMBANGKAN KEARIFAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI NILAI-NILAI PEMBANGUNAN NASIONAL
4. MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI MORAL, MENTAL DAN AJARAN HIDUP BERMASYARAKAT YANG ADA DI BUDAYA DAERAH DALAM RANGKA MENDUKUNG PERKEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA.
5. MENGURANGI PENGARUH NEGATIF BUDAYA GLOBAL DENGAN MENGEMBANGKAN BUDAYA NUSANTARA
MOTTO :
THINK LOCALLY ACT GLOBALLY !!
SUMPAH BUDAYA
BERBUDAYA SATU, BUDAYA NUSANTARA
BERJATI DIRI SATU, JATI DIRI BANGSA INDONESIA
KASIH SAYANG SATU, KASIH SAYANG LINTAS AGAMA
Indonesia, 28 Oktober 2009:d:d
Nov 04, 2009 @ 23:09:14
wah, mantab juga tuh, pak tom[y. ada sumpah budaya juga.
Oct 29, 2009 @ 10:02:48
wah,,manfaat,,hehehheh
Nov 04, 2009 @ 23:08:43
makasih, mas rezky. hehe …
Oct 29, 2009 @ 08:51:16
Ya…saya sih kadang menggunakan bahasa sesuai tema atau suasana hati, namun masih bisa dipakai sebagai sarana komunikasi antar neter, tapi saya gak akan pernah egois dalam artian bahasanya bisa dimengerti saya sendiri atau kumpulan tertentu, kecuali tulisan saya tersebut di tujukan ke kalangan tertentu saja, tidak seperti anak anak remaja saat ini yang menggunakan bahasa atau kalimat yag susah di mengerti contoh : K4pn Pul4nk..n1ch..( ada yang bilang ini bahasa ALAY ) namun di tampilkan diranah yang luas seperti internet ini, yang baca ikut ikutan pusing…he..he.
ya itulah eksprtesi pak.. yg namanya ekspresinya..memang banyak ragamnya..
Nov 04, 2009 @ 23:07:50
betul sekali, mas yulian. ragam bahasa blog memang cukup variatif dan itu sah2 saja, kok, asalkan tidak makin mengaburkan maknanya.
Oct 29, 2009 @ 08:15:21
Inilah ulasan menarik dari seorang guru Bahasa Indonesia.
Semoga para blogger, di satu sisi tak terbelenggu dengan kaidah bahasa tapi di sisi lain benar2 mampu memperhatikan kaidah itu…
Selamat…:d/
Nov 04, 2009 @ 23:04:04
hehe … pak deni? walah, hanya sekadar menyongsong kehadiran bulan bahasa kok, pak.
Oct 29, 2009 @ 03:04:35
wah sepertinya blog saya termasuk yang campur aduk penggunaan bahasanya…kadang bahasa baku dicampur santai. masih terus belajar pak…
tapi dengar2..penggunaan bahasa indonesia di internet semakin berkurang ya? apa karena takut kesannya jadi kurang global ya pak…? karena memang bahasa inggris yang sudah punya cap “internasional”
Nov 04, 2009 @ 23:01:54
hehe … ya ndak apa2 toh, mas gerilya. penggunaan ragam bahasa kan juga mesti menyesuaikan dengan tema postingannya.
Oct 29, 2009 @ 00:16:55
mudah-mudahan saya bisa menambah pengetahuan kebahasaan (khusunya Bahasa Indonesia) melalui media internet ini…
syukur2 bisa mengekfresikan diri..
Nov 04, 2009 @ 23:03:31
saya yakin bisa mas abula. apalagi kalau update postingannya bisa konsisten.
Oct 29, 2009 @ 00:12:30
begitu beragamnya latar belakang yang memotivasi lahirnya keinginan untuk ngeblog sehingga semakin sulit rasanya untuk bisa berharap adanya semangat menjadikan bahasa indonesia yang baik dan benar sebagai standar bahasa nasional yang resmi digunakan dalam blogosphere Indonesia.
Nov 04, 2009 @ 23:02:35
sebenarnya blog malah bisa dimanfaatkan utk memosisikan bahasa indonesia sbg bahasa nasional yang lebih terhormat dan bermartabat, mas love.
Oct 29, 2009 @ 00:06:46
yang labih repotnya, ekspresi kata yang dituangkan dalam artikel-artikel postingan malah diarahkan untuk kiwod-kiwod tertentu dengan menggunakan jurus-jurus SEO.
akhirnya seringkali artikel terasa dipaksakan sekedar untuk bisa bersetubuh dengan kiwod-kiwod yang diharapkan bisa membangkitkan gairah mesin pencari. [-(
Nov 04, 2009 @ 23:00:42
wah, itu dia, mas mahendra. kalau utk kepentingan seo, doh, bahasa jadi makin ancur nih nasibnya, hehe …
Oct 28, 2009 @ 22:44:08
kadang2 nggak terlalu memperhatikannya, soale belum ada yang mengaturnya
Oct 28, 2009 @ 23:47:58
kalau bahasa blog yang mengatur ya dirinya sendiri, mas ihsan, hehe …
Oct 28, 2009 @ 21:51:27
komitmen yg dibutuhkan, utk terus menulis dg bahasa Indonesia yang baku walau tak kaku. bahasa gaul oke2 aja, tapi tak akan punya daya tahan sangat lama kan?
Oct 28, 2009 @ 23:47:26
bisa jadi benar demikian, mas haris. rata2 yang bisa dijadikan rujukan dan referensi buat pembaca pun yang menggunakan bahasa baku dengan kemasan yang enak dan gampang dicerna.
Oct 28, 2009 @ 21:03:12
blogku, kadang baku, kadang juga santai, masih campuran, belum dapat menggunakan bahasa baku dengan sempurna :d moga bisa belajar dari pak Sawali yang blognya sangat baku bahasanya
Oct 28, 2009 @ 23:46:18
ya, gpp, mas rifky. antara baku dan tidak baku kan tergantung juga topik yang dibahas.
Oct 28, 2009 @ 16:45:05
Setuju pak…karena terkadang kita salah menangkap makna yg di sampaikan padahal blognya bagus sekali…
>-
Oct 28, 2009 @ 23:45:43
betul sekali, mbak ria. idealnya antara tampilan dan isi bisa saling mendukung.
Oct 28, 2009 @ 13:41:25
dan mudah-mudahan sebesar apapun ekspresi pengelola blog pribadi,hendaknya tetap memakai bahasa sendiri ketimbang bahasa tentangga yah pak?
Oct 28, 2009 @ 23:43:36
betul sekali, pakne galuh, hehe … mantab.
Oct 28, 2009 @ 10:14:42
Apapun penulisan bahasa blog memang sepenuhnya menjadi hak pemilik blog tersebut. Kalau blog saya, memang sengaja saya gunakan bahasa baku, Pak, karena memang kebetulan yang membuka blog saya ini kebanyakan dari murid-murid sekolah saya.
Oct 28, 2009 @ 23:43:10
setuju banget, pak edi. blog bapak memang layak jadi jujugan anak2 sehingga bisa jadi contoh yang baik dalam berbahasa.
Oct 28, 2009 @ 09:51:40
saya terus belajar pak agar bisa menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar, walau terkadang suka lupa je.
Oct 28, 2009 @ 23:42:23
baguslah, mas boyin. asal ndak sering2 lupanya, hehe …
Oct 28, 2009 @ 09:31:14
itulah dia kegelisahan saya juga pak…
Oct 28, 2009 @ 23:41:50
kenapa gelisah soal bahasa, mas santri? pakai aja bahasa yang baik dan benar, wakaka ….
Oct 28, 2009 @ 09:22:50
i love internet…
Oct 28, 2009 @ 23:41:19
tanpa internet bisa bikin kepala puyeng, mas damey, hehe ….
Oct 28, 2009 @ 08:58:53
hmmm… hmmm…. hmmm…
mencoba memahami bahasa internet
Oct 28, 2009 @ 23:40:42
hehe …. mangga, mas. lebih lengkapnya bisa langsung tanya ke om google, mas, hehe …
Oct 28, 2009 @ 08:17:06
waduh, nek blog saya masup kategori apa pak? saya menuliskan hal-hal yang ringan, dan terkadang berat. saya menuliskannya kadang dengan bahasa santai. namun saya tetap setia pada kaidah, tanda baca, cetak miring, logika kalimat. bener gak pak, pan bapak guru bahasa indonesia, he-he-he.
Oct 28, 2009 @ 22:56:30
wah, blog masmpep oke juga kok, mungkin termasuk blog personal yang informatif, mengibur, tapi sekaligus juga sugestif. bahasanya juga bagus, mas.
Oct 28, 2009 @ 00:38:48
perkembangan media komunikasi, mengubah perilaku dalam berkomunikasi sehingga etikanya juga ikut bergeser. komunikasi tidak hanya secara verbal tapi menjadi lebih virtual, sehingga muncul netiket yang sebenarnya mendefinisikan kembali etiket berkomunikasi model baru.
Oct 28, 2009 @ 00:47:29
hmmm … terima kasih tambahan infonya, mas anto. tapi repot juga ya, kalau etiket yang berkaitan dg nilai dan norma terus bergeser akibat munculnya sebuah perubahan, hehe …
Oct 28, 2009 @ 00:28:07
*tersindirkan*
apalagi saya sering menuliskan kode-kode ndak jelas, begitu ya :d
Oct 28, 2009 @ 00:46:05
hehe … kode bahasa di sini sangat beda dg kode html atau php loh, mas pradna, haks.
Oct 27, 2009 @ 16:31:16
om..ikud pesta blog ndak..???
Oct 28, 2009 @ 00:34:37
walah, saya malah ndak tahu kalau ada pesta blog, mas escoret. di mana itu?
Oct 27, 2009 @ 15:16:24
tetep satu bahasa bahasa indonesia
sebenarnya bangga klo koment dsini lagi mke laptop, coz ntr yang muncul bukan logo jendela
Oct 28, 2009 @ 00:32:02
hehe … mengapa itu tidak dilakukan, mas heru, biar user-agent-nya tampak jelas di kolom komentar, hehe …
Oct 27, 2009 @ 13:33:58
biasanya kalo sudah nyenthuk didepan kompie jadi lupa dgn hal2 yg lainnya….hihihihihi
Oct 28, 2009 @ 00:31:25
hehe … ya gpp, toh, mas tono. itu artinya bahasanya akan terus mengalir dg sendirinya.
Oct 27, 2009 @ 12:28:48
saya kira memang mesti ada batas -meski samar- antara bahasa blog dengan bahasa indonesia. klo dibikin poling, mungkin yang setuju mengatakan bahwa blogger siap menggunakan EYD dalam blognya, tak sampai 10%.
klo masalah sampai tidaknya pesan, saya kira, komunikasi lah yang penting. bahasa hanyalah salah satu sarana. berapa banyak orang yang paham dengan tulisan2 budi dharma?
Oct 28, 2009 @ 00:30:34
wah, bahasa budi dharma memang unik, mas bayu, terutama dalam cerpen dan novelnya. bahasa yang komunikatif itu tdk identik dengan bahasa baku, loh, mas. tapi persoalan EYD, mau atau tidak, perlu juga mulai digunakan sesuai dengan kaidah yang berlaku. penggunaan bahasa gaul pun tidak salah kok kalau harus pakai EYD.
Oct 28, 2009 @ 08:35:20
@Sawali Tuhusetya,
hmmm, bahasa gaul pakai EYD… gimana menterjemahkannya ya pak?
saya sendiri hampir terbiasa menggunakan EYD. tapi Ejaan Yang Di-sms. hehehe
misalnya tdk, pke, ato.
btw, pak sawali pake ubuntu neeh? wah keren. udah mulai menerapkan open source..
Oct 28, 2009 @ 23:06:59
hehe … bahasa gaul perlu juga ditulis dg eyd, loh, mas bayu. bahasa gaul itu kan diksi, tapi soal ejaan ada bagusnya juga tetap ditulis dg ejaan yang benar. misalnya, saja penulisan awalan, kata depan, bahkan mungkin juga tanda bacanya. hmm … saya memang sudah 100% pakau ubuntu, mas, hehe …
Oct 27, 2009 @ 11:46:51
penggunaan bahasa memang menjadi kendala pak dalam menyampaikan maksud dan tujuan di blog …
terutama ketika bahasa digunakan sebagai media komunikasi, sehingga asal pembaca mengerti, bahasa apapun bisa dipakai.
itulah peran guru yang juga mengajak untuk berkontribusi mengingatkan dalam ranah ini (seperti pak sawali ini)…
Oct 28, 2009 @ 00:27:35
hmm…. ketika hendak memosting, ada yang menyarankan agar bahasa jangan sampai menjadi belenggu. artinya, biarkan bahasa mengalir dg sendirinya sesuai dengan tema tulisan yang hendak diposting.
Oct 27, 2009 @ 11:19:36
Oct 28, 2009 @ 00:26:16
terima kasih masukannya, pak muid.
Oct 27, 2009 @ 11:08:31
Yo asal setiap kemajuan iptek dimanfaatkan untuk hal positif kan bagus to pake!
Oct 28, 2009 @ 00:25:43
betul banget, mas ndoro seten, hehe … seharusnya memanhg demikian.
Oct 27, 2009 @ 10:58:29
saya yang berusaha menulis dengan sebaik-baiknya saja masih membaut orang pusing, apalagi tulisan yang tidak baku. Ndak bakalan jadi ilmu yang bermanfaat pak sawali
Oct 28, 2009 @ 00:25:15
hehe … mas mandor? postingan sampeyan kan memang ilmiah. jadi memang perlu disajikan dengan menggunakan bahasa baku. rata2 tulisan begini yang bisa jadi rujukan pembaca ketika mereka mencarinya di search engine.
Oct 27, 2009 @ 10:29:36
kalau saya suka agak santai, tapi sebisa mungkin menggunakan bahasa yang enak serta mudah dipahami pak he..he..
Oct 28, 2009 @ 00:23:46
bagus juga itu, mas arif. kalau pakai bahasa baku melulu malah jadi terkesan kaku dan kurang komunikatif.
Oct 27, 2009 @ 09:22:40
semoga kebijakan pak tifatul dapat memajukan internet indonesia
Oct 28, 2009 @ 00:23:08
amiiin, mudah2an saja begitu, mbak cutie.
Oct 27, 2009 @ 09:19:14
Oct 28, 2009 @ 00:22:45
matur nuwun, gus. terima kasih supportnya.
Oct 27, 2009 @ 09:01:21
Diakui atau tidak Web/Blog turut andil dalam membelajarkan pengguna internet untuk meningkatkan kemampuan menulis, baik dirasakan atau tdk. Andai si blogger berusaha meningkatkan kemampuan menulis, tentu media ini akan mampu meng-akselerasikannya dgn baik. Contoh Pak Sawali, dulu sdh luar biasa … dgn adanya Blog semakin ruaaaaaaaaaaaarrr biasa …
Cuman kenapa saya belum bisa memanfaatkan media ini dgn baik, … karena malaskah …. atau ….
Oct 28, 2009 @ 00:22:21
widih, pak wahyu bisa saja nih. sejak dulu biasa2 saja kok, pak, hehe …. btw, jangan terlalu merendah dong, pak. pak wahyu kan sudah mampu memanfaatkan media internet dg baik? persoalan rutinitas update itu juga sangat ditentukan oleh waktu dan kesempatan.
Oct 27, 2009 @ 08:26:46
“Ibarat sebuah rumah, web atau blog menjadi hak prerogatif dan urusan pribadi sepenuhnya dari sang pemilik. Mau menggunakan desain dan corak content apa pun, tak seorang pun yang bisa mengusiknya.”
Betul, Pak Sawali. Namun ketika sebuah media dilempar ke publik dan dikonsumsi oleh publik luas, maka ia telah berinteraksi dengan orang lain. Akan menjadi rancu ketika publik yang mengapresasi menjadi terbata-bata hanya karena sang pemilik rumah terlalu bertele-tele menyampaikan apa yang hendak ia maksud. Karena bagaimana pun ia telah menyentuh ranah serta teritori massa.
Sehat, Pak Sawali?
Oct 28, 2009 @ 00:20:44
mas dan? wah, betul sekali dan saya setuju itu, mas. makanya, kalau bisa sih menghindari ketaksaan dan kekaburan makna agar pesan2 yang hendak disampaikan bisa dipahami sepenuhnya oleh publik pembaca.
Oct 27, 2009 @ 08:08:37
kira2 ragam bahasa tersebut memperkuat khasanah bahasa kita atau justru merusak Pak?
Oct 28, 2009 @ 00:19:43
saya kira justru akan memperkuat, mas pencerah. tentu saja keragaman dalam berbahasa perlu disesuaikan dg konteks tuturannya.
Oct 27, 2009 @ 07:39:47
oleh sebab itu,bisakah bahasa indonesia menjadi tuan rumah di negara sendiri? mengingat gencarnya arus informasi dan budaya melalui media internet, butuh kerja keras untuk sekedar menangkal dampak negatifnya..
salam.yanti
Oct 28, 2009 @ 00:18:58
saya kira bisa, mbak yanti. bahasa indonesia kan juga bersifat luwes dan lentur. bahasa indonesia juga tidak antiperubahan, bahkan sangat dinamis dan terbuka menerima pengaruh asing yang kemudian diindonesiakan sesuai dengan kaidah dan pedomannya.
Oct 27, 2009 @ 07:20:39
Bahasa dalam web atau blog cenderung sebagai potret pemiliknya, karena merupakan ekspresi dalam keseharian hidup
Oct 28, 2009 @ 00:17:20
bisa jadi begitu, pak. bahasa memang sangat erat kaitannya dengan kebiasaan seorang penutur.
Oct 27, 2009 @ 05:50:50
Pak Sawali, saya suka dengan istilah “Bahasa Indonesia.. akan teruji”.. Pada akhirnya, jaman yang akan menguji resistensi dan eksistensi sebuah bahasa ya, Pak..
Yang pasti saya cukup prihatin dengan kecenderungan para blogger yang lebih ‘keinggris-inggrisan’, Pak
Btw, wordpress di blog saya sudah jadi, Pak. Monggo kalau ada masukan serta kritik kulo aturi pinarak
)
Oct 27, 2009 @ 12:30:27
@DV,
Oct 28, 2009 @ 00:16:20
hehe … saya pakai istilah indon-english utk menegaskan munculnya campur kode yang terlalu berlebihan, mas don. oh, ya, ternyata blognya sudah ber-engine wordpress. gimana kesan mas donny? makin nyamankah?
Oct 27, 2009 @ 05:02:47
Anda Benar…!!!!!!!
Postingan Pak sawali mengena! Saya setuju (dengan beberapa catatan) heheheh…..:d:d
Oct 28, 2009 @ 00:14:51
hehe … apa saja catatannya, mas. mohon di-share, hehe …
Oct 27, 2009 @ 00:45:44
salam kenal
Oct 28, 2009 @ 00:14:20
salam kenal juga, mas. terima kasih kunjungannya.
Oct 26, 2009 @ 23:56:55
/:)(doh) Kalo pak Wali menegarainya dengan memakai kata Euforia, seakan-akan gegap gempita ini hanya sesaat saja…. Semoga banyak manfaat yangdapat dpetik secara pribadi maupun untuk kepentingan Bahasa Indonesia secara umum…
Oct 28, 2009 @ 00:13:57
hehe … makanya saya beri tanda kutip, mas xit, utk menandai munculnya gejala berlebihan dalam berbahasa, sampai2 melupakan konteks tuturannya.
Oct 26, 2009 @ 23:02:41
maturnuwun pak sawali …atas ilmu ragam bahasanya..,,semoga bisa membawa manfaat buat semua
Oct 28, 2009 @ 00:13:05
amiiin, terima kasih apresiasinya, mas saiful.
Oct 26, 2009 @ 22:09:59
pengaruh internet ternyata memang luar biasa.. sampai sampai eratnya jalinan silaturahmi tergantung dari benwit yang kita miliki
Oct 28, 2009 @ 00:12:40
hehe … memang benar, mas endar. dunia internet telah membuat interaksi antarmanusia menjadi lebih terbuka.
Oct 26, 2009 @ 21:38:49
Wempi sudah mencoba untuk memakai bahasa yang tidak “euforia” tapi ternyata berbicara tak semudah menuliskannya. ~X(
Namun… tulisan dalam bentuk buku, tetap wempi usahakan pake bahasa indonesia yang benar, walaupun terkadang terpaksa juga pake istilah yang kalo dibahasaindonesiakan maknanya bisa berubah.
Oct 28, 2009 @ 00:12:00
betul banget, mas wempi. itulah yang saya maksudkan bahwa berbahasa indonesia yang baik dan benar itu artinya berbahasa yang disesuaikan dengan konteksnya. tidak selalu berarti harus selalu menggunakan bahasa baku, kan?
Oct 26, 2009 @ 21:34:51
salam pak guru,,postingan kali ini benar2 mantaps…sebuah kajian linguistik yang patut digali dan dikembangkan, mengingat ragam bahasa blog mungkin akan menjadi varian baru dalam ilmu linguistik baik dari sisi diksi, stilistika maupun elokuensi (jadi ingat mata kuliah sosiolinguistik
)…para calon sarjana linguistik dapat menjadikan artikel pak sawali kali ini menjadi salah satu refernsi nya
salam
Oct 28, 2009 @ 00:10:41
walah, mas amsi. tulisan ini hanya sekadar utk ikut memeriahkan bulan bahasa, kok. terlalu tinggi kalau harus dijadikan referensi, hehe . wow… keren banget itu, mas amsi. ternyata mas amsi malah paham benar ttg cabang2 linguistik semacam itu. salut.
Oct 26, 2009 @ 21:26:47
saya orang yang tidak pandai berbahasa. Saya setuju kalau bahasa yang baik adalah kunci suksesnya kominikasi. Sayangnya kriteria “baik” itu sendiri berbada satu sama lain. Nah, kalau sudah gitu bingung sendiri kalau suruh sebutin mana yang paling baik/:)/:)/:):-w:-”
Oct 28, 2009 @ 00:08:59
ini dia yang masih sering keliru dipahami, mas izmoed. berbahasa indonesia yang baik dan benar itu tidak identik dg bahasa baku kok. berbahasa dg gaya campur kode pun ndak masalah kalau situasinya memang menuntut demikian.
Oct 26, 2009 @ 21:24:41
memang banar.harus ada kekhasan dalam berbahasa. itulah keunikan yg akan tercipta
Oct 28, 2009 @ 00:07:46
hmm… artinya, penggunaan bahasa perlu disesuaikan dengan konteks situasi dan tema tulisan yang hendak dibahas, mas adi.
Oct 26, 2009 @ 20:40:33
Bahasa menunjukkan bangsa … tapi kalau memakai bahasa yang baik dan benar, saya juga binggung … bagaimana ya caranya … apalagi kalau chatting dengan anak muda sekarang pakai bahasa yang di singkat-singkat … bikin puyeng aku … baik bahasa indonesia maupun bahasa inggris … tambah puyeh … ngomong pakai bahasa jawa opo maneh … gak mudeng … walah !!!:)>-:)>-
Oct 28, 2009 @ 00:06:57
hehehe … jangan keliru loh, mas. berbahasa indonesia gaul pun tidak berarti bukan berbahasa indonesia yang baik dan benar, kok. kan situasinya justru menuntut demikian. justru akan terasa aneh kalau pakai bahasa indonesia baku.
Oct 26, 2009 @ 19:42:59
hehehe… nampaknya saya termasuk yang angin-anginan dalam penggunaan bahasa ya pak sawali. kadang pakai bahasa gaya santai, kadang gaya informal… *lho?!? kapan resminya ya?*
namun saya sangat sependapat, sebagai bagian dari sebuah proses komunikasi, bahasa (-pesan-) merupakan salah satu inti keberhasilan komunikasi (-melalui blog/web). namun pada tataran pribadi, jujur saja, saya lebih sering mengikuti mood, kadang jelas, kadang ngawur. duh…
:-t
Oct 28, 2009 @ 00:05:05
walah, pakacil? kenapa mesti terlalu merendah begitu. ketika menulis, konon ada yang menyarankan jangan sampai terbelenggu pada bahasa yang hendak dipakai.
Oct 26, 2009 @ 19:07:16
Tergantung pada postingannya sih. kalau saya kadang serius, kadang nglucu, kadang biasa saja. kadang kritik pedas kepada kebijakan pemerintah, sebagai kontrol, wah terlalu PD ya :rol:
Oct 28, 2009 @ 00:04:03
hehe … memang begitulah seharusnya. berbahasa indonesia yang baik dan benar itu tidak identik dg bahasa baku, kok. kalau tema postingannya santai, ndak ada salahnya juga kalau pakai bahasa tak baku.
Oct 26, 2009 @ 18:58:46
internet sudah sedemikian cepat penetrasinya ke masyarakat. terutama siswa. siap atau tidak. imbasnya, penggunaan bahasapun juga sekenanya.
bagaimana saya sering kesulitan mengeja jika ada siswa yg email spt berikut :
—
y00w,,,
m4zZ, dl0en mas!h ser!nx bingUnx taU,,,,,
ber4rti y9 bener ntUch alam4t blog’y yaCh bukan weB’y….
m4zZ, jad1 m0 k’sin! ga sceEh…
—–
siapa yang gak puyeng!. kalau dibilang tangannya pasti repot tapi koq yang selalu
Oct 28, 2009 @ 00:03:02
walah, apalagi itu bahasa email atau anak remaja, mas novi. saya juga sering dapat sms tuh dari anak saya. saya ndak pernah membalasnya karena memang ndak mudheng, hehe …
Oct 26, 2009 @ 18:54:59
Lha aku ini yang asli semrawut. Hi hi Hi. Tapi kl temanya pas serius aku coba memakai bahasa Indonesia sebaik mungkin. Meskipun yang poll baik versi aku jelas masih dapet paling banter nilai 6 jika editornya Pak Sawali
:-?;):)>-
Oct 28, 2009 @ 00:01:58
hehe … mas love? bahasanya juga sudah oke kok. jangan terlalu merendah begitu.
Oct 26, 2009 @ 18:46:46
saya termasuk yang berbahasa semaunya. padahal saya mengajar bahasa (walupun bukan guru bahasa).
saya setuju apa yang sampean katakan, tapi tergantung pada postingannya, serius (baku) atau cengengesan… saya banyak cengengesannya (hi….malu aku)
Oct 28, 2009 @ 00:01:15
widih, mas budi kok jadi merendah begitu. berbahasa indonesia yang baik dan benar itu konon maksudnya seperti itu. perlu disesuaikan dengan konteksnya, termasuk tema tulisan yang hendak diangkat.
Oct 26, 2009 @ 18:31:08
Lumayan tersentil untuk komit menggunakan bahasa Indonesia yang lebih baik lagi. Thanks pak
>-
Oct 28, 2009 @ 00:00:16
hehe … tapi saya tak bermaksud menyentil siapa pun loh, mas dhodie.
Oct 26, 2009 @ 18:01:03
Blog sebagai ranah probadi memang ditujukan untuk pribadi maupun orang-orang yang telah mengenalnya. Blog sebagai tempat menuliskan ide, gagasan, olah pikiran, serta hubungan dengan pihak lain harusnya bisa dimengerti oleh pihak lain. Ketidakbakuan bahasa yang digunakan memang membangun karakter tersendiri bagi pemilik blog tersebut, sayangnya jika ada orang yang bersangkutan dengan hasil ide, gagasan, atau buah pikiran tersebut membaca tulisannya akan timbul mispersepsi akibat dari bahasa yang tidak baku tersebut. Kalau sudah begini salah siapa? padahal Bahasa Indonesia sudah memberikan ranah akta yang umum dan dimengerti oleh sebagaian besar Warga Indonesia.
Oct 27, 2009 @ 23:59:45
begitulah seharusnya, mas adipati. ketika sebuah postingan dipublikasikan, itu artinya tulisan itu bebas dibaca publik dari kalangan mana pun sehingga sebisa mungkin menghindari ketaksaan dan tafsir ganda, kecuali pada teks fiksi.
Oct 26, 2009 @ 17:59:32
mudah-mudahan dengan keberagaman bahasa kita di internet ini tidak membuat bangsa ini terpecah belah tapi semoga menjadi keanekaragaman yang positif :d/
Oct 27, 2009 @ 23:58:25
setuju, mas ihsan. justru bhs indonesia diharapkan mampu mempersatukan keragaman itu seperti sebuah pelangi. warna-arni tapi indah.
Oct 26, 2009 @ 17:05:47
wah makin mantap saja, bahasa dan sastra kalau bukan kita yaa siapa lagi.
Oct 27, 2009 @ 23:57:42
mbak maya? hehe … betul banget tuh, mbak. perlu kita mulai dari diri sendiri.
Oct 28, 2009 @ 23:15:45
salam super,,,
jadi ingat petuah aa gym ya : dimulai dari hal terkecil dan dari diri sendiri…
artikelnya bagus mas,,
kunjungan baliknya di tunggu ya !!!
Oct 28, 2009 @ 23:52:25
salam super juga, mas andry. terima kasih apresiasinya. segera meluncur ke tkp!