05Feb 2010 158 Comments3,321 pembaca
Ujian Nasional dan Robotisasi Siswa Didik
Dunia pendidikan kita hanya melahirkan generasi penghafal kelas wahid? Itulah pertanyaan yang selalu mencuat ketika ranah pendidikan kita dinilai telah gagal melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, dan kreatif. Almarhum Rama Mangunwijaya pernah bilang bahwa dunia pendidikan kita tak lebih dari proses pelatihan binatang sirkus yang dibekuk dan didesain agar menjadi penurut dan selalu taat komando. Selama mengikuti proses pembelajaran di lembaga pendidikan, anak-anak dikondisikan agar menjadi “anak mami” yang harus selalu selalu patuh dan tunduk kepada komando sang guru. Mereka tak lebih dari robot yang hanya bisa menuruti perintah yang dikendalikan melalui “remote control”, miskin inisiatif, apalagi bersikap kritis. Ruang belajar tak memberikan kesempatan kepada siswa didik untuk berbeda pendapat dan bercurah pikir secara bebas, dialogis, dan interaktif. Jalan pikiran dan hasil-hasilnya telah diseragamkan melalui otoritas sang guru.
Robotisasi siswa didik makin tampak jelas ketika kebijakan Ujian Nasional (UN) digelontorkan menjadi penentu kelulusan melalui bentuk-bentuk soal pilihan ganda (PG). Anak-anak telah dibudayakan untuk berpikir linear karena hanya ada satu jawaban yang benar. Tak ada ruang untuk menampung pemikiran-pemikiran multidimensi. Sungguh celaka kalau siswa menjawab beda dengan kunci jawaban. Tak perlu heran jika menjelang UN berlangsung, siswa didik digiring ke dalam ruang karantina untuk di-drill melalui trik-trik sirkus agar bisa menjawab soal yang dimungkinkan sesuai dengan kunci jawaban yang selama ini tidak pernah dibeberkan kepada para pemangku kepentingan pendidikan, meski UN sudah lama usai.
Dalam situasi semacam itu, guru yang ingin tampil beda untuk mendesain pembelajaran yang lebih inovatif dan kreatif tidak mendapatkan ruang. Sungguh konyol kalau menjelang UN masih asyik-masyuk melakukan akrobat pembelajaran melalui eksperimentasi dan inovasi di dalam kelas. Melalui berbagai instruksi, bahkan juga tekanan, baik secara terang-terangan maupun terselubung, para pengambil kebijakan memosisikan guru sebagai “tukang sulap” yang harus menjadikan para siswa didik sebagai penghafal kelas wahid yang bisa dengan jitu menjawab soal-soal PG dalam UN.
Jika pembelajaran hanya didesain dan dikondisikan untuk memburu angka-angka semu yang dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan UN, disadari atau tidak, anak-anak bangsa negeri ini akan mengalami proses pembodohan dan pembebalan secara sistematis. Cara berpikir pragmatis akan menjadi pilihan gaya hidup sehingga gagal mengapresiasi budaya proses dalam menggapai cita-cita dan harapan. Yang lebih menyedihkan, fakta-fakta nilai UN selama ini menunjukkan, anak-anak berotak cemerlang seringkali terkebiri oleh anak-anak berotak pas-pasan. Siswa yang dalam kesehariannya (nyaris) tak menunjukkan prestasi mengagumkan, justru memperoleh nilai yang jauh lebih baik ketimbang siswa berprestasi menonjol dan berotak brilian. Dengan kata lain, soal-soal PG dalam UN dinilai kurang sahih dalam memotret profil kompetensi siswa didik.
Yang tak kalah memprihatinkan, proses pelaksanaan UN yang “cacat” dan tidak fair semacam itu dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan sekolah. Sekolah yang mampu mendongkrak jumlah lulusan dengan capaian nilai rata-rata UN yang tinggi dianggap sebagai sekolah bermutu. Sebagai penghargaan, sekolah semacam ini diberikan kemudahan-kemudahan dalam mendapatkan subsidi dan berbagai fasilitas pendidikan. Sementara, sekolah yang dianggap bermutu rendah lantaran gagal mencapai target kelulusan dan rata-rata UN yang dipersyaratkan, terstigmatisasi sebagai “sekolah gagal” sehingga tidak berhak untuk mendapatkan subsidi dan fasilitas penunjang peningkatan mutu pendidikan. Akibatnya, sekolah yang dianggap bermutu makin “wah”, sedangkan “sekolah gagal” makin terpuruk.
Imbas negatif yang muncul dari atmosfer pendidikan yang salah urus semacam itu adalah merebaknya kecurangan massal dalam pelaksanaan UN dari tahun ke tahun dalam upaya memburu citra dan marwah sekolah. Agar mendapatkan legitimasi, pengakuan, dan citra bagus dari atasan dan masyarakat, sekolah cenderung menghalalkan segala cara untuk mendongkrak jumlah lulusan dan rata-rata nilai UN; entah dengan membocorkan kunci jawaban, berkongkalingkong dengan pengawas UN, atau cara-cara curang yang seharusnya tabu dilakukan oleh sebuah institusi yang notabene menjadi agen dan kawah candradimuka peradaban.
Jika kondisi semacam itu terus berlanjut, bukan tidak mungkin anak-anak masa depan yang lahir dari rahim dunia pendidikan kita akan terus mengalami proses pembonsaian kecerdasan dan pengerdilan nilai kepribadian, sehingga gagal menjadi sosok tangguh dan andal yang sesuai dengan kebutuhan dan semangat zamannya. Anak-anak kita makin terjauhkan dari tradisi dan budaya keilmuan karena selama mengikuti proses pendidikan hanya menjadi “anak mami” yang serba penurut, tanpa memiliki ruang dan kesempatan untuk berpikir multidimensional dan komprehensif.
Dalam konteks demikian, perlu ada upaya serius untuk menata ulang sistem penyelenggaraan dan pelaksanaan UN agar jangan sampai menumpulkan, apalagi mematikan, daya kecerdasan dan kreativitas anak-anak bangsa. Pendidikan pada hakikatnya merupakan investasi dan modal besar bangsa kita yang berkehendak untuk membangun peradaban yang lebih terhormat, bermartabat, dan berbudaya. Sungguh naif apabila UN yang selama ini cenderung menjadikan siswa tak ubahnya seperti robot masih akan terus dipertahankan tanpa ada perubahan kebijakan yang lebih mencerahkan dan visioner. ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Ujian Nasional dan Robotisasi Siswa Didik" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (5 February 2010 @ 22:16) pada kategori Edukasi, Opini, Refleksi dan telah dikunjungi oleh 3,321 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Aug 22, 2011 @ 13:36:10
ku ingin siswa-siswa itu
sadar akan hal itu…
May 08, 2011 @ 14:54:47
wow. lastly, I found something helpful for my paper to write about. this is fascinating and helps me with more analysis in the future. Glad I discovered this blog.Thank you. And I do hope you will broaden a few of your concepts about this topic and I will sure come back and skim it. Thanks for the effort and time.
pendidikan dunia
Oct 08, 2010 @ 07:54:46
[...] Kendal, saya bersama beberapa rekan sejawat didaulat untuk menjadi yuri Lomba Cerdas-Cermat…Ujian Nasional dan Robotisasi Siswa Didik (Friday, 5 February 2010, 886 views, 155 respon) Dunia pendidikan kita hanya melahirkan generasi [...]
Aug 13, 2010 @ 15:15:04
Robotisasi membuat anak bangsa jadi bodoh…… kalau secara arogan bisa diartikan juga system pendidikan kita adalah pembodohan…
Aug 14, 2010 @ 00:19:16
Buat Sdr. jabon: woi…. begitukah, bos, hehe …. kalau proses seperti itu terus berlanjut, bukan tdk mungkin pembodohan itu benar2 terjadi!
Jul 08, 2010 @ 14:37:43
wkwkwk..kadang karena les bimbel yang diajari cara cepat itu yg membuat siswa terserang robotisasi :D
Jul 09, 2010 @ 13:12:51
wah, itulah dampak yang dikhawatirkan banyak kalangan ttg menjamurnya bimbel itu, mbak, hiks.
Jun 29, 2010 @ 12:03:24
ilmu itu datang ari kemauan…
^click here^
Jun 16, 2010 @ 15:07:43
Memang disini gak ada ilmu murni, ilmu yang muncul dari rasa keingintahuan.
Paket C Paket ABC » PAKET C » Ujian Nasional dan Robotisasi Siswa Didik » Catatan Sawali Tuhusetya
Feb 26, 2010 @ 23:19:49
[...] Excerpt from: Ujian Nasional dan Robotisasi Siswa Didik » Catatan Sawali Tuhusetya [...]
Feb 25, 2010 @ 23:04:08
beginilah jadinya ketika pendidikan menjadi industri…
.-= Baca juga tulisan terbaru itempoeti berjudul "Nasional Demokrat, Quo Vadis?" =-.
Feb 15, 2010 @ 21:35:17
UN memang pro kontra
Mar 10, 2010 @ 02:54:17
bisa jadi lantaran sistem yang selama ini digunakan cenderung masih menimbulkan persoalan, mas.
Feb 14, 2010 @ 06:02:26
setuju pak setiap mendekati UAN mau tidak mau kita harus mengajarkan apa yang masuk kisi-kisi UAN saja karena mengejar kelulusan, apalagi sekolah saya dipelosok , tidak ada laboratorium, tidak ada perpustakaan, tidak ada koran atau majalah pokoknya sedih deh
Feb 22, 2010 @ 09:50:30
saya salut dengan perjuangan teman2 di daerah yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. terus berjuang, mas ardi, semoga sukses.
Mar 10, 2010 @ 02:33:53
yang penting tetep semangat, pak. semoga perjuangan dan jerih payah kita dirasakan betul manfaatnya oleh anak2 kita.
Feb 12, 2010 @ 08:24:18
Namanya juga pendidikan massal, biar murah Pak. Kalo mau bikin kriteria lulus masing-masing, tiap sekolah nanti punya kriteria yang berbeda. Lalu, gimana mau komparasi?
Feb 11, 2010 @ 22:03:10
UN sih saya setuju aja, asalkan itu untuk mengukur standar keberhasilan pendidikan di daerah, ya toh. Nah masalah kelulusan kan sepenuhnya berada di tangan gurunya, masalah nilai UN bukan satu-satunya syarat untuk lulus lho, masih ada yang lain, sang gurulah yang lebih paham tentang kemampuan siswanya, apalagi kelulusan kan tidak hanya ditentukan nilai kognitif saja, masih ada psikomotor, afektifnya, sikap, tanggung jawab, kedisiplinan, buanyak deh, benar gak Bung Sawali, soalnya aku juga guru, he…he…!!!!!
Feb 10, 2010 @ 22:33:21
UN sudah menjadi momok menakutkan bagi para murid di indonesia.
Bayangkan saja, waktu 3 tahun di pertaruhkan dengan hanya 3 hari masa ujian..
Apa gak puyeng tu kepala mikirin hal kyk gitu,..
Feb 09, 2010 @ 12:33:11
Wah UNAS menjadikan “Pembodohan bangsa” karena dengan UNAS mending ndak usah ada pelajaran selama 3 tahun kan pak, langsung aja UNAS, wong nilai d skolah sebagus apapun kalo UNAS jelek ya ndak lulus, eh tapi ndak tau ya skarang? sama klihatannya
Feb 13, 2010 @ 23:23:06
hehe … sebenarnya dalam POS UN, nilai UN hanya salah satu komponen nilai penentu kelulusan, mas novi. tapi kenyataannya justru sebaliknya. UN jadi penentu kelulusan.
Feb 09, 2010 @ 06:34:53
Mau lulus aja kok repot! hehe…
kalau diperhatikan, nilai UN itu sebenarnya gak ada relevansi apa-apa. Toh, saat akan masuk PT masih harus menjalani tes lagi, biaya lagi…fiuh!!
UN memang sudah salah kaprah Pak, berteriak pun kafilah tetap berlalu. Huft!
Feb 13, 2010 @ 23:21:33
betul, mas umar. agaknya benar kata para pengamat kalau sistem UN selama ini babar blas ndak nyambung dengan out-come-nya.
Feb 09, 2010 @ 05:12:09
setuju saya, mereka bahkan kasihan sekali, kadang malah jadinya bukan hanya robot saja je pak
Feb 13, 2010 @ 23:19:31
walah, saya hampir sulit menemukan istilah yang tepat utk menggambarkan kondisi anak2 menjelang UN, mas surya, haks.
Feb 09, 2010 @ 02:17:53
mantep artikelnya…..
“Robotisasi siswa didik”
kalimat yang tepat,siswa tidak diberikan ruang utnk berkreasi,hanya aturan dan sebatas menurut yang akan menjadi patokan dari pendidikan.
maksih dah share artikel diatas.
salam kenal pak bos………
Feb 13, 2010 @ 23:18:44
salam kenal juga, mas. makasih apresiasinya.
Feb 08, 2010 @ 22:12:08
mampir sebentar mengunjungi Pak Guru, semoga sehat selalu dan sukses.
Feb 13, 2010 @ 23:17:44
amiiin, terimakasih mas yussa. semoga mas yussa dan keluarga juga demikian.
Feb 08, 2010 @ 18:32:29
imbasnya ternyata banyak pak ….
semakin tahun sepertinya lulusan SMA yg masuk ke universitas pun tidak semakin baik kualitasnya …
.-= Baca juga tulisan terbaru afwan auliyar berjudul "Trik gila menaikkan 1000 pengunjung lebih per hari" =-.
Feb 13, 2010 @ 23:15:44
bisa jadi benar, mas afwan. seperti itulah imbas yang muncul ketika sistem UN masih amburadul.
Aug 13, 2010 @ 15:17:17
Betul sekali, hasilpendidikan kita sangat memprihatinkan hasilnya adalah pembudakan….
Aug 14, 2010 @ 00:19:41
Buat Sdr. jabon: hmmm …. terima kasih tambahan infonya, bos.
Feb 08, 2010 @ 17:35:01
UN sebenernya bikin siswa mundur sebelum bertempur, masa setelah belajar 3 tahun pas UN gak lulus sekolahnya gak beres :-w
Feb 13, 2010 @ 23:15:09
itu salah salah satu kelemahan mendasar ketika UN dijadikan sbg penentu kelulusan, mas. yang repot, UN malah ndak bisa membedakan mana siswa yang cerdas dan yang tidak.
Feb 08, 2010 @ 17:33:23
saya tidak setuju dengan UAN. TITIK….
penuh kepalsuan dan tipu daya,
.-= Baca juga tulisan terbaru Yunus Chalim berjudul "Pendidikan Segaris Dengan Kemiskinan" =-.
Feb 13, 2010 @ 23:14:23
hehe … argumennya mantab juga, mas yunus.
Feb 08, 2010 @ 16:51:18
guru dan anak didik harus berjuang dan bekerja keras…
Feb 13, 2010 @ 23:13:58
idealnya memang begitu, mas bayu.
Feb 08, 2010 @ 15:53:49
tentang unas ini memang banyak yg pro dan kontra ya, pak…
tapi, saia tdk setuju kalo unas dihapuskan…
mungkin penyelenggaraannya yg perlu dibenahi agar lbh baik lagi….
Feb 13, 2010 @ 23:13:40
saya setuju dengan mbak vany. UN tak harus dihapus karena sbg alat pemetaan mutu pendidikan secara nasional shg bisa terlihat mana sekolah yang bermutu dan yang tidak. itu bisa terwujud jika UN bukan sbg penentu kelulusan.
Feb 08, 2010 @ 11:08:17
Semakin tajam, mengasyikkan, dan mencerahkan … selamat Pak Guru
Feb 13, 2010 @ 23:12:33
terima kasih apresiasinya, pak ersis. gimana kabarnya, pak? masih di bandungkah?
Feb 08, 2010 @ 11:04:03
selamat menempuh ujian nasional
selamat bersenang senang yah
salam kenal sobat
Feb 13, 2010 @ 23:11:57
hehe … ujian nasional kok bersenang-senang toh, mas, haks. salam kenal juga, yah.
Feb 08, 2010 @ 10:30:51
UN skrg bukan untuk pembelajaran demi menghadapi masa depan tapi sekedar mendapatkan selembar kertas yang bertuliskan lulus. Bahkan menjadi proyek bagi oknum2 yang tidak bertanggung jwb utk merusak generasi mendatang.
Feb 13, 2010 @ 21:13:27
betul sekali, bu ita. sungguh repot kalau orientasi pendidikan melulu pada angka dan ijazah.
Feb 08, 2010 @ 09:52:04
Dengan sistem UN sebagai penentu kelulusan akan menghilangkan kreativitas para pengajar. Murid hanya didik untuk menjawab pilihan yang benar saj sehingga perkembangan keilmuan yang lebih luas masih terkendala. Angka nilai UN herusnya tidak dijadikan satu-satunya angka, masih ada angka lain seperti keahlian, minat dan bakat dari seorang murid yang berbeda antara satu dengan yang lainya
.-= Baca juga tulisan terbaru mandor tempe berjudul "Bertemu" =-.
Feb 13, 2010 @ 21:12:07
betul sekali, mas mandor. sdh banyak kalangan yang mengkritik, maraknya kecurangan massal yang terjadi tiap tahun lantaran UN menjadi penentu kelulusan. jadi makin rumit ketika UN juga dikaitkan dengan upaya pencitraan dari pihak2 terkait.
Feb 08, 2010 @ 09:44:42
yah dari segi positifnya sih, semua orang berkembang justru saat sudah selesai sekolah, karena mencari pengetahuan di luar.
Feb 13, 2010 @ 21:10:39
betul sekali, mas boyin. konon, di alam nyata itulah kurikulum kehidupan yang sesungguhnya.
Feb 08, 2010 @ 09:35:14
btw komen saya kok gak keluar yah?? :d
.-= Baca juga tulisan terbaru arihevea berjudul "Walpaper dengan Ms. Paint, karya bro crash99" =-.
Feb 08, 2010 @ 09:31:42
Jadinyaaa… Saya pribadi sih lebih suka kelulusan SMU ditentukan dari pihak intern sekolah.. Nah baru dilanjutkan untuk masuk kuliah, via SPMB dg soal yg standar nasional.. itu juga saya setuju…
Feb 13, 2010 @ 21:09:56
salu juga dengan mas ari. meski dg model pelaksanaan UN yang dinilai masih amburadul, mas ari bisa melaluinya dg sukses.
Feb 08, 2010 @ 08:47:58
bukannya kemaren saya denger ada Isu bahwa UN mau dihapus yah pak? perkembangannya gimana tuh, kalo saya setuju kalo UN memang harus direvisi keberadaannya.
Feb 13, 2010 @ 21:08:42
berdasarkan fatwa MA, memang begitu, mbak. tapi MA juga tdk tegas melarang pelaksanaan UN.
Feb 08, 2010 @ 07:51:10
yah…emang beginilah iklim pendidikan di Indonesia…
Feb 13, 2010 @ 21:07:23
kita terus berharap dan berdoia, mas, semoga ada perubahan mendasar dalam pelaksanaan UN.
Feb 08, 2010 @ 07:49:40
ya mau gimana lagi, depdiknas nya gonta ganti peraturan terus sih…:((
Feb 13, 2010 @ 21:07:59
hmm … mungkin baru mencari format yang terbiak, mas, sehingga sering gonta-ganti peraturan, hehe …
Feb 08, 2010 @ 07:43:54
Wah kasian anak2 didik ya…digencet terus…:((
Feb 13, 2010 @ 21:06:40
hehe … istilahnya mantab, mas, hehe … “dogencet”, haks.
Feb 08, 2010 @ 07:18:38
meskipun tidak setuju dengan UN tak ada jalan lain tetap harus mensukseskan UN tentu dengan cara-cara yang bermartabat halal dan toyyib
Feb 13, 2010 @ 21:06:13
betul sekali, mas narno. UN memang telah membuat kita serba dilematis, yang bisa kita lakukan adalah terus ikut berkiprah memberikan masukan terbaik buat ranah pendidikan kita.
Feb 08, 2010 @ 02:30:11
itulah bangsa kitya bang…aku setuju dengan apa yang bagusnya aja kang
.-= Baca juga tulisan terbaru Harry seenthing berjudul "NEXUS ONE IS The Best For Anything" =-.
Feb 13, 2010 @ 21:05:00
itulah yang selalu kita harapkan, mas harry. terbaik buat bangsa kita.
Feb 08, 2010 @ 00:40:22
kenapa kalau komen dengan id dot info gak mau masuk? apa karena email kuganti..
viva pendidikan
Feb 08, 2010 @ 00:26:40
memang kita tak boleh lelah berteriak meluruskan esensi pendidikan
saya mendukung perjuangan ini
.-= Baca juga tulisan terbaru budiesastro berjudul "BECIK KETITIK OLO DIBECIKNO WAE" =-.
Feb 13, 2010 @ 21:04:24
terima kasih apresiasinya, kang bud. mari kita bergerak dan berjuang bersama, setidaknya melalui lingkungan kita masing2.
Feb 08, 2010 @ 00:23:44
pendidikan dengan materi yang melebar bagian dari penjauhan profesioanlisme itu sendiri, sementara tuntutan lapangan menghendaki profesioanal. Bagiamana mungkin kita bisa mencetak semua/aneka macam binatang menjadi elang semua
Feb 13, 2010 @ 21:03:46
hmm …. kalau modelnya serba instan dan serba pragmatis agaknya akan sulit, kang bud.
Feb 07, 2010 @ 20:55:21
Betul sekali Pak, dan guru pun terpaksa harus mengejar target. Yang penting siswa lulus, soal apakah siswa cerdas, kritis, arif dan kreatif , itu urusan belakangan.
Terima kasih Pak.
Salam dari Cianjur
Feb 13, 2010 @ 21:03:10
salam juga, mas azis. itulah repotnya. UN telah membuat banyak rekan sejawat dihadapkan pada persoalan yang dilematis.
Feb 07, 2010 @ 20:50:12
soal ini emang akan selalu jadi pro kontra pak. susah sekali mendamaikan dua pendapat soal uan itu.
.-= Baca juga tulisan terbaru haris berjudul "Tahun Baru" =-.
Feb 13, 2010 @ 21:02:29
memang benar, mas haris. pro-kontra akan selalu ada, apalagi kalau tak ada perubahan mendasar ttg sistem pelaksanaan UN.
Feb 07, 2010 @ 19:44:29
ngikut aja :d
Feb 07, 2010 @ 18:43:24
Saya lebih setuju dengan soal yang kaya konteks (context rich-question) yang dikembangkan Helller (1985); open -ended question dan reverse question
.-= Baca juga tulisan terbaru cobaberbagi berjudul "Multimedia Interaktif" =-.
Feb 13, 2010 @ 20:59:26
wah, betul banget, mas. dengan soal yang kaya konteks, pikiran anak2 tertantang utk kreatif.
Feb 07, 2010 @ 17:15:57
rasane pemerintah ke kok koyo ndak tau enek sing bener to pak?
Feb 13, 2010 @ 20:58:47
bisa jadi bener kalao negeri ini salah urus, mas, hehe … masalah yang rumit terus terjadi di semua bidang.
Feb 07, 2010 @ 09:47:40
Saya juga menyepakati yang di ucapkan salah satu praktisi pendidikan kita, yang mengatakan bahwa UN itu project paksaan. Untuk apa menghabiskan uang milyaran hanya untuk mencari standar pendidikan.
Feb 13, 2010 @ 20:57:42
doh, apalagi kalau orientasi UN hanya motif proyek, mas kika. makin hancur deh!
Feb 07, 2010 @ 07:53:55
Ayo Pak, siap2 ngedrill murid…
Tak kancani teko kadohan…
Feb 13, 2010 @ 20:57:10
hehe … kalau pas ngdrill sampai habis berapa bungkus rokok, pak mar? keke ….
Feb 07, 2010 @ 07:45:28
teope begete pak yang di blockquote ntu pak, dan memang menggambarkan situasi dan kondisi UN kemaren2
tapi katanya yang sekarang sedikit lebih ketat ya pak, misalnya para pengawas independen bisa masuk ruangan plus jumlahnya juga diperbanyak…… hayo para panitia UN di sekolah masing2 mo pake trik apalagi untuk ngadepin ntu *xixixiiiii*
#wah ini repiu ya pak
Feb 07, 2010 @ 07:45:07
teope begete pak yang di blockquote ntu pak, dan memang menggambarkan situasi dan kondisi UN kemaren2
tapi katanya yang sekarang sedikit lebih ketat ya pak, misalnya para pengawas independen bisa masuk ruangan plus jumlahnya juga diperbanyak…… hanya para panitia UN di sekolah masing2 mo pake trik apalagi untuk ngadepin ntu *xixixiiiii*
#wah ini repiu ya pak
Feb 13, 2010 @ 20:56:33
hmm … sebenarnya aturan yang tertuang dalam POS sdh ketat sejak dulu, mas addi. tapi sayangnya konsistensi penegakan aturan agaknya masih diragukan. berbagai pelanggaran dan penyimpangan UN yang terjadi tiap tahun tak ada yang ditindaklnjuti.
Feb 07, 2010 @ 06:13:34
Saya setuju dengan perlu ada upaya untuk menata ulang sistem penyelenggaraan dan pelaksanaan UN agar jangan sampai mematikan, daya kecerdasan dan kreativitas anak-anak bangsa. Tapi hingga saat ini UN adalah cara terbaik bagi pemerintah. Kalau mau diubah ya silahkan, toh banyak para profesor-profesor yang ada di departemen pendidikan.
.-= Baca juga tulisan terbaru Anas berjudul "Bhirawa | Sang Blog Perkasa" =-.
Feb 13, 2010 @ 20:55:18
sayangnya malah banyak profesor yang ndak sempat ngurus masalah UN ini, mas anas. kita tetep berharap semoga memang ada perubahan mendasar dalam pelaksanaan UN.
Feb 07, 2010 @ 05:06:56
ternyata kita seide Pak, tahun lalu telah menyentil rasa kepuisian saya sehingga saya guratkan puisi dengan judul UN, monggo saget diwaos malih
.-= Baca juga tulisan terbaru narno berjudul "DUA HURUF" =-.
Feb 13, 2010 @ 20:51:20
wah, menarik juga tuh, puisinya, mas narno. jadi pingin baca lagi, nih!
Feb 07, 2010 @ 01:35:32
Saya sudah tiga tahun menjadi Tim Pemantau Independen, saya sering membandingkan bagaimana persiapan sekolah dalam menghadapi hajatan ini. Sekolah mapan akan sangat rapi dan terukur sedangkan sekolah pas-pasan lebih kalang kabut menghadapi UN yang ujung-ujungnya menjadi maling demi meluluskan anak didiknya. UN seperti film Tiga Hari Untuk Selamanya.
Semoga tahun ini yang terakhir.
.-= Baca juga tulisan terbaru antokoe berjudul "Me-mobile-kan Antokoe dot Com" =-.
Feb 13, 2010 @ 20:50:42
begitulah sistem pelaksanaan UN kita selama ini, mas anto. kesenjangan mutu pendidikan antasekolah pun makin melebar.
Feb 06, 2010 @ 23:22:52
wah, begitu ya? bukannya sebuah ingatan penghafal itu juga baik? sepertinya negara kita sudah overdosis atas hafalan, sehingga tidak sanggup lagi menghafal, bayangkan saja, 3 tahun materi yang diberikan hanya di pertaruhkan dalam waktu beberapa hari, ini bukan judi kan? sehingga banyak sekali kecurangan yang mana pemerintah akhirnya menutup mata atas kejadian itu. Yah, semoga saja ada terobosan baru dalam mengukur prestasi siswa bukan hanya dari UN yang menurut saya sangat aneh…
Feb 13, 2010 @ 20:48:34
hehee … betul sekali, mas. menghafal bukan hal yang buruk sebenarnya, tapi kalau tak diimbangi dg model evaluasi lain bisa mereduksi pengetahuan anak. kita berharap semoga saja ada perubahan mendasar ttg sistem UN ini.
Feb 06, 2010 @ 22:50:21
ok ok aja, tapi sayang kayaknya anak terus dijejeli ilmu, namun sayang terlalu banyak, jadi ya gak kesimpan semua, muntah si anak. kok gak kepikir anak diupayakan dilatih ketrampilan, katanya sesuai kompetensi, eh malah ilmu melulu.gm mau maju, ya nggak pak ???!!!
Feb 13, 2010 @ 20:46:00
betul sekali, mas nori. itulah yang serimng dikritik banyak kalangan. dunia pendidikan kita terlalu sarat materi, tapi hanya kulit luarnya saja, ndak pernah sampai pada isi, apalagi pendalaman.
Feb 06, 2010 @ 22:49:42
mendambakan pendidikan yang berdasarkan kemampuan dan minat sesungguhnya sejak dini.
misalkan sejak kelas 1 smp seorang siswa sudah bisa memilih kemampuan dan minatnya di bidang elektronika…dalam 6 tahun (kelas 3 SMA) tentulah akan jadi ahli elektronika siap pakai…(mosok ya di drill 6 tahun pada jurusan yg diminatinya tanpa dibebani UN yg absurd tidak jadi ahli)
apalagi trus dilanjutkan kuliahnya tetap pada jalur yang diminati itu…wiih..
.-= Baca juga tulisan terbaru Pojok Pradna berjudul "Obrolan Sore 13: Selamatan 100 hari Kebun Binatang Carangpedopo" =-.
Feb 13, 2010 @ 20:44:26
banyak pihak yang mengusulkan seperti itu, mas pradna. konon kurikulum pendidikan kita terlalu sarat materi, tapi miskin pendalaman. semoga usulan mas pradna bisa terwujud.
Feb 06, 2010 @ 21:31:31
maka dari itu saya nggak mau sekolah pak, takut di “bodohi” :d
Feb 10, 2010 @ 03:00:28
hah, terus otodidak atau mencari sekolah alternatif, hom-school, misalnya?
Feb 06, 2010 @ 20:42:42
alhamdulillah, saya ndak sempat ngikutin UN yang tendensinya kelulusan. karena memang program studi keagamaan sudah dijamin lulusnya
dan sampai sekarang pun saya masih tidak suka dengan penentuan barometer nilai dengan ujian.
kalopun saya ikut ujian apa aja itu sih ya karena ibadah sosial lah pak.
tapi, apapun itu, beginilah Multikulturalisme Kita.
~ maaf nyepam, mumpung update.
Feb 10, 2010 @ 02:58:23
syukurlah kalau mas deno sudah berhasil mewati masa2 krusial seperti itu, hehe …
Feb 06, 2010 @ 18:41:47
“”sarana dan fasilitas di sekolah hrus terpenuhi.., baru diadakan UNAS..,,”"”
Feb 10, 2010 @ 02:57:41
setuju banget, mas. UN kali ini cenderung menyamaratakan kemampuan siswa di setiap daerah, padahal sarana dan fasilitasnya sangat beragam.
Feb 06, 2010 @ 18:39:09
Sistem pendidikan di Indonesia perlu disesuaikan dengan negara2 asia yang berkembang pesat, seperti di China dan India. Sehingga menghasilkan generasi yang cerdas dan terarah. Thanks
Feb 10, 2010 @ 02:56:57
setuju banget, mas. kita tak perlu malu utk mencontoh negeri2 terdekat yang bisa dibilang sukses mendesain pendidikan masa depan yang mencerahkan.
Feb 06, 2010 @ 18:39:05
Yang saya tahu, murid2 skarang slalu menuntut tanpa ada tanggung jawab sbagai pelajar, yaitu BELAJAR.
Feb 10, 2010 @ 02:56:17
bisa jadi situasi seperti itu muncul akibat pendekatan pendidikan dan pembelajaran yang keliru, mas. para murid minta gampangnya doang, tanpa upaya serius utk menghargai proses.
Feb 06, 2010 @ 16:36:36
Terlepas dari pro dan kontra UN, saya hanya menginkan perbaikan sisitem pendidiakn yang lebih baik,menyeluruh,dan mengena agar mutu dan kwalitas siswa bisa diandalkan…!!! 8->
.-= Baca juga tulisan terbaru saifuna berjudul "Tips Agar Bisa Sabar" =-.
Feb 10, 2010 @ 02:55:20
kalau itu memang keinginan kita semua, mas saif. kalau situasinya begini terus, makin repot.
Feb 06, 2010 @ 15:44:28
Kalo wempi dulu bukan di suruh menghapal, tapi mencatat, hehe….
“anak-anak buka buku blablabla halaman blabla sampai blabla, buat ringkasannya di buku catatan kalian.
ada juga tunjuk seorang teman nulis dipapan tulis dari buku bu guru, kita-kitanya nyalin ke buku catatan. knapa gak dicopy aja…?
tanya kenapa? [-(
Feb 10, 2010 @ 02:53:51
hehe … makin parah itu, mas. pendekatan CTL malah diplesetkan jadi “Cathet tinggal lunga” (siswa disuruh mencatat, gurunya pergi). doh!
Feb 06, 2010 @ 15:27:33
itu hanya pendapat sebagian orang pak. Menurut saya, dulu ketika saya masih sekolah, memang menghafal masih ada, tapi khan pelajaran tertentu. Kalau matematika, nggak mungkin menghafal saja, tetapi tetep harus sama praktek mengerjakan soal.
lha memang harus dihafal, lha bagaimana caranya sebuah pertanyaan bisa dijawab kalau materinya nggak dihafal?
trus masalah harus menurut, wong sudah diajarkan untuk menurut aja anak sekarang ini malah suka membangkang, apalagi kalau tidak diajarkan untuk menurut? bisa bisa malah lepas kontrol ke mana -mana, khan malah repot…
hehehehhe… itu hanya pendapat saya pak…
Feb 10, 2010 @ 02:52:57
bagus juga pendapatnya, mas ndop. mungkin lantaran selama ini kita sudah terbiasa hidup dikekang, mas, sehingga ketika ada kesempatan utk hidup bebas, akhirnya jadi liar tanpa kendali. dalam jangka pendek, pola pendidikan yang dialogis dan interaktif memang belum bisa memberikan perubahan yang bermakna. tapi utk jangka panjang, pola2 indoktrinatif memang sudah saatnya dihentikan. apa pun dalihnya, sistem UN tetep perlu diperbaiki.
Feb 06, 2010 @ 15:07:58
Pendidikan, sirkus dan UN.
topik pendidikan selalu saja membuat saya gimana gitu.
saya sendiri terkadang masih bingung dengan sistem pendidikan di indonesia pak, sangat aneh ketika ada seorang siswa cerdas yang berani mengkritik sistem kita malah jadi bahan tertawaan. ini pernah saya alami dengan beberapa teman kuliah ketika menyuarakan sistem penilaian yang dirasa kurang fair.
budaya pendidikan kita juga semakin terasa aneh ketika penilaian itu tidak dilakukan dengan standart tertentu misalnya pertanggung jwaban atas tugas tertentu. pernah saya temui ada mahasiswa yang dengan jelas menggunakan makalah yang pernah saya presentasikan. sama persis. dan mendapatkan nilai A. sungguh sangat memukul mental saya. padahal ketika sesi tanya jawab juga sangat tidak mengesankan.
buat Ujian Nasional memang tidak dapat dijadikan standart. masih banyak kekurangan disana -sini. pembonsaian kecerdasan, istilah Anda cukup mewakili karena pada saat saya ujian dulu pun sudah mendapatkan jawaban sebelum ujian dimulai, entah siapa dalang dibalik ini semua, yang jelas semoga mutu pendidikan kita semakin baik saja dimasa depan. dari pengajar, sistemnya dan juga guru-guru yang mampu memberikan teladan baik ketika mengalami kegagalan maupun mencapai keberhasilan
.-= Baca juga tulisan terbaru liudin berjudul "Membangun Kepercayaan diri Untuk Menjadi Public Speaking yang Efektif" =-.
Feb 10, 2010 @ 02:50:40
itulah kenyataan yang selama ini terjadi, mas udin, kecurangan massal terus terjadi dari tahun ke tahun, tapi hampir tak pernah tertangani secara serius. bukan semata2 mental mereka yang suka berbuat curang, melainkan sistem pelaksanaan UN yang selama ini sangat memungkinkan utk melembagakan dan membudayakan kecurangan itu, makin repot.
Feb 06, 2010 @ 14:55:04
sebagai yang masih dalam status dididik, blum tau bagaimana yg terbaik buat memberikan ilmu, namun memang harus ada yang perlu diperbaiki untuk tidak menjadi siswa yg instant namun dapat berkembang sesuai dg perkembangan zaman..
.-= Baca juga tulisan terbaru aRuL berjudul "Kerbau, Komunikasi dan Marketing Politik yang Berhasil" =-.
Feb 10, 2010 @ 01:37:53
hmm … posisi apa pun kita, kita perlu terus memberikan kritik dan masukan buat pemerintah, mas, agar anak2 masa depan negeri ini tdk tereduksi oleh kebijakan yang keliru.
Feb 06, 2010 @ 10:35:37
ehm,…. memang begitu keadaannya pak,… kita di giring menuju opini yang kita tidak bisa melawannya,… kasihan anak didik kita sebenarnya,….
.-= Baca juga tulisan terbaru dameydra berjudul "Listrik Pra Bayar Hematkah,…?????" =-.
Feb 10, 2010 @ 01:36:27
itulah yang terjadi selama ini dalam dunia pendidikan kita, mas damey. tapi repotnya, orang seperti kita ndak bisa melakukan perubahan, kecuali harus mengikuti kebijakan yang salah urus semacam itu.
Feb 06, 2010 @ 08:24:52
saya lebih setuju tipe soal itu esay penalaran, sehingga siswa bebas mengembangkan ide-idenya, hanya saja belum punya formula bagaimana untuk menilainya secara obyektif.
ada nilai positif yang bisa saya ambil sebenarnya dengan model esay kita tahu apakah ide anak ini murni atau nyontek habis dari temannya, meskipun kita tidak menunggui saat anak-anak mengerjakannya, hal yang tidak bisa kita lihat dari soal pilihan ganda
Feb 10, 2010 @ 01:35:17
idealnya memang demikian, mas narno. dengan soal2 bentuk esai, anak2 kita akan terbiasa utk berpikir kreatof dan multidimens. tdk sperti soal PG yang linear itu. saya juga belum mengerti kenapa pemerintah menggunakan soal PG. kalau kendalanya terletak pada soal korektor, kan masih bisa disiasati dengan cara lain yang lebih jujur dan fair.
Feb 06, 2010 @ 08:15:51
untungnya jaman saya masih sekoLah duLu..
UN nya ga parah-parah banget…
Feb 10, 2010 @ 01:33:22
syukurlah, mas hari.
Feb 06, 2010 @ 07:50:09
Perkara UN sepertinya memang tak pernah berhenti ya..
Mbok sekali-kali Pak Sawali menampilkan sejarah kenapa EBTANAS bisa disulap jadi UN yang slalu bermasalah ini, Pak…
Suwun!
.-= Baca juga tulisan terbaru DV berjudul "Leo, singa yang mengaum" =-.
Feb 10, 2010 @ 01:32:56
terima kasih masukannya, mas don. ini berkaitan dg masalah kebijakan, mas. saya sulit utk bisa memahami jalan pikiran para pengambil kebijakan, haks.
Feb 06, 2010 @ 07:04:28
Sebenernya saya juga ndak setuju dengan UN sebagai penentu kelulusan. Tapi ada baiknya hanya dijadikan salah satu parameter yang saling mensubtitusikan dengan metode lainnya. Ya mau gimana lagi, saya cuma bisa mengikuti sistem, soalnya kalau ngeyel ndak iktu UN ya saya ndak bakalan lulus. Piye Jal???
Feb 10, 2010 @ 00:58:59
hehe …. makanya perlu ada masukan dan kritik dari berbagai kalangan agar sistem pelaksanaan UN yang selama ini menjadi penentu kelulusan sehingga memicu terjadi kecurangan massal dari tahun ke tahun bisa berubah, mas.
Feb 06, 2010 @ 06:27:22
Itu dia pak Sawali. Untuk tahap kebijakan regulasi mungkin terkait dengan masalah teknis, ini pada tahap konsensus lanjutan. Namun pada awalnya adalah harus merubah mindset atau pola pikir, ini menjadi sangat sulit karena terkait dengan masalah mentalitas.
Kalau bangsa timur dikatakan kuat dipengaruhi budaya mitologi, tidak juga, buktinya Jepang bisa maju dan bangsa yang berperadaban iptek tidak mengukur pendidikan berdasarkan skor dan robotisasi, namun mental kritis dan cerdas. Jadi merubah pola pikir harus diawali dulu dari para regulator, bukannya menghukum murid karena berbeda pendapat.
>-
Feb 10, 2010 @ 00:52:12
betul sekali, mas. saya setuju banget itu, para regulator yang perlu mengubah mind-set ttg sistem pendidikan kita. merekalah yang telah banyak berkiprah melahirkan UU Sisdiknas yang ternyata memang tdk cocok dan relevan dg konteks keindonesiaan.
Feb 06, 2010 @ 05:58:27
untung dah lulus,,
nice info, best of blog
salam pak,,,,,,,,, semangat
.-= Baca juga tulisan terbaru ofaragilboy berjudul "KONEKIN : Lebih banyak – Lebih Terasaaa…!!!" =-.
Feb 10, 2010 @ 00:50:32
salam juga, mas ofa. kita doakan semoga adik2 kita lulus tanpa melakukan kecurangan2.
Feb 06, 2010 @ 05:49:26
Tapi takutnya kalau terlalu bebas tanpa remot kontrol ya bisa-bisa generasi mendatang jadi kayak Pansus. Terlalu banyak inisitatif. Putar-putar tanpa ngerem.:d:)>-
Feb 10, 2010 @ 00:49:40
hmm … memang diperlukan proses adaptasi, mas. meski demikian, pola2 indoktrinasi seperti yang berlangsung selama ini sudah saatnya dihilangkan dalam ranah dunia pendidikan kita.
Feb 06, 2010 @ 04:34:43
Pragmatisme siswa, sekolah, bahkan daerah, sudah menjadi anak kandung UN. Bahkan pada sebuah rapat di sebuah sekolah, pernah tercetus usulan dari salah satu orang tua siswa, agar sekolah tidak usah kasih materi yang macam², cukup yang mata pelajaran yang di-UN-kan saja.
Pada sisi lain, pemetaan kualitas pendidikan sebagaimana salah satu dasar pelaksanaan UN menjadi sangat tidak jelas. Pada gilirannya, tidak akan tercapai pemerataan kualitas pendidikan di negeri ini.
Saya sudah buntuk Pak, tidak menemukan cara lain kecuali,
“Hai Pelajar Indonesia, Bersatulah!”
Feb 10, 2010 @ 00:46:28
memang tdak mudah, pakacil, utk mengurai benang kusut dunia pendidikan kita yang keluar dari track-nya. mungkin harus ada kesadaran kolektif utk melakukan perubahan mendasar dalam sistem pendidikan nasional kita.
Feb 06, 2010 @ 04:22:23
era kehancuran dunia pendidikan kita sebenarnya [menurut saya] sudah mulai ketika lembaga bimbingan belajar bermunculan dan malah menjadi semacam kewajiban bagi siswa.
survey membuktikan lebih dari 90% siswa kita ikut bimbel. mereka menarik biaya mahal dengan sistem pembelajaran yang mengacaukan konsep keilmuan.
Feb 10, 2010 @ 00:42:51
betul sekali, mas dion. keberadaan bimbel bukannya membangun karakter siswa yang cerdas, melainkan justru mereduksi pengetahuan anak melalui penerapan sikap pragmatis yang salah kaprah.
Feb 05, 2010 @ 23:58:49
saya masih setuju UN diadakan, hanya saja jangan dijadikan penentu kelulusan, tetapi dapat dijadikan barometer bagi sekolah secara Nasional. Tetapi…entahlah. Salam sukses selalu.
.-= Baca juga tulisan terbaru yusami berjudul "DIALOG DENGAN DPR" =-.
Feb 10, 2010 @ 00:37:56
seharusnya memang demikian, mas yussa. banyaknya kecurangan yang terjadi akibat sistem pelaksanaan UN yang masih kacau. Un seharusnya hanya dijadikan sbg alat pemetaan mutu pendidikan secara nasional.
Feb 05, 2010 @ 23:45:05
Untuk UDAH LULUS….
rasain yg mau UAN… :d
Feb 10, 2010 @ 00:36:38
hehe … kok rasain, toh, mas, hehe … kita doakan saja semoga adik2 kita bisa mengikuti UN dengan prestasi lumayan, tanpa kecurangan.
Feb 05, 2010 @ 23:32:22
sebenarnya memang terlalu byk permasalahn yg ada di negeri ini..tidak hanya di dunia pendidikan, namun juga dengan permasalahan lain yg tidak pernah tuntas bahkan cenderung semakin runyem…hmmmm..
.-= Baca juga tulisan terbaru d-Gadget™ berjudul "Sony Ericsson Vivaz, Penerus Xperia X10" =-.
Feb 10, 2010 @ 00:35:55
memang benar, mas. negeri kita memang menghadapi persoalan yang makin rumit dan kompleks. pendidikan hanya salah satu ranah di antara sekian persoalan yang menumpuk.
Feb 05, 2010 @ 23:28:33
sedemikian parahkah dunia pendidikan di negeri ini pak? memang sangat di perlukan adanya upaya serius untuk menata ulang sistem penyelenggaraan dan pelaksanaan UN agar jangan sampai menumpulkan, apalagi mematikan, daya kecerdasan dan kreativitas anak-anak bangsa..betul sekali itu…mudah²an aja yak.
salam, ^_^
.-= Baca juga tulisan terbaru Didien® berjudul "Kiat Menghalau Pembobolan Rekening" =-.
Feb 10, 2010 @ 00:35:02
sebenarnya trend pendidikan kita sudah mulai membaik, mas didien. sayangnya, kebijakan UN masih menjadi persoalan rutin tahunan.
Feb 05, 2010 @ 23:24:52
kapan negeri in mau maju klu sistem pendidikanya seperti itu, mematikan potensi siswa dan terlalu berorientasi pada angka kelulusan bukan kualitas yang sesungguhnya, contoh dong negara tetangga seperti singapura dan malaysia
.-= Baca juga tulisan terbaru bule berjudul "Earn Money From Twittad" =-.
Feb 10, 2010 @ 00:27:57
itulah ironi yang terjadi di negeri ini, mas. konon dulu malaysia berguru ke negeri kita. hmm … sekarang malah sebaliknya. doh!
Feb 10, 2010 @ 00:27:57
itulah ironi yang terjadi di negeri ini, mas. konon dulu malaysia berguru ke negeri kita. hmm … sekarang malah sebaliknya. doh!
Feb 05, 2010 @ 23:21:48
UN seperti moment yg sangat menakutkan bagi semua siswa yg akan mengahadapinya ya pak?:o
Mudah²an ada solusi ttg hal ini, setidaknya lulusannya tetap berkualitas tidak seperti robot..
.-= Baca juga tulisan terbaru Caride™ berjudul "Minta Maaf Lewat Telinga Kanan" =-.
Feb 10, 2010 @ 00:27:10
hmm … menakutksn sesungguhnya lebih disebabkan oleh pencitraan, mas caride.
Feb 05, 2010 @ 23:12:57
kurikulum pendidikan di republik ini perlu diubah…pendidikan tidak selaras dengan dunia kerja
Feb 10, 2010 @ 00:25:54
setuju, mas. semoga saja para pengambil kebijakan memperhatikan situasi dan tuntutan zaman seperti itu.
Feb 05, 2010 @ 22:34:47
sebagai seorang murid saya merasakan hal2 yang diatas.. [-( , selain itu menurut saya di Indonesia pendidikannya kurikulumnya masi melebar, kurang fokus.. alangkah baiknya setelah lulus smp bisa fokus ingin jadi apa, punya kompetensi apa, sudah banyak si pendidikan seperti itu.. tapi masi pendidikan swasta, klo negeri masi kurang.., paling SMK, untuk di kampus/universitas juga masi melebar2, dari semester satu sampai enam dikasi semua, semester 7 dan 8 bingung blom punya kompetensi spesifik.. ditanya bisa apa?, bisa semua.. tapi ga ada yang mahir, tau semua tapi ga dalam.. *curhat seorang siswa/mahasiswa
* , kita dituntut mahir semua hal.., alangkah lebih baik tau sedikit tapi ahli, daripada tau banyak cuma kulit2nya saja.. :d/ , walaupun saya tidak menyangkal sudah tugas siswa atau mahasiswa untuk mengexplore sendiri lebih jauh.. karena sudah dikasi tau kulitnya.. fuihhh.. jadi curhat saya pak.. xixixi.. :”>
.-= Baca juga tulisan terbaru spydeeyk berjudul "Hanif Sjahbandi – Anak Indonesia Yang Berkesempatan Merumput di MU (Photos)" =-.
Feb 10, 2010 @ 00:24:07
setuju banget, mas haris. inilah salah satu kelemahan mendasar dunia pendidikan kita. murid dicekoki banyak ilmu dan teori, tapi tanpa pendalaman. maka, banyak pengamat bilang, dunia pendidikan kita hanya melahirkan “generasi gagap”, haks.
Feb 05, 2010 @ 22:22:39
itulah indonesia, hanya ada di atas gak mau di praktekan, kalupun bisa cari yang di luar sana
Feb 10, 2010 @ 00:22:28
hmm … repot juga ya, mas kalau situasi seperti ndak berubah.