09Jul 2010 124 Comments2,485 pembaca
Peradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati
(Kisah ini merupakan bagian ke-14 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3), Angin Reformasi Berhembus Juga di Negeri Kelelawar (4), Menyiasati Kecamuk Separatisme di Negeri Kelelawar (5), Kekuasaan Negeri Kelelawar dalam Kepungan Ambisi Petualang Politik (6), Isu Dekrit Presiden di Negeri Kelelawar (7), Premanisme Merajalela di Negeri Kelelawar (8), Geger Ujian Nasional di Negeri Kelelawar (9), Terang Bulan Tak Ada Lagi di Negeri Kelelawar (10), Gerakan Apolitis Kaum Muda Negeri Kelelawar (11), Negeri Kelelawar Menjadi Sarang Koruptor (12)), dan Senjakala di Negeri Kelelawar (13))***
Siapa bilang Negeri Kelelawar tak mengenal peradaban? Siapa pula yang bilang kalau negeri seribu ngarai dan lembah itu mengalami stagnasi? Lihat saja kasus yang tak pernah berhenti menggoyang panggung hukum, sosial, dan politik negeri itu. Hampir semua celah tak pernah sepi dari persoalan, mulai yang kelas remeh-temeh hingga yang kelas berat. Kecamuk persoalan yang tak pernah usai tertuntaskan bisa jadi bukti kalau peradaban negeri Kelelawar itu ada. Terlepas apa pun jenis peradabannya, yang jelas peradaban negeri Kelelawar tak pernah ada matinya. Ratusan juta rakyatnya akan terus menggeliat dan bergerak memenuhi tuntutan takdirnya.
Walhasil, ketika kasus pelemahan KPKK (Komisi Pemberantasan Kelelawar Koruptor) ditengarai hendak mencapai titik terang, kelelawar koruptor yang nyata-nyata terbukti melakukan percobaan penyuapan, tak pernah berhenti melakukan perlawanan. Didampingi pengacara-pengacara “hitam”, mereka melakukan berbagai macam cara dengan membangun pencitraan publik bahwa komplotannya berada di pihak yang benar. Celakanya, aparat penegak hukum yang seharusnya punya nyali untuk memancung pesakitan yang nyata-nyata bersalah dengan pedang keadilannya, justru berputar-putar dengan berbagai dalih hukum untuk ikut-ikutan melemahkan KPKK. Mereka menjadi loyo dan tak berdaya di hadapan koruptor kelas kakap. Yang tak kalah menggelikan, kelelawar pelapor kasus korupsi justru dicari dosa dan kesalahannya, hingga jadi bumerang dan blunder buat sang pelapor itu sendiri. Sebuah preseden hukum yang bisa berakibat fatal dalam upaya menciptakan atmosfer hukum yang sehat. Para kelelawar yang punya setumpuk bukti kasus penilapan uang negara di berbagai lapis dan lini birokrasi, jadi ciut nyalinya. Mereka takut justru akan malah jadi tersangka. Tak perlu heran jika negeri Kelelawar yang terkenal korup, penjara justru dipenuhi oleh para jompo, anak-anak jalanan, maling ayam, atau preman kelas teri. Para koruptor masih saja bebas bergentayangan menikmati gelimang kemewahan di luar tembok penjara.
Sampai kapan pun, korupsi di negeri Kelelawar tak pernah tuntas tertangani selama aparat penegak hukum “berselingkuh” dengan uang dan kekuasaan. Mereka tak pernah bisa memburu para koruptor kalau mereka sendiri justru terindikasi berbuat korup. Mana bisa lantai yang kotor dibersihkan oleh sapu yang kotor pula? Maka, jadilah pengadilan kasus korupsi di negeri ini tak ubahnya sebuah dagelan yang mempertontonkan sekaligus memperlihatkan kepiawaian bersilat lidah dalam menafsirkan ayat-ayat hukum. Mereka yang fasih memperalat dan menafsirkan ayat-ayat hukum dengan gaya parlente dan percaya diri cenderung akan menang citra. Itu artinya, koruptor yang telah menciptakan jutaan rakyat negeri Kelelawar tersekap dalam kemiskinan dan keterbelakangan bisa jadi malah menjadi pahlawan yang dipuja dan dielu-elukan. Mungkin ada benarnya kalau ada yang bilang, antara pahlawan dan pecundang itu hanya sebatas dilapisi kain transparan.
Peradaban negeri Kelelawar memang tak akan ada matinya, tetapi saat ini sedang dalam keadaan sakit. Baru ada dalam sejarah negeri Kelelawar, kebijakan pemerintah justru memakan korban rakyatnya sendiri. Di balik sukses aparat keamanan menggulung sarang teroris, justru pemerintah menciptakan teror bom sosial yang bisa mengancam dan meledak setiap saat. Entah, sudah berapa rakyat yang jatuh menjadi korban ledakan tabung elpiji. Dengan penuh kearifan, rakyat seharusnya mendapatkan perlindungan dan pengayoman agar mereka terbebas dari rasa takut dan tertekan. Mereka yang diduga terlibat di balik kebijakan penggunaan tabung elpiji mesti diusut tuntas dan harus mempertanggungjawabkan perbuatan brutal dan biadabnya. Sudah terlalu lama rakyat negeri Kelelawar menjadi “tumbal” kebijakan yang kurang menyentuh pada nasib dan kehidupan rakyat banyak.
Akibat carut-marutnya kepastian hukum dan buruknya manajemen negara, rakyat negeri kelelawar yang sudah merasa muak mencari cara sendiri untuk menyelesaikan masalah sosial yang mereka hadapi. Demo berbau fasis dan bar-bar pun marak terjadi di mana-mana. Hampir tak ada demo yang berlangsung damai dan tanpa kekerasan. Mereka yang tidak sepaham, tak jarang melakukan gontok-gontokan untuk melampiaskan naluri agresivitasnya. Sungguh, ini penyakit sosial yang tidak datang begitu saja, tetapi melalui rentetan peristiwa yang saling terkait dan berkelindan begitu kompleksnya. Yang tak kalah menggelitik, di tengah ancaman penyakit sosial semacam itu, pemerintah mengambil sikap untuk mempersenjatai Satuan Polisi Pamong Praja. Bukankah ini sama saja kekerasan versus kekerasan? Bagaimana mungkin rakyat yang dinilai tidak tertib harus dihadapi dengan senjata? Akar masalah yang seharusnya dituntaskan adalah apa yang menyebabkan rakyat berbuat tidak tertib; anak jalanan merajalela, pedagang kaki lima menumpuk di trotoar, atau gubug-gubug kumuh dan liar yang bertebaran di pinggiran kota. Situasi sosial seperti ini yang seharusnya dicermati, diperhatikan, dan diselesaikan oleh aparat negeri Kelelawar dengan cara yang arif agar rakyat tidak selalu menjadi “tumbal”. Bukan dengan menaburkan ancaman kekerasan di tengah-tengah masyarakat yang sedang agresif dalam menemukan jati dirinya.
Ya, ya, ya, peradaban negeri Kelelawar memang sedang dalam kondisi sakit. Dalam situasi seperti itu, dibutuhkan keteladanan dan kearifan bertindak dari kaum elite penguasa negeri Kelelawar dengan mengutamakan perbaikan nasib rakyat yang sudah lama hidup terlunta-lunta dalam perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Konon, sejarah akan sangat dipengaruhi oleh relasi kekuasaan, tidak berjalan linier dan ideal seperti yang diharapkan. Bersikap arif berarti memandang setiap peristiwa secara realistis dan humanis, lantas berupaya menyelesaikannya dengan cara-cara yang realistis dan humanis pula. *** (bersambung)
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Peradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (9 July 2010 @ 15:24) pada kategori Negeri Kelelawar, Sastra dan telah dikunjungi oleh 2,485 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Sep 16, 2011 @ 09:12:48
waw
cerita yang menarik,,
semoga bisa buat yang lebih menarik lagi yach pak..
Jul 05, 2011 @ 11:45:01
makasih infonya
Jul 27, 2010 @ 13:20:02
blognya bagus,
salam kenal….
need IT???
http://www.linovtech.com
Jul 27, 2010 @ 18:13:12
salam kenal juga, mas aris. terima kasih apresiasinya.
Jul 17, 2010 @ 01:24:14
Wahhh.. bagus nih ceritanya… hehehe
Good luck brother :)
Jul 20, 2010 @ 15:22:03
walah, biasa saja kok, mas, sekadar tulisan slengekan.
Jul 15, 2010 @ 13:35:42
mudah-mudahan negeri kelelawar bisa cepat damai
Jul 15, 2010 @ 17:24:45
amiiin, semoga bisa segera terwujud.
Jul 15, 2010 @ 12:44:48
artikelnya bagus sekali, thanks\:d/
Jul 15, 2010 @ 17:23:29
ok, makasih atas apresiasinya, mas doris.
Jul 15, 2010 @ 01:52:24
Salam kenal prend….
Kalau dari mulai yang kecil sudah didik untuk terus lurus, tentunya akan kecil kemungkinan hal-hal yang terjadi di negeri kelelawar
contoh:
untuk melanjutkan ke sebuah jenjang pendidikan saja, sekarang ini…
uang dijadikan sebagai syarat utamanya….waduh..waduh…belum dengan yang lain. entah pejabat tinggi, pertahanan dan yang lain…
sungguh mengenaskan….
Jul 15, 2010 @ 17:17:13
wah, itu yang terjadi di indonesia. agaknya negeri kelelawar pun mengalami hal serupa, mas, hehe …
Jul 14, 2010 @ 20:39:16
walau bagai mana pun itulah adanya..
kalo pengen berubah ya harus kita yagn mulai..
Jul 15, 2010 @ 17:15:38
betul sekali. semua perlu dimulai dari lingkungan terkeci. lama2 pasti akan menjadi sebuah kekuatan kolektif.
Jul 15, 2010 @ 19:18:45
@Sawali Tuhusetya, yup…begitulah lebihkurang nya…
Jul 14, 2010 @ 16:22:12
artikelnya bagus sekali, thanks
Jul 15, 2010 @ 17:13:12
ok, makasih support dan apresiasinya, bos!
Jul 14, 2010 @ 15:51:01
Kita yang tak bergelar profesor
yang tak berkursi jabatan
bisa memotret bahwa ada kemunduran
dalam peradaban
dalam tata kehidupan
Tetapi mereka yang besar
abai saja
kejayaan bangsa seperti
tak ada dalam kosa kata kamus mereka
selain kekayaan sendiri
Jul 15, 2010 @ 17:12:50
wah, sungguh ironis, ya, mas. kalau dipikir-pikir, sesungguhnya kontribusi apa yang telah mereka berikan utk bangsa dan negaranya?
Jul 14, 2010 @ 11:08:32
nice artikel, lanjutkan!!
Jul 14, 2010 @ 08:21:03
“Sampai kapan pun, korupsi di negeri Kelelawar tak pernah tuntas tertangani selama aparat penegak hukum “berselingkuh” dengan uang dan kekuasaan”.
setuju mas, klo sudah atasan berselingkuh, bawahan dan rakyatpun akan mengikuti. Seakan-akan korupsi dan sogokan sudah menjadi budaya, sulit untuk diberantas
Jul 15, 2010 @ 17:08:34
itulah yang mencemaskan, mas. kalau uang dan kekuasaan sudah menyatu, agaknya butuh waktu lama utk bisa menceraikan mereka, hiks.
Jul 13, 2010 @ 22:04:38
makin lama negeri ini kian carut marut..! (doh)
Jul 15, 2010 @ 17:04:54
tantangan juga buat anak muda, om.
Jul 13, 2010 @ 16:24:47
baca du lu yaa Pak.
apa kabar?
Jul 15, 2010 @ 16:56:45
alhamdulillah, baik dan sehat, pak hadi. semoga demikian juga dg pak hadi dan keluarga. ngbelognya masih jalan terus, kan, pak?
Jul 13, 2010 @ 14:48:36
Para koruptor masih saja bebas bergentayangan menikmati gelimang kemewahan di luar tembok penjara, bagaimana hal tersebut terus terjadi? Masyarakat hakim sebenarnya
Jul 15, 2010 @ 16:55:21
nah, itu dia yang selalu dipertanyakan, mas endra. mungkin hukum di negeri kelelawar perlu direformasi juga!
Jul 13, 2010 @ 13:05:13
Apakah peradaban bar2 ini akan terus berlangsung atau setidaknya bisa diminimalisir. Sepertinya perlu kesungguhan dari para pejabat di negeri kelelawar untuk mengubah tatanan kehidupan kearah yang lebih baik, terutama dengan penegakan hukum yang seadil-adilnya tanpa dicampuri oleh urusan politik.
Jul 15, 2010 @ 16:50:25
butuh kolektivitas dan kebersamaan, mas ifan. segenap komponen bangsa kelelawar mesti bergerak bersama.
Jul 13, 2010 @ 12:11:59
selama ini pejabat korup lebih banyak jumlahnya daripada yg bersih…bagaimana yg “bersih”-”bersih” ini dikloning aja mulai sekarang :)>-
Jul 15, 2010 @ 16:46:49
hehe …. memang bisa di-clone, mas pradna, hiks. kalau bisa, saya setuju banget itu, haks.
Jul 13, 2010 @ 10:16:24
Kekerasan akan terus terjadi selama negri kita masi banyak ketidak adilan…hualahualla
Jul 15, 2010 @ 16:42:00
bisa jadi, mas. kekerasan bisa saja muncul sbg imbas ketidakadilan tadi.
Jul 12, 2010 @ 17:33:14
hahaha lucu gambarnya tapi lagi malas baca :((
Jul 12, 2010 @ 19:46:25
walah, ndak usah baca, mas. cukup nikmati aja gambarnya, haks.
Jul 12, 2010 @ 16:39:10
jadi bingung mau koment apa….
spechless
Jul 12, 2010 @ 19:45:58
hehehe …. kok bisa?
Jul 12, 2010 @ 15:49:39
Menggelikan sekali ya pak negerinya.. kok sama ruwetnya dengan negeriku.. :-?
Jul 12, 2010 @ 19:45:34
hehehe …. sama tapi mungkin tak sebangun, pak, hehe …
Jul 12, 2010 @ 15:00:07
Saya rasa sampai kiamat pun penyakit kronis dan akut korupsi di Indonesia tidak akan bisa di berantas.
Jul 12, 2010 @ 19:45:08
kalau di negeri kelelawar gimana, mas marada? jangan2 sama saja, yak, haks.
Jul 12, 2010 @ 10:27:39
jangankan kan diriku…. semutpun kan marah bila selalu…. sakit begini… ( alm meggy z ) sejarah selalu berulang 66… 98… setelah ini kapan lagi….rakyat sudah lelah… muak dengan pertunjukan sandiwara yg semakin tidak lucu…….. naik..turun….naik…turun….. :-\”:-\”
Jul 12, 2010 @ 19:44:20
hehe … ini kisah di negeri kelelawar, loh, mas firdaus, hehe ….
Jul 13, 2010 @ 09:35:36
@Sawali Tuhusetya, iya pak… di tahun 66 dan 98 rakyat di negeri kelelawar juga pernah marah kok :D
Jul 12, 2010 @ 09:40:23
smoga perubahan akan terjadi di negri ini
Jul 12, 2010 @ 19:43:49
amiiin, itulah yang kita harapkan, mas zackhy.
Jul 12, 2010 @ 09:37:40
sukses ya pak bwt crita negeri kelelawarnya
Jul 12, 2010 @ 19:43:05
terima kasih apresiasi dan supportnya, mas faizal.
Jul 11, 2010 @ 11:55:39
sebenarnya saya baru tahu nih ada peradaban negeri kelelawar
Jul 12, 2010 @ 19:17:21
hehe …. tergantung yang bikin kisah, mas eko, haks.
Jul 11, 2010 @ 10:57:12
kalo korupsi sudah membudaya, sulit untuk di hilangkan.
Jul 12, 2010 @ 19:16:00
hmmm …. minimal menguranginya, mas sandy.
Jul 11, 2010 @ 01:09:36
sepertinya, kalau masalah politik yang seperti kasus negeri kelelawar, sangatlah membuat pusing. Entah bagaimana cara untuk memenuhi ‘hasrat’ mereka.
Jul 12, 2010 @ 19:15:06
ada benarnya juga, mas norland. bukan hanya soal politik, melainkan juga pada ranah yang lain.
Jul 10, 2010 @ 21:52:25
selama para penegak hukum masih bertuhan sama uang, negeri kelelawar sulit untuk maju pak ;)
Jul 12, 2010 @ 19:14:30
bisa jadi seperti itu, mas arif. bener2 makin repot dan kompleks.
Jul 10, 2010 @ 20:13:32
Sukses terus buat kisah negeri kelelawarnya yang tak kan pernah mati
Jul 12, 2010 @ 19:13:44
hehe …. terima kasih support dan apresiasinya, mas rifky.
Jul 10, 2010 @ 15:40:44
edan semua! …. :((
Jul 12, 2010 @ 19:12:20
hmm …. sebenarnya masih banyak juga yang waras, loh, mas.
Jul 13, 2010 @ 14:04:27
@Sawali Tuhusetya, yang warasnya dikeroyok sama wong edan pak guru :d
Jul 15, 2010 @ 16:52:19
doh!
Jul 10, 2010 @ 14:38:12
susah buad brubah . :-\”
Jul 12, 2010 @ 19:11:21
hmmm…. perubahan sangat mungkin terjadi apabila para penyelenggara negara memang punya komitmen kuat utk melakukannya.
Jul 10, 2010 @ 14:08:25
Memalukan sekali negeri kelelawar semakin semau gue, yang salah se-akan2 benar yang benar dijebloskan ,semakin amburadul , tapi rakyat negeri kelelawar tahu pasti biang malingnya.
Jul 12, 2010 @ 19:10:46
itulah yang membuat rakyat makin bingung, hehe …
Jul 10, 2010 @ 14:06:14
cihuuuyyyyyyy….aku suka timplet yg ini…^^
Jul 12, 2010 @ 19:10:00
hehe …. makanya saya kembali ke template ini lagi, dok, hiks.
Jul 10, 2010 @ 13:55:39
sepertinya sulit atau dapat dikatakan hampir mustahil apabilamengharapkan negeri klelawar bisa tentram dan sebagainya…perilakunya sudah mendarah daging…:d
Jul 12, 2010 @ 19:09:37
hmmm …. ada benarnya juga, bos, selama para penyelenggara negara tdk menjadikan rakyat sbg subjke, tapi hanya sekadar sbg objek belaka.
Jul 10, 2010 @ 13:15:29
Waduh, saya bacanya lompat-lompat, pak.
Jadinya separuh mudeng, separuhnya lagi puyeng. :D
Kayanya harus di-save dulu nih, trus di-print, baru dibaca sambil makan kacang goreng. ^_^
Jul 12, 2010 @ 19:08:45
mangga, bung eko. matur nuwun.
Jul 10, 2010 @ 12:45:40
saya nggak yakin akan membaik, sebelum aparatnya masih saja menjadi budak uang dan kekuasaan
Jul 12, 2010 @ 19:08:25
walah, mas santri pesimis amat, haks. tapi sangat masuk akal itu.
Jul 10, 2010 @ 11:19:02
hum…kalau dipikir-pikir melihat kelakuan mereka itu seperti nonton sinetron aja…haha…:d
Jul 12, 2010 @ 19:07:23
hehe … bahkan lebih seru ketimbang sinetron, mbak ros.
Jul 10, 2010 @ 10:40:27
Wah di negeri kelelawar ini mustinya ada Batman dan Robin ya Mas…
He he he…
Jul 12, 2010 @ 19:06:54
hehehe ….. tapi bukan kakek-moyangnya rakyat negeri kelelawar itu, loh, mas.
Jul 10, 2010 @ 10:14:42
Polisi negeri kelelawar yang sudah lama dalam menggunakan senpi saja masih sering emosional. Jadi, semakin ngerilah kalau satpol pp negeri kelelawar, yang hanya berhadapan dengan rakyat rendahan itu, ada niat diberi senpi.
Jul 12, 2010 @ 19:06:21
komentar pak sungkowo yang ini sempat ditelan akismet, hehe ….
Jul 10, 2010 @ 10:14:16
:x pak sawal, bener sekali yang dicari adalah akar permasalahannya. Kalo saya bilang lebih tepat dari sisi permasalahan adalah budaya yang ada di negara kita ini sudah carut marut. hukum tidak berlaku dengan baik karena pembuat hukumnya sendiri dengan sadar melanggarnya dan beberapa masyarakat seakan tidak mau tau hukum tersebut baik untuk mereka. :-w
Jul 12, 2010 @ 19:06:24
idealnya konon memang seperti itu, mas putut. menyelesaikan masalah2 kenegaraan memang butuh kearifan, selain harus menggunakan perangkat hukum atau UU yang sdh ada.
Jul 10, 2010 @ 10:10:29
Polisi negeri kelelawar yang sejak dulu dikasih senpi,yang tentu telah berpengalaman saja, ternyata sering kita jumpai penggunaannya masih beralas emosional. Maka, semakin ngerilah kalau ada niatan pemerintah negeri kelelawar hendak memberikan senpi pada satpol PP negeri kelelawar, yang senantiasa menghadapi rakyat rendahan. Aduh…aduh….!
Jul 12, 2010 @ 19:04:23
itulah yang dikhawatirkan, pak sungkowo. kalau satpol PP diberi fasilitas senjata, doh, ndak tahu apa yang akan terjadi. pakai pentungan saja banyak yang jatuh korban, kok.
Jul 10, 2010 @ 07:47:10
sekarang jadi negeri tikus pak
Jul 10, 2010 @ 15:42:10
@suryaden, itu maunya si dagu
Jul 12, 2010 @ 19:02:55
walah, malah makin parah, haks.
Jul 10, 2010 @ 06:12:31
semoga kedepannya lebih baik,,,
Jul 12, 2010 @ 19:02:39
amiiin, itulah yang diharapkan.
Jul 10, 2010 @ 05:00:51
kelelawar memang harus banyak diatur biar ngak ngerepotin.
Jul 12, 2010 @ 19:02:18
hehehe …. boleh, asal jangan sampai diindoktrinasi, haks.
Jul 10, 2010 @ 02:13:19
mungkinkah perubahan seperti itu terwujud di negara
Jul 12, 2010 @ 19:00:52
sangat mungkin bisa, mas fajar. tergantung komitmen warga dan pemerintahnya.
Jul 10, 2010 @ 01:20:03
setiap kali saya tenggelam dalam kisah di negeri kelelawar, saat itu pula saya merasa dalam ruang besar yang amat terasa kerdil. Adakah di sana ratu adil? atau juga hanya sekadar mitos?
Jul 12, 2010 @ 18:59:50
hmm …. begitukah? wah, cerita ttg ratu adil itu, sebagian besar masyarakat negeri kelelawar sebatas menganggapnya sbg mitos belaka, mas zen, hehe …
Jul 10, 2010 @ 00:50:59
Sedih dan menangis menatap aklaq negeri ini
Jul 12, 2010 @ 18:58:52
itulah yang terjadi di negeri kelelawar, mbak ajeng.
Jul 09, 2010 @ 22:47:55
kapan yah .. negeri kelelawar bisa damai, tentram, adil dan makmur … ???
Jul 12, 2010 @ 18:57:51
setiap saat bisa, mas bayu, kekeke ….. tergantung yang bikin kisahnya, haks.
Jul 09, 2010 @ 22:46:24
wah sudah lama sekali saya tidak mengikuti cerita negeri kelelawar pak …
lagi konflik masalah penggunaan senjata juga yah pak di negeri kelelawar ….
heee …:d
Jul 12, 2010 @ 18:56:55
hehe … kisah negeri kelelawar memang tak selalu rutin saya posting, mas bayu. nulis kisah ini kalau memang lagi enjoy nulisnya, hiks.
Jul 09, 2010 @ 22:42:11
Cukup berat menanggapi hal ini,
tapi memang itu yang sedang dihadapi oleh penduduk negeri kelelawar…
Jul 12, 2010 @ 18:41:26
bener banget mas alam, memang rumit dan kompleks persoalan yang sedang dihadapi rakyat negeri kelelawar, hiks.
Jul 09, 2010 @ 20:06:58
negeri kelelawar itu udah terbentuk secara alamiah..tapi bisa dibongkar..
layaknya goa, rumah dari kelelawar, emang bentukan alam, tapi bisa digusur koq…
hahaha, pake apa yah
Jul 09, 2010 @ 22:55:51
hehe …. mungkin ada benarnya, mas. tapi bukan tidak mungkin bisa dilakukan perubahan, selama semua rakyat negeri kelelawar menghendakinya.
Jul 09, 2010 @ 19:33:21
membersihkan lantai yang kotor dengan sapu yang kotor, memang susah sekarang menemukan sapu yang benar-benar bersih dan membersihkan.
Jul 09, 2010 @ 22:54:43
hiks, mungkin memang bukan hal yang mudah, mas nug, tapi bukan mustahil, kan?
Jul 09, 2010 @ 19:18:20
‘ Sampai kapan pun, korupsi di negeri Kelelawar tak pernah tuntas tertangani selama aparat penegak hukum “berselingkuh” dengan uang dan kekuasaan ‘
Negeri kelelawar itu kok seperti negeriku sendiri ya, INDONESIA.
Jul 09, 2010 @ 22:54:11
hehe … bisa jadi itu perasaan pak deni, hihihihi …
Tweets that mention Catatan Sawali Tuhusetya -- Topsy.com
Jul 09, 2010 @ 18:24:56
[...] This post was mentioned on Twitter by Sawali Tuhusetya. Sawali Tuhusetya said: Peradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati: (Kisah ini merupakan bagian ke-14 dari serial “Negeri Kelelawar”. http://bit.ly/df2OBx [...]
Jul 09, 2010 @ 17:42:58
Semoga Tuhan membukakan hati dan pikiran rakyat serta pemimpinnya… Amiin
Jul 09, 2010 @ 22:53:44
amiiiin, mudah2an seperti itu, mas reza.
Jul 13, 2010 @ 10:27:23
@Reza, Tuhan buka tapi manusia yang nutup diri…tuhan bosan liatin kita yang ngga perna tobat
Jul 09, 2010 @ 17:20:17
Sudah saatnya peradaban negeri kelelawar direfom,,, terutama bidang Hukum….
Jul 09, 2010 @ 22:53:22
betul, mas tengku, mungkin bukan hanya di bidang hukum, melainkan juga bidang lain yang tak kalah pentingnya buat kesejahteraan rakyat negeri kelelawar.
Jul 09, 2010 @ 17:07:15
Dan entah sampai kapan Negri Ini akan tetap seperti ini!!
Menunggu perubahan yang kayaknya sulit untuk diwujudkan (sad)
Jul 09, 2010 @ 22:52:39
hmmm … ini peristiwa di negeri kelelawar loh, mas jidat. mudah2an saja perubahan itu segera bisa terwujud.
Jul 10, 2010 @ 19:54:04
@Sawali Tuhusetya, Amin pak Sawali, mari kita berjuang!! (bringit)
Jul 12, 2010 @ 19:13:27
sip! ayo!
Jul 09, 2010 @ 16:05:42
Izin menyusuri ceritanya mulai dari Awal…
Jul 09, 2010 @ 22:52:03
mangga, terima kasih kalau berkenan membacanya.
Jul 09, 2010 @ 16:04:00
mengamankan yang pertama dulu..
Jul 09, 2010 @ 22:51:39
hehe …. mangga, bang iwan, dilanjut.